Inovasi yang Dilakukan oleh Perpustakaan dalam Mempertahankan Eksistensinya pada Era Net Generation

A. Pendahuluan

Abad 21 membawa kita pada sebuah periode besar transisi sejarah, yaitu perubahan yang sedang mempengaruhi kita tidak terbatas di satu wilayah di muka bumi, tetapi menjangkau hampir setiap tempat karena perubahan teknologi informasi yang bersifat konvergensi, dimana teknologi pengolahan, penyimpanan dan penyebaran informasi terkait dalam telekomunikasi (Giddens, 2001; Webster, 2006). Perubahan teknologi informasi telah mempengaruhi pengadaan, penyebaran dan penyajian data-data informasi dan pengetahuan. Dunia maya telah lahir dengan informasi yang tanpa batas dan secara bertahap akan mudah dikuasai oleh manusia.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin meningkat turut menghantarkan hadirnya teknologi internet (Fourie dan Dowel, 2002:1) yang tanpa disadari telah membawa manusia pada suatu kehidupan yang baru dan kebiasaan baru. Dengan kemajuan teknologi informasi tersebut, menurut pengamatan Don Tapscott telah lahir suatu generasi baru yang disebut the net-generation atau ”N-Gen”. Don Tapscott memperkenalkan konsep ‘N-Generation’. ‘N’ adalah singkatan untuk ‘net’ atau ‘Internet’ yang menekankan pada sifat teknologi yang telah meresap kedalam kehidupan kelompok usia ini. N-Generasi terdiri dari orang-orang 88.000.000 individu di Amerika Utara yang akan usia 2 sampai 22 tahun pada 1999. Grup ini bahkan lebih besar dari generasi baby boom yang terkenal, yang terdiri dari hanya 29% penduduk (dibandingkan dengan-Gen’s 30% N). Orang-orang ini, Tapscott mengatakan, dikelilingi oleh media digital dan untuk sebagian besar dari mereka sangat lancar menggunakan komputer.

Generasi net saat ini memang terlahir (pada era setelah 1995 atau 2000-an dan di besarkan oleh era digital, dengan berbagai macam teknologi yang modern dan canggih, yang secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh atau berdampak pada perkembangan perilaku dan kepribadian penggunanya. Djiwandono menyatakan bahwa generasi muda saat ini, yang disebut juga generasi Z atau Net Generation, mempunyai karakteristik yang membuat mereka berbeda dengan generasi terdahulu. Anak-anak muda saat ini mempunyai kecenderungan gaya belajar aktif, global, sensing, dan visual.[1] Karakter generasi digital atau net generation atau generasi Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh dalam tingginya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sehingga sebagian besar kegiatannya tidak dapat lepas dari penggunaan komputer dan internet. Generasi ini sangat menyukai segala sesuatu yang dapat diperoleh dengan mudah dan cepat (Oblinger dan Oblinger, 2005). Ciri-ciri net generation yaitu digital literate, selalu terhubung dengan dunia luar melalui internet mobile, selalu menginginkan kecepatan berhubungan dengan respon yang diharapkan maupun kecepatan dalam memperoleh informasi, experiential,  sosial, tim, struktur, keterlibatan dan pengalaman, serta visual dan kinesthetic (Manuel dalam Oblinger & Oblinger, 2005).

Perpustakaan merupakan salah satu penyedia dan penyalur informasi yang fungsi dan peranannya cukup berarti di dunia informasi. UU Nomor 43/2007 mendefinisikan perpustakaan sebagai sebuah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi bagi para pemustaka. Wulandari melalui artikelnya yang berjudul “Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital Native” (2013: 34-53) mengatakan bahwa generasi digital memiliki kebiasaan dan karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya khususnya dalam cara belajar dan melakukan penelusuran informasi sehingga membuat keberadaan perpustakaan sebagai sumber informasi tidak lagi mendominasi saat generasi ini membutuhkan informasi. Perpustakaan modern harus bisa memenuhi kebutuhan NetGen.[2] Sehingga diperlukan inovasi yang dilakukan oleh perpustakaan dalam mempertahankan eksistensinya pada Era Net Generation.

B. Permasalahan

Hadirnya teknologi internet yang memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya kemudian dianggap sebagai salah satu faktor penyebab masyarakat kurang menaruh minat terhadap perpustakaan. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan keresahan pada lingkungan perpustakaan. Seperti yang dikatakan oleh Stewart (2009: 1) perkembangan teknologi informasi yang terus meningkat telah menyebabkan munculnya berbagai macam pertimbangan tentang keberadaan bangunan perpustakaan.

Net generation disebut juga sebagai Z generation atau generasi platinum atau the native gadget (Suprapto, 14 Maret 2010). Generasi digital lebih menyukai tempat yang mendukung teknologi internet dan teknologi visual yang berkualitas tinggi (Donkai, 2011: 216). Tantangan baru di dunia perpustakaan Era Net Generation yang banyak dikatakan sebagai abad informasi adalah penyaluran informasi menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer dengan cepat, tepat dan global. Berdasarkan hal inilah perpustakaan perlu mengambil langkah untuk merubah konsep pengelolaannya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh generasi digital.

C. Pembahasan

Survei OCLC menunjukkan walaupun 45 persen mahasiswa “benar-benar setuju” bahwa situs web perpustakaan memberikan informasi yang bermanfaat, namun hanya 2 persen dari mereka memulai penelitian mereka dari situs web perpustakaan. Dalam perpustakaan, 72 persen mahasiswa sangat setuju dan setuju bahwa database online menyediakan informasi berharga; 85 persen mahasiswa sangat setuju dan setuju bahwa majalah/ jurnal eektronik menyediakan informasi yang bermanfaat (De Rosa et al, 2005, p. 1.30, dalam Jia dan Nesta, 2006).

Net generation mengakui nilai perpustakaan dan sumber daya perpustakaan. Net generation mengakui bahwa perpustakaan itu penting, tetapi bagi mereka internet lebih menjanjikan kemudahan penggunaan dan kecepatan akses.

Dalam penelitian OCLC itu juga ditanyakan mengenai pendapat responden terhadap atribut yang membandingkan antara search engine dan perpustakaan, dan hasilnya adalah perpustakaan memiliki nilai tinggi hanya pada kredibilitas dan akurasi. Search engine mengalahkan perpustakaan dalam hal kehandalan, efektivitas biaya, kemudahan penggunaan, kenyamanan dan kecepatan, dengan 85 persen responden lebih memilih search engine untuk kemudahan penggunaan, 89 persen untuk kenyamanan, dan 92 persen untuk kecepatan (De Rosa et al., 2005, p. 2.18).

Melihat angka-angka dan kenyataan di atas tampaknya perpustakaan harus melakukan upaya yang cukup fenomenal untuk membuat net generation tidak saja mengakui dan menghargai keberadaan perpustakaan sebagai sumber informasi, tetapi perlu membuat mereka tertarik untuk datang ke perpustakaan baik secara fisik maupun maya.

Salah satu solusi untuk menjawab tantangan Era Net Generation adalah dengan mengembangkan perpustakan sesuai dengan kebutuhan net gereration melalui teknologi informasi dan sistem temu kembali informasi yaitu:

a. One stop searching

Pustakawan biasanya menggolong-golongkan akses terhadap koleksinya sesuai dengan jenisnya masing-masing, misalnya OPAC digunakan untuk mengakses koleksi yang secara fisik ada di dalam perpustakaan, sedangkan akses ke koleksi digital pada alamat yang berbeda, begitu juga dengan akses ke koleksi database jurnal menggunakan alamat yang berbeda juga. Net generation tidak menyukai model seperti itu, mereka lebih menyukai jika semua koleksi perpustakaan dapat dicari pada satu pintu atau one stop searching seperti pada search engine internet. Perpustakaan harus dapat mengintegrasikan sistem temu kembali informasinya dalam sebuah pintu yang akan menjadi pintu masuk pada koleksi yang dimiliki oleh perpustakan, tersedia secara bebas di internet maupun koleksi yang dilanggan oleh perpustakaan seperti database jurnal dan database ebooks. Dan baru pada hasil penelusuran disebutkan masing-masing jenis dari koleksinya. Net generation biasanya menggunakan pendekatan penelitian mereka tanpa memperhatikan struktur perpustakaan dimana biasanya pustakawan menggolong-golongkan sumber daya perpustakaan sesuai dgn segmen atau area tertentu. Situs web dan juga sistem informasi perpustakaan juga mencerminkan hal itu sehingga membuat net generation malas untuk berkunjung karena membutuhkan waktu yang lama dan harus memperkirakan segmen dan areanya.

b. Single Sign On

Single sign on adalah teknologi yang mengizinkan pengguna jaringan agar dapat mengakses sumber daya dalam jaringan hanya dengan menggunakan satu akun pengguna saja. Teknologi ini sangat diminati, khususnya dalam jaringan yang sangat besar dan bersifat heterogen (di saat sistem operasi serta aplikasi yang digunakan oleh komputer adalah berasal dari banyak vendor, dan pengguna dimintai untuk mengisi informasi dirinya ke dalam setiap platform yang berbeda tersebut yang hendak diakses oleh pengguna). Single sign on pada jaringan kampus termasuk perpustakaan adalah fasilitas layanan yang memungkinkan sivitas akademika untuk mengakses berbagai layanan dan sumberdaya kampus hanya dengan menggunakan 1 akun dan 1 password saja. Jadi pada perpustakaan, aplikasi single sign on bisa dimanfaatkan untuk mengakses internet menggunakan fasilitas WIFI kampus, mengakses database jurnal, melakukan atau melihat transaksi perpustakaan seperti tagihan, denda, history peminjaman perpanjangan koleksi, dan lain-lain. Single sign on sejalan dengan kebutuhan net generation yang lebih menyukai kemudahan, karena mereka tidak perlu mengingat-ingat masing-masing akun dan password untuk dapat mengakses fasilitas layanan perpustakaan.

c. Sistem akses informasi perpustakaan yang dapat ditemukan dengan mudah di Search Engine

Seperti kita ketahui bahwa sebanyak 89 persen mahasiswa di seluruh beberapa wilayah Negara bagian di Amerika memulai penelusuran informasi dari search engine. Dan hanya 2 persen dari mahasiswa memulai penelitian mereka dengan menggunakan website perpustakaan (De Rosa et al, 2005.). Fakta ini tidak dapat kita pungkiri. Maka perpustakaan perlu menemukan sebuah cara agar akses ke sistem informasi dapat lebih sering dikunjungi oleh siswa dengan mengingkatkan kemunculan situs web perpustakaan pada search engine internet seperti Google Scholar. Perpustakaan harus dapat mengintegrasikan sistem informasi perpustakaan ke dalam Google atau search engine lainnya.


Sumber:

[1] P.I. Djiwandono, “Karakteristik Generasi Z dan Bagaimana Dunia Pendidikan Menyikapinya”, dalam Kementrian Pendidikan Nasional, Direktorat Kementrian Pendidikan Tinggi (13 Januari 2011), diunduh tanggal 25 Juni 2016 dari http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1832:karakteristik generasi-z-dan-bagaimana-dunia-pendidikan-menyikapinya&catid=159:artikelkontributor)

[2] http://www.forda-mof.org/berita/post/2665

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *