ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH DAN TINGKAT SUKU BUNGA KREDIT TERHADAP DAYA BELI KONSUMEN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ekonomi merupakan refleksi dari perilaku manusia, yang dikatakan sebagai “rational self-interest” (Mc-Connell & Brue, 2008)[1]. Rational self-interest dapat diinterpretasikan sebagai peningkatan pada pendapatan, pinjaman, suku bunga, dan keuntungan yang membuat seseorang mampu memenuhi kebutuhannya. Setiap individu berusaha untuk mencapai standar kepuasan melalui konsumsi produk dan jasa, dengan mengalokasikan sumber daya,  uang, waktu, dan lain-lain demi mencapai kepuasan. Masalahnya terletak pada keterbatasan sumber daya. Kelangkaan dan ketersediaan barang dan jasa dalam sebuah negara akan merefleksikan tingkat pertumbuhan ekonomi. Udoka & Roland (2012) menyatakan bahwa tingkat suku bunga merupakan salah satu penentu dari pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya juga mempengaruhi daya beli konsumen[2].

Berbagai macam negara berada dalam tahap berkembang seperti Indonesia, dapat dikatakan memiliki pertumbuhan ekonomi yang rentan terhadap gejolak yang terjadi di negara maju, seperti Amerika Serikat, China, negara-negara di Eropa, dll (Bank Indonesia, 2013). Dalam kasus ini, Indonesia dianggap memiliki pertumbuhan ekonomi yang signigikan dan mampu bertahan. Hal ini dapat dilihat dari stabilitas Indonesia dan ketahanannya dalam krisis global tahun 2008 yang lalu, dimana Indonesia mampu melanjutkan pertumbuhan ekonominya, khususnya setelah krisis tahun 2008 berakhir (Bank Indonesia, 2013). [3]

Sejenak mengulas balik krisis finansial global yang melanda ekonomi Indonesia pada pertengahan September 2008, yang dapat dilihat pada guncangan harga saham, nilai rupiah yang sangat terdepresiasi, dan peningkatan obligasi pemerintah secara signifikan. Proses deleveraging pada pasar keunagan global menyebabkan likuiditas global mengering, sehingga mendorong investor untuk menyusun kembali portfolio mereka, termasuk Indonesia. Proses repricing yang dihadapi oleh investor dengan resiko persepsi yang tinggi telah mendorong aliran modal keluar dari emerging markets. Harga pasar saham regional berusaha diperbaiki sekuat tenaga, sehingga pasar obligasi regional yang menuntut yield lebih tinggi serta aliran modal keluar yang besar memberikan tekanan yang hebat pada sebagian besar mata uang di regional Asia.[4]

Setelah berhasil melewati krisis tersebut dan memulihkan perekonomiannya, Indonesia tercatat dan masuk sebagai tiga negara terbesar pertumbuhan ekonominya pascakrisis keuangan global, dimana mencapai 4,5% pada 2009 dan melonjak 6,02% pada tahun 2013 (triwulan ke-2). Pada tahun 2014 ekonomi Indonesia mengalami pelambatan karena krisis yang terjadi di eropa menjadi 5.3% akan tetapi pada tahun 2015 diperkirakan akan kembali tumbuh diperkirakan sebebesar 5,4% – 5,8%. Pertumbuhan tersebut tentunya menciptakan kondisi yang lebih baik, terutama dalam hal kesejahteraan masyarakat. Alhasil, pendapatan masyarakat Indonesia turut terdongkrak naik.  Fakta ini ternyata tidak bertolak belakang dengan hasil survey MARS di 5 kota besar pada awal tahun 2015 ini. Berdasarkan survey tentang Perilaku Belanja Konsumen Indonesia tersebut, status sosial ekonomi masyarakat atau konsumen kita mengalami pergeseran cukup signifikan, terutama konsumen di SES A dan B yang meningkat 20%, sementara konsumen di SES C dan D/E mengalami penurunan[5].

Pasar retail Indonesia merupakan salah satu indikator yang menonjol dari daya beli konsumen, karena menunjukkan kepekaan dan gairah end-consumer terhadap aktivitas konsumsi. Pasar retail Indonesia dicirikan dengan ukurannya yang beragam. Hal tersebut memberikan peluang yang terhitung bagi perusahaan consumer business untuk membentuk konsumen yang massif dan masih bertumbuh saat ini, meliputi konsumen kelas menengah (middle class), konsumen digital (digital consumers), seiring dengan meningkatnya kota-kota yang semakin maju di luar Jakarta. Ketika banyaknya konsumen dalam kategori pendapatan rendah (low income) bertransisi ke segmen pendapatan menengah (middle income) – secara luas ditentukan dengan pendapatan rumah tangga tahunannya antara  36 juta rupiah sampai dengan 120 juta rupiah – menjadi semakin meningkat dalam hal spending habit dan pilihan produknya.

Dalam survey yang dilakukan oleh Deloitte (2015)[6], dapat diketahui point pola belanja yang terjadi pada rumah tangga dengan tingkat pendapatan sebesar 5 juta rupiah per bulan. Rumah tangga dengan tingkat pendapatan seperti di bawah ini cenderung membelanjakan hampir 100% dari pendapatan mereka setiap bulan.

Gambar 1. Pengeluaran Bulanan Rata-rata Rumah Tangga

Sumber: Delloite (2015)

Konsumsi rumah tangga memberikan sumbangsih yang besar terhadap ekonomi Indonesia dengan kontribusi 50%-60%. Dengan berbagai tekanan yang terjadi tahun ini, dorongan konsumsi masyarakat tidak akan maksimal. Rupiah yang melemah signifikan dan serapan belanja pemerintah yang masih minim menjadi alasan konsumen urung membelanjakan uangnya. Prediksi ini senada dengan hitungan BI yang memperkirakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga 2015 sebesar 4,92%.[7] Bank Indonesia sebagai otoritas moneter memegang kendali yang sangat strategis dalam menciptakan kebijakan moneter yang stabil dalam perekonomian nasional, Namun dalam perjalanannya kebijakan Bank Indonesia yang dibuat atau kebijakan yang diambil Bank Indonesia menjadi tidak efektif dan bahkan tidak efisien sebagaimana yang dinginkan oleh bank Indonesia terhadap kebijakan tersebut untuk perekonomian.

Kondisi ekonomi Indonesia yang belum menggairahkan kini semakin terlihat, setelah Bank Indonesia mengindikasikan adanya pelemahan keyakinan konsumen pada Desember 2014. Ini menunjukkan tren penurunan persepsi masyarakat terhadap ekonomi domestik dalam 6 bulan terakhir. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember tercatat 116,5, atau menurun 3,6 poin dibandingkan bulan sebelumnya.[8]

Dari sumber yang dilansir dari Seputar Indonesia (2015) pun menyebutkan bahwa sektor ritel tahun ini diperkirakan makin lesu akibat turunnya konsumsi. Yang jadi penyebab, melemahnya daya beli masyarakat akibat naiknya harga energi serta regulasi yang tidak mendukung di sisi manufaktur dan perdagangan. Kebijakan yang menyebabkan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi tidak menentu mendorong konsumen untuk menahan diri dalam berbelanja. Carrefour Indonesia, salah satu perusahaan retail terbesar yang ada di Indonesia mengungkapkan bahwa gerai Carrefour belakangan ini mengalami penurunan penjualan, khususnya di bulan Februari 2015. Pelemahan rupiah menjadi salah satu pemicu yang membuat konsumen mengerem pengeluarannya atau hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan.  Hampir semua (produk) rata-rata mengalami penurunan karena efek dari kondisi depresiasi rupiah, kenaikan tarif listrik, dan bahan pangan. Ada efek psikologis sehingga konsumen menahan uangnya atau membelanjakan sesuai kebutuhan.

Gambar 2. Pelambatan Sektor Retail

Sumber: Koran Seputar Indonesia (2015)[9]

Perilaku konsumen dalam berbelanja di Indonesia cenderung berbeda dengan negara maju lainnya. Masyarakat Indonesia lebih senang memakai kartu kredit dibanding kartu debit. Perilaku konsumen di Indonesia ini sebenarnya memakai kartu kredit hanya untuk membayar tagihan bulanan maupun pembelian barang dengan cara mencicil (installment).

Tabel 1. Perkembangan dan Perkiraan Suku Bunga Dana (Rupiah dan Valas)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa rata-rata suku bunga kredit rupiah pada Triwulan II-2015 juga diperkirakan masih meningkat, meskipun dengan kenaikan yang cukup rendah. Rata-rata suku bunga Kredit Modal Kerja rupiah diperkirakan naik 2 bps menjadi 13,66% per tahun, kemudian suku bunga Kredit Investasi rupiah naik 2 bps menjadi 13,53% per tahun dan suku bunga Kredit Konsumsi rupiah naik 5 bps menjadi 15,13% per tahun.

Menurut Nopirin ( 1996 ) suku bunga adalah biaya yang harus dibayar oleh peminjam atas pinjaman yang diterima dan merupakan imbalan bagi pemberi pinjaman atas investasinya. Suku bunga mempengaruhi keputusan individu terhadap pilihan membelanjakan uang lebih banyak atau menyimpa uangnya dalam bentuk tabungan. Suku bunga juga merupakan sebuah harga yang menghubungkan masa kini dengan masa depan, sebagaimana harga lainnya maka tingkat suku bunga ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran ( Suhaedi, 2000 ).

Selain itu, arus globalisasi yang sedang dialami oleh Indonesia pun semakin meningkatkan perdagangan internasional.  Seiring dengan meningkatnya perdagangan internasional, meningkat pula penggunaan

valuta asing. Nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya (Salvatore 1997:9). Kenaikan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut apresiasi atas mata uang asing. Penurunan nilai tukar uang dalam negeri disebut depresiasi atas mata uang asing. Nilai tukar atau dikenal pula sebagai kurs dalam keuangan adalah sebuah perjanjian yang dikenal sebagai nilai tukar mata uang terhadap pembayaran saat kini atau di kemudian hari, antara dua mata uang masing-masing negara atau wilayah. Nilai tukar valuta asing selalu berubah-ubah. Banyak hal yang mempengaruhi perubahan tersebut, misalnya tingkat inflasi, tingkat pendapatan masyarakat, suku bunga, kontrol pemerintah atas perekonomian, termasuk harapan atau perkiraan masyarakat mengenai kondisi-kondisi perekonomian di masa yang akan datang juga turut mempengaruhi perubahan dalam nilai tukar mata uang (Madura, 1997:108-114).[10] Beberapa minggu ini sejak bulan September 2015, rupiah mengalami depresiasi dengan nilai tukar di atas 14.000 rupiah.

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah 8-11September 2015

Sumber:http://www.seputarforex.com/analisa/lihat.php?id=245662&title=analisa_rupiah_8_11_september_2015

Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini hendak mengetahui bagaimanakah pengaruh nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga kredit terhadap daya beli konsumen Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah pengaruh nilai tukar rupiah terhadap daya beli konsumen secara parsial?
  2. Bagaimanakah pengaruh tingkat suku bunga kredit terhadap daya beli konsumen secara parsial?
  3. Secara simultan, bagaimanakah pengaruh nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga kredit terhadap daya beli konsumen?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui pengaruh nilai tukar rupiah terhadap daya beli konsumen secara parsial.
  2. Menginvestigasi pengaruh tingkat suku bunga kredit terhadap daya beli konsumen secara parsial.
  3. Mengidentifikasi variabel yang lebih besar mempengaruhi daya beli konsumen secara simultan.

D. MANFAAT PENELITIAN

Dengan dilaksanakannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat sebagai berikut:

  1. Manfaat Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat membuka cakrawala baru bagi peneliti bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi daya beli konsumen tidak hanya dari sisi pendapatan konsumen saja, tetapi juga dari faktor eksternal seperti nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga, seiring dengan maraknya produk-produk impor dan pembelian melalui kredit konsumsi.

1. Manfaat Bagi Dunia Akademis

Penelitian ini berkontribusi untuk ilmu ekonomi, khususnya finansial dan moneter.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca secara umum. Bagi kalangan bisnis, penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai hal-hal yang mempengaruhi daya beli konsumen berdasarkan nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga kredit, sehingga ketika terjadi peristiwa tersebut, pebisnis dapat mengaplikasikan cara dan strategi yang tepat untuk mempertahankan penjualan. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan dan referensi, untuk dikembangkan secara luas lagi dengan mengambil faktor-faktor ekonomi yang lain, selain kurs rupiah dan suku bunga kredit.


Sumber:

[1] McConnel, Campbell R. & Brue, Stanley L. (2008). Economics. Mc Graw Hill International Edition

[2] Dalam Semuel, Hanane & Stephanie Nurina. (2015). Analysis of the Effect of Inflation, Interest Rate, and Exchange Rates on Gross Domestic Product (GDP) in Indonesia. Proceedings of the International Conference on Global Business, Economics, Finance, and Social Science (GB15_Thai Conference), ISBN 978-1-941505-22-9.

[3] Dalam Semuel, Hanane & Stephanie Nurina. (2015). Analysis of the Effect of Inflation, Interest Rate, and Exchange Rates on Gross Domestic Product (GDP) in Indonesia. Proceedings of the International Conference on Global Business, Economics, Finance, and Social Science (GB15_Thai Conference), ISBN 978-1-941505-22-9.

Rodrik, Dani. (2008). The real exchange rate and economic growth. Harvard University.

[4] Wen-Jen, Hsieh. (2009). Study of the Behavior of the Indonesian Rupiah/US Dollar Exchange Rate and Policy Implications. International Journal of Applied Economics, 6(2), September 2009, pg. 41-50.

[5] http://www.marsindonesia.com/products/business-reports/perilaku-belanja-konsumen-indonesia-2015

[6] Deloitte. (2015). Capturing Indonesia’s Latent Markets. Deloitte Consumer Insights. http://www2.deloitte.com/content/dam/Deloitte/jp/Documents/consumer-business/cp/jp-cp-middle-class-indonesia-en.pdf

[7]  http://nasional.kontan.co.id/news/daya-beli-konsumen-2015-rendah

[8] http://www.neraca.co.id/article/49422/cermin-daya-beli-melemah-indeks-keyakinan-konsumen-menurun

[9] http://www.koran-sindo.com/read/986014/150/daya-beli-turun-bisnis-ritel-lesu-1428376480

[10] Madura, J., 1997.International Financial Management. 5th edition, Prentice Hall International, Inc., New York.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *