Analisis Kasus Aqua Go Private

A. Latar Belakang

Go private merupakan usaha perusahaan mengubah statusnya dari yang awalnya terbuka menjadi tertutup. Selain itu, fenomena go private memang sedang terjadi di pasar modal saat ini. Banyak perusahaan dari kelas kakap hingga kelas menengah ramai-ramai masuk bursa, namun ada juga beberapa perusahaan kelap kakap justru berniat hengkang dari bursa dengan alasan saham mereka tidak aktif diperdagangkan. Bagi sejumlah perusahaan usaha untuk menjadi go private memang membutuhkan usaha yang panjang dan memberatkan, tak terkecuali PT Aqua Golden Mississippi Tbk. (Aqua) di Indonesia. PT Aqua yang dulunya merupakan korporasi dengan saham yang dijual kepada public, sehingga menjadi perusahaan terbuka, bermaksud melakukan tindakan go private dimana perusahaan berstatus tertutup dengan saham yang dimiliki oleh perusahaan atau satu investor tunggal.

PT Aqua Golden Mississipi Tbk. merupakan lama perusahan AMDK di dalam negeri yang sudah menuai banyak kesuksesan. Pertama kali didirikan pada tahun 1973 oleh alm Tirto Utomo. Dalam perjalanan perusahaan, PT Aqua berhasil mengembangkan anak perusahaan sebanyak 12 perusahaan. . Pada tahun 1987, Aqua mengakuisisi VIT, yang juaga merupakan produsen AMDK. Sejak tahun 1987 pula, Aqua merintis ekspor produknya sehingga kini telah mencakup Singapura, Malaysia, Afrika, Australia dan Timur Tengah. Pada tahun 2008, total kapasitas produksi Aqua telah mencapai 1,655 milyar liter per tahun.[1] Namun sejak 1998-1999, PT Aqua menggabungkan ke 12 anak perusahaannya menjadi tiga: Aqua, PT Tirta Investama (induk) dan PT Tirta Sebayakindo.

Sejak Danone, perusahana multinasional masuk ke lingkup PT Aqua, perusahaan tersebut bermaksud memiliki seluruh saham PT Aqua. Dengan maksud tersebut, sejak tahun 2001, PT Aqua mengalami kendala persoalan kepemilikan saham oleh sejumlah investor agar perusahaan bias go private. Tawar menawar harga saham terjadi sebagai upaya membujuk investor minoritas untuk memuluskan rencananya. Pada tahun 2001, harga tender yang ditawarkan adalah Rp 35.000,tapi investor menolak menjual kembali sahamnya. Pada tahun 2005, Aqua kembali melakukan tender offer degan harga Rp 100.000, dan tetap tidak berhasil. Pada RUPS yang telah digelar sebanyak tiga kali pun, jumlah investor independen yang hadir pun selalu tidak memenuhi kuorum yang dipersyaratkan oleh Bapepam – LK. Sekitar 350 orang pemegang saham odd lot (kurang dari 500 lembar atau 1 lot), rupanya cukup mampu mengganjal Aqua untuk hengkang dari listing di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Mereka ini menggenggam 6,4% saham Aqua yang beredar di bursa atau 840.189 lembar. Sisanya 93,60% (12.287.765 lembar) dikuasai oleh PT. Tirta Investama (saham mayoritasnya milik Danone, Perancis).

Kasus delisting PT Aqua dari bursa saham untuk menjadi perusahaan  private cukup menarik untuk dikaji. Pasalnya ada banyak kepentingan pada masalah yang sampai saat ini belum menemukan titik temunya. Dengan sikap PT Aqua yang hanya wait and see sedangkan para investor mendesak PT Aqua untuk tidak go public, maka perlu dicari win-win solution atas masalah ini.

B. Identifikasi Masalah

  • Mengapa PT Aqua tetap ngotot untuk menjadi perusahaan go private?
  • Apa kendala yang di hadapi PT Aqua agar bisa go private?
  • Bagaimana solusi mengatasi dua kepentingan antara PT Aqua dan para investor minoritas atas kasus ini?

C. Pembahasan

1. Alasan PT Aqua Ngotot untuk menjadi perusahaan go private

Bagi perusahaan besar, mengubah status perusahaan menjadi go private memang tetap menguntungkan.[2] Perusahaan tidak perlu melakukan tindakan yang harus didasari oleh perubahan harga saham; apalagi tindakan yang berisiko tinggi yang jika dilakukan justru akan dikenakan sanksi oleh BPOM. Dengan menjadi perusahaan go private, perusahaan dapat kembali ke perhitungan akuntansi yang konservatif, sehingga pembayaran pajaknya lebih rendah, selain itu tidak perlu lagi menyiapkan berbagai surat yang diwajibkan oleh BOPM, dan kewajiban disclosure. Tak hanyaitu, perusahan juga tidak berkewajiban untuk melakukan pembayaran dividen demi perkembangan permodalan jangka panjang, maupun investasi modal yang spekulatif, serta adanya penguasaan kendali atas perusahana bagi pihak yang khawatir akan kehilangan kekuasaannya apabila kepemilikan saham mayoritas berada pada publik.

PT Aqua bermaksud menjadi perusahaan go private dikarenakan adanya rencana konsolidasi bisnis menjadi satu wadah demi efisiensi perusahaan. Dengan status perusahaan terbuka, faktor keamanan menjadi alasan lain mengapa PT Aqua ingin go private. PT Aqua menilai  biaya listing sangat mahal, apalagi jika dihitung dari biaya public expose, laporan tahunan dan lainnya yang harus dilakukan PT Aqua setiap tahun. Sejak 1998-1999, PT Aqua sudah berhasil menggabungkan 12 perusahaan menjadi tiga, namun dua diantara perusahaan tersebut berstatus non-publik, sedangkan satu perusahaan publik. Dalam kurun waktu 15 tahun, PT Aqua sudah tumbuh menjadi perusahaan yang sangat besar, menjadi merek terbesar di dunia untuk bottled water. Penjualan melesar 6.6000% (dari Rp 20,3 miliar tahun 1989 menjadi Rp 1,33 pada tahun 2004), dan laba bersihnya melonjak 7.300% (dari Rp 1,25 miliar tahun 1989 menjadi Rp 91,7 miliar pada tahun 2004).

Di samping itu, ada motif lain yang menyebabkan niat go private ini harus terlaksana. Motif ini dipicu dengan masuknya Danone ke manajemen perusahaan sehingga menyebabkan PT Aqua tidak lagi membutuhkan kucuran dana segar. Danone adalah perusahaan dunia dimana struktur permodalannya cukup solid sehingga menguatkan PT Aqua untuk bisa go private. Pada tahun 2001, Group Danone meningkatkan kepemilikannya di PT. Tirta Investama menjadi 74 persen.[3] Di tahun 2001, Aqua pertama kali merencanakan untuk melakukan penghapusan pencatatan saham sukarela (voluntary delisting). Sehingga apabila hal tersebut berhasil dilaksanakan, maka Aqua akan menjadi perusahaan tertutup.

Berdasarkan gambaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada tiga alasan mengapa PT Aqua harus melakukan go private, yakni: 1) demi efisiensi perusahaan; 2) Modal PT Aqua sudah sangat solid; dan 3) Masuknya PT Danone sebagai penyokong modal yang kuat.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *