Konsep Desentralisasi dan Demokrasi

Desentralisasi merupakan salah satu bentuk reformasi administrasi di Indonesia. Banyak ahli sepakat bahwa konsep desentralisasi dan demokrasi merupakan konsep-konsep yang sangat kompleks.[1] Pemahaman yang jelas terhadap konsep dan teori dari keduanya menjadi sangat penting.

Dalam wacana kontemporer, desentralisasi sebagai sebuah konsep bisa diterapkan dengan berbagai cara dan dalam beragam keadaan (Conyers 1984: 187). Desentralisasi melibatkan banyak proses dan institusi (Furniss 1974; Smith 1985). Literatur terkini juga memperlihatkan bahwa desentralisasi telah menjadi topik yang interdisiplin, tidak hanya dimonopoli oleh ilmuwan politik dan publik administrasi sebagai kontributor utama terhadap literatur tentang desentralisasi yang begitu luas, tetapi juga digunakan oleh para pengacara, sosiolog, antropolog, dan para akademisi dalam teori dan desain organisasi dan juga perencanaan pembangunan (Conyers 1984: 190). Desentralisasi teritorial (territorial decentralization) menyangkut penyerahan kekuasan dan kewenangan kepada pemerintah yang lebih rendah ketimbang desentralisasi fungsional (functional decentralization) yang merujuk pada desentralisasi kepada organisasi semi atau non-pemerintah.

Kritik konseptual atas desentralisasi terutama datang dari kaum Kiri yang mendukung ide sistem pemerintahan yang sentralistik dan melihat desentralisasi sejalan dengan prinsip negara kapitalis. Pada spektrum yang paling radikal dari kaum Kiri percaya bahwa “public ownership of the principle means of production combined with centralized planning offered the best hope for a just, human, and egalitarian society” (Fung & Wright 2001). Dalam konteks ini, sistem pemerintahan yang tersentralisasi dipercaya sangat penting untuk mengurangi dampak negatif dari ekonomi kapitalis, seperti kemiskinan, pengangguran, peningkatan ketidakadilan, dan penyediaan sarana publik dan layanan kesehatan yang buruk.

Demokrasi merupakan salah satu yang komplek sebagaimana istilah politik lainnya. Helena Catt (1999) menyatakan bahwa meskipun secara luas, demokrasi dimaknai sebagai “rule by the people”, dalam praktiknya, artinya beragam. Para ahli menyepakati pandangan bahwa demokrasi itu sangat subjektif dan beragam (Bagchi 1995; Whitehead 2003). Sorensen (1998) khususnya, menyatakan bahwa perdebatan tentang demokrasi telah tumbuh dan berkembang dengan menggabungkannya dengan aspek dan dimensi yang baru ketika konteks sosial atau persepsi analis berubah. Dia menyatakan bahwa pengalaman di banyak negara memperlihatkan bagaimana potensi untuk menekankan aspek-aspek dari demokrasi akan membawa kepada beragam definisi dari demokrasi.

Prinsip yang mendasari demokrasi bahwa demokrasi lebih disukai karena menjunjung dan memfasilitasi prinsip-prinsip moral yang mendasar seperti akuntabilitas politik, persamaan politik dan kedaulatan masyarakat. Komitmen atas ketiga prinsip tersebut sangatlah mendasar karena berakar dari prinsip otonomi personal sebagai manusia (Ng 1997: 21).

Desentralisasi dan demokratisasi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Desentralisasi tanpa disertai demokratisasi sama saja memindahkan sentralisasi dan korupsi dari pusat ke daerah/desa. Sebaliknya demokrasi tanpa desentralisasi sama saja merawat hubungan yang jauh antara pemerintahdan rakyat, atau menjauhkan partisipasi masyarakat. Dalam berbagai literatur juga ditegaskan bahwa tujuan penting desentralisasi adalah mendorong tumbuhnya demokrasilokal.

Konsep desentralisasi demokratis (democratic decentralization) merupakan bentuk pengembangan hubungan sinergis antara pemerintah pusat dengan pemerintah lokal dan antara pemerintah lokal dengan warga masyarakat.

Desentralisasi dan demokrasi memiliki hubungan simbiotik. Di antara potensi keuntungan yang bisa diperoleh, desentralisasi dipandang sebagai strategi penting dalam rangka memperkuat demokratisasi. Misalnya, Redy dan Sabelo (1997) dan Hart (1972) dengan tegas mengatakan bahwa demokratisasi tidak akan efektif jika tidak disertai dengan desentralisasi kekuasaan yang efektif. Desentralisasi tidak secara otomatis dapat memfasilitasi demokrasi pada level lokal. Banyak faktor yang dapat mendistorsi potensi hubungan simbiotik keduanya.

Daftar Pustaka

Bagchi, A. K. 1995, ‘Introduction Democracy and Development: Heritage, Aspirations and Reality’, in Democracy and Development, ed. A. K.

Bagchi, Macmillan Press Ltd, Hampshire and London, pp. xvii-xlviii.

Catt, H. 1999, Democracy in Practice, Routledge, London and New York.

Conyers, D. 1984, ‘Decentralization and Development: A Review of Literature’, Public Administration and Development, vol. 4, pp. 187-197.

Fung, A. & Wright, E. O. 2001, ‘Deepening Democracy: Innovations in Empowered Participatory Governance’, Politics and Society., vol. 29, no. 5, pp. 5-41.

Furniss, N. 1974, ‘The Practical Significance of Decentralization’, The Journal of Politics, vol. 36, no. 4, p. 961.

Hart, D. K. 1972, ‘Theories of Government Related to Decentralization and Citizen Participation’, Public Administration Review, vol. 32, no. Special Issue: Curriculum Essays on Citizens, Politics, and Administration in Urban Neighboorhoods (October), pp. 603-621.

Ng, M. 1997, ‘Why Asia needs democracy?’, Journal of Democracy, vol. 8, no. Number 2 April, pp. 10-23.

Redy, P. S. & Sabelo, T. 1997, ‘Democratic Decentralization and Central/Provincial/Local Relations in South Africa’, The International Journal of Public Sector Management, vol. 10, no. 7, pp. 572-582.

Sorensen, G. 1998, Democracy and Democratization: Processes and Prospects in A Changing World, Westview, Boulder, Colo. Whitehead, L. 2003, Democratization: Theory and Experience, Oxford University Press, New York.

[1] Furniss, N. 1974, ‘The practical significance of decentralization’, The Journal of Politics, vol. 36, no. 4, p. 961; Dryzek, J. S. 1996, ‘Political inclusion and the dynamics of democratization’, The American Political Science Review, vol. 90, no. 3, pp. 475-487.


Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *