Pengetahuan dan Penghidupan Botani Tradisional: Domestikasi dan Pertanian Tradisional

Saat ini, pertanian tradisional dengan input rendah dianggap mendukung lebih dari seperempat populasi dunia, terutama di area yang rentan atau miskin sumber daya seperti hutan tropis, sabana, gurun dan lahan basah di India, Asia Timur, Amerika Latin dan sub-Sahara Afrika. Meski meliputi berbagai sistem hortikultura yang berbeda, seluruh metode pertanian tradisional dapat dibedakan dengan pertanian industri atau revolusi hijau karena fiturnya yang khas, termasuk ketergantungannya yang rendah terhadap penggunaan agrokima dan benih komersil, dan ketergantung totalnya terhadap presipitasi lokal.  Sehingga peran petani tradisional adalah mengoptimisasi penggunaan sumber daya tersebut yang tersedia secara lokal, untuk meminimalisir risiko gagal panen, dan untuk memastikan keberlanjutan metode produksi mereka. Bab ini dimulai dengan menguraikan sumber dan metode yang digunakan oleh petani tradisional, sebelum memeriksa dua bidang penting secara lebih rinci-pengelolaan keragaman genetik tanaman, dan ekologi agroforestri tradisional.

Berbagai sistem pertanian digunakan dalam masyarakat petani tradisional di seluruh dunia mulai dari ladang berpindah dari hutan tropis ke pertanian lahan basah yang permanen di pesisir Afrika. Pengetahuan pertanian tradisional (TAK) secara luas dibagi menjadi dua jenis utama: pengetahuan yang berhubungan dengan sumber daya psikokimia dan biologis yang tersedia, dan pengetahuan metode dan teknologi yang sesuai dengan eksploitas berkelanjutan. Petani tradisional memiliki pemahaman yang ekstensif dan detail tentang sumber daya pertanian mereka, termasuk properti lokasi dan fungsional dari jenis tanah yang spesifik, ketersediaan air dan gizi musiman, dan karakteristik agronomis dari berbagai kultivar tanaman.

Dalam mempelajari pengetahuan pertanian tradisional salah satu metode penelitian yang digunakan dengan luas adalah pemetaan ekologis. Pengenalan zona ekologis yang jelas penting untuk pertanian tradisional, dan saat unit sumber daya dieksploitasi untuk spesies liar tertentu, hanya zona tertentu yang dikenali sesuai untuk pertanian. Klasifikasi zona ekologis berbasis kapabilitas penggunaan tanah ternyata tersbear luas di kalangan petani tradisional, yang mengenali area potensial berdasarkan sifatnya seperti tekstur dan warna tanah, pola hidrologis dan –yang paling sering—komunitas tumbuhan yang didukung. Berdasarkan pengetahuan tersebut, tanaman tertentu dapat ditanaman sesuai kebutuhan.

Terkadang, sistem klasifikasi tanah telah diinvestigasi secara kimia dan seringnya, tingkat korelasi yang luas ditunjukkan antara kategori lokal dan analisis tanah konvensional. Akan tetapi sistem klasifikasi lokal sering mengenali mikro-lingkungan tambahan yang, meski signifikan tidak dapat dengan mudah dikenali menggunakan metode ilmiah konvensional.

Selain itu, petani tradisional juga memiliki pengetahuan yang cukup banyak tentang musim dan perubahan periodik lain. Sehingga, aktivitas ekonomis dari petani tradisional sangat ditentukan oleh fluktuasi musim dalam faktor lingkungan, dan hal ini bermanisfestasi dalam sifat kalender ekonomi kompleks mereka yang detail.

Spesies tanaman yang dieksploitasi dalam sistem hortikultura tradisional termasuk domestikasi sejati atau kultigen—tanaman yang didomestikasi yang bergantung pada interferensi manusia untuk melengkapi siklus kehidupan mereka; tanaman semi domestikasi yang dapat diperbanyak dan dikelola tapi tidak harus bergantung pada intervensi manusia; dan tanaman yang dilindungi yang meski ada secara spontan di sepetak tanah yang dikelola, didorong dan dilindungi oleh praktik seperti pemangkasan rumput atau pembabatan. Secara keseluruhan, petani tradisional menyebarkan risiko dengan menanam berbagai spesies tanaman yang berbeda dan dengan mengeksploitasi beberapa kultivar, atau berbagai bahan pokok yang penting.

Sehingga, dengan adanya keragaman genetik dalam kumpulan tanaman tradisional memberikan cara keamanan dimana kondisi lingkungan sering berubah dan tidak dapat diprediksi, sehingga lumrah saja didapatkan jenis tanaman dengan hasil yang rendah yang dirawat bersama dengan yang menghasilkan hasil yang tinggi berkenaan dengan karakteristik seperti ketahanan terhadap kekeringan, properti penyimpanan atau kemampuan untuk mengeksploiyasi berbagai mikro-lingkungan. Perkembangan, pemeliharaan dan eksploitasi yang efisien dari tanaman plasma nutfah yang beragam ini melibatkan cukup banyak keahlian, dan sering membutuhkan pengetahuan yang detail tentang properti pertanian dan karakteristik fungsional dari banyak kultivar tanaman, banyak di antaranya hanya bisa dibedakan dengan dasar perbedaan yang sangat halus.

Selain pemahaman tentang lingkungan dan sumber daya genetis yang tersedia, keberhasilan pertanian dengan input rendah sangat ditentukan oleh manajemen yang efisien; hal ini bergantung pada manipulasi yang efektif dari proses ekologis alami. Melalui eksploitasinya dan fungsi ekologis yang lainnya, kultivator tradisional mampu mengolah lingkungan yang rentan sambil menjaga sumber daya pertanian yang berharga untuk generasi berikutnya.

Meski sistem pertanian tradisional sudah lama dianggap “primitif” oleh banyak pengamat eksternal, ada bukti yang menunjukkan hal sebaliknya yang akhir-akhir ini banyak diakui. Dan memang banyak laporan terbaru yang mendukung pernyataan bahwa teknologi ‘modern’ sering tidak sesuai dengan lingkungan pertanian tradisional. Saat ini semakin diakui bahwa praktik manajemen pertanian tradisional mencakup berbagai metodologi, yang mengatasi berbagai masalah berkenaan dengan produksi makanan. Metode tersebut beragam dari metode yang meningkatkan keberhasilan penyebaran tanaman atau yang mendorong peningkatan hasil, sampai yang digunakan untuk melindungi makanan yang disimpan dan untuk menjaga kualitas tanah.

Praktik hortikultura digunakan untuk meningkatkan hasil tanaman termasuk alat pengecambahan seperti perendaman, penghilangan sisa di lahan, manipulasi keteduhan serta perawatan tanaman seperti pemotongan, okulasi yang mendukung pembungaan dan pembuahan. Selain itu, hasil yang meningkat juga dari berkurangnya kerugian dengan menggunakan berbagai pendekatan untuk kendali hama. Banyak di antaranya melibatkan eksploitasi dari mekanisme pertahanan alami tanaman. Metode kendali hama yang lainnya melibatkan penggunaan zat tambahan seperti jeruk nipis dan paprika yang dihancurkan. Kemudian, untuk menjaga kesuburan, stabilitas dan konten kelembaban dalam tanah digunakan juga berbagai metode. Jika mungkin, proses alami seperti deposisi aluvial reguler digunakan, sedangkan perlakuan artifisial seperti pembakaran, pemulsaan dan irigasi ember merupakan kepentingan yang menyebar luas.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *