Industri Media Penyiaran Televisi di Indonesia

A. Pendahuluan

Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang, dan jasa, serta menghidupkan industri lain yang terkait; media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat dan institusi sosial lainnya. Di lain pihak, institusi media oleh masyarakat (Denis McQuail, 2005:3).

Media elektronik merupakan salah satu jenis media komunikasi massa yang menggunakan perangkat elektronik untuk alat penyampaian pesan dari sumber kepada massa. Pesan dapat dilihat, didengar, atau dibaca oleh khalayak karena bentuknya lebih kompleks dari sekadar media cetak. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang semakin hari semakin bekembang dengan cepat, contohnya televisi, radio, filom, video recording, komputer, electronik board, audio casette, dan lain sebagainya.

Televisi berkembang begitu cepat sejalan dengan perkembangan teknologi elektronika, telah menjadi fenomena besar di abad ini, perannya amat besar dalam membentuk pola dan pendapat umum, termasuk pendapat untuk menyenangi produk-produk tertentu, demikian pula perannya amat besar dalam pembentukan perilaku dan pola berfikir (Subroto, 1994:2). Dalam keseharian masyarakat Indonesia, televisi tetap menjadi media yang paling besar pengaruhnya karena mudah diakses dan memiliki jangkauan yang luas. Berdasarkan survei MarkPlus pada tahun 2014, televisi masih menempati peringkat pertama sebagai “Most Frequency Accesed Media” di Indonesia.[1] Menurut direktur pelaksana riset pasar perusahaan Synovate Indonesia, Robby Susatyo, TV merupakan media yang jauh lebih dominan.[2] Satu hal yang paling berpegaruh dari daya tarik televisi yaitu informasi atau berita-berita yang disampaikan lebih singkat, jelas dan sistematis, sehingga pemirsa tidak perlu lagi mempelajari isi pesan dalam menangkap siaran televisi (Mondry, 2008:20).

Stasiun televisi di Indonesia semakin banyak bermunculan seiring berkembangnya dunia pertelevisian. Dari asalnya hanya stasiun televisi milik pemerintah yaitu TVRI, lalu berkembang dan bermunculan berbagai stasiun televisi swasta nasional seperti RCTI, SCTV, Indosiar, MetroTV, ANTV, TransTV,TV7 dan berubah menjadi Trans7, GlobalTV, TVOne, TPI yang berubah menjadi MNC pada saat ini.[3]

Penyiaran televisi merupakan kegiatan penyebarluasan pesan atau ide melalui media televisi. Pesan atau ide yang terdapat di televisi ini disebut juga program siaran. Secara garis besar, program siaran televisi terdiri dari dua bagian, yakni berita dan non-berita.[4] Industri penyiaran di Indonesia diatur melalui Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Aturan ini menyatakan bahwa asas penyiaran di Indonesia antara lain adalah asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, keberagaman, kemitraan, etika, kemandirian, kebebasan, dan tanggung jawab (Pasal 2 UU No. 32 Tahun 2002). Sejalan dengan hal tersebut, Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi juga memberikan pengakuan terhadap adanya kebebasan dalam menyampaikan pendapat dan berekspresi.

Makalah ini akan membahas industri media penyiaran televisi terkait struktur pasar, konsentrasi kepemilikan, sistem ekonomi dan politik serta berbagai variabel yang berpengaruh atas eksistensi industri media penyiaran televisi di Indonesia.

B. Pembahasan

1. Struktur Pasar

Struktur pasar adalah kondisi atau karakteristik pasar tempat media beroperasi yang terdiri dari jumlah pembeli atau penjual, diferensiasi produk, rintangan bagi kompetitor, struktur biaya, dan integral vertikal. Contohnya, MetroTV memposisikan dirinya sebagai televisi yang lebih memfokuskan pada program siaran berita dari pada program acara lainnya.

Kondisi struktur pasar industri televisi di Indonesia dapat dikaji berdasarkan tabel share penonton. Dapat diketahui sebelas stasiun televisi tersebut di atas merupakan TV nasional yang utama. Data terebut memperlihatkan bahwa banyak televisi yang mengalami kenaikan jumlah penonton, tetapi banyak pula yang mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan audience share memiliki pergerakan yang dinamis. Meskipun demikian, terdapat empat stasiun TV besar yang konsisten menguasai pasar, selama tahun 2008-2009, yaitu RCTI, SCTV, Trans TV dan Indosiar.

Berdasarkan perhitungan indeks Herfindahl yang diperoleh dari audience share dan jika dikaji berdasarkan setiap unit stasiun TV, dapat diketahui industri televisi atau pasar iklan televisi Indonesia mengarah ke struktur pasar persaingan sempurna (close to perfect competition). Hal ini terbukti dari indeks H pasar televisi yang selama dua tahun berada di bawah 0.2. Pembeli utama dari perusahaan telekomunikasi, pemerintah dan iklan politik, korporasi, rokok dan kendaraan bermotor. Stasiun televisi utama yang menjadi media primadona bagi para pengiklan adalah RCTI, Trans TV, SCTV, dan TPI.

Karakteristik pasar tersebut merupakan sebuah kondisi yang unik jika dihadapkan pada tingkat kesulitan menembus pasar televisi nasional. Secara konseptual, pasar persaingan sempurna memiliki karakteristik bahwa produsen dan konsumen bebas keluar masuk pasar. Meskipun demikian kebebasan tersebut tidak ditemui dalam pasar televisi Indonesia dikarenakan adanya barriers to entry yang cukup ketat baik dari segi natural maupun artifisial.

Perhitungan konsentrasi pasar dilakukan berdasarkan tingkat audience share pada empat stasiun televisi terbesar. Dengan rasio konsentrasi lebih dari 50%, grafik di atas menunjukkan bahwa pasar televisi di Indonesia memiliki tingkat konsentrasi tinggi. Tingginya tingkat konsentrasi tersebut diakibatkan oleh adanya empat stasiun TV yang selama dua tahun konsisten menguasai pasar dengan tingkat share yang cukup tinggi yaitu RCTI, SCTV, Trans TV, dan Indosiar. Penurunan konsentrasi pasar, menunjukkan adanya pemerataan penonton dalam pasar televisi Indonesia yang ditandai dengan menipisnya margin audience share antar stasiun televisi.

Dalam hal market performance, industri televisi di Indonesia menunjukkan keragaman dalam hal operasionalisasi tenaga dalam rangka efisiensi dan optimalisasi. Contohnya, stasiun televisi yang berada di bawah TransCorp yaitu Trans7 dan TransTV menerapkan kebijakan yang lebih mengutamakan acara dari home production dan merekrut tenaga kerja fresh graduate serta menekankan multi-tasking jobs.

2. Konsentrasi Kepemilikan

Regulasi dalam bidang penyiaran yang tertuang dalam UU No. 32 Tahun 2002 mengatur bahwa kepemilikan saham asing dalam media penyiaran di Indonesia dibatasi maksimal 20%. Dalam industri televisi nasional juga dikenal terjadinya horizontal integration seperti MNC Group (RCTI, MNC TV, Global TV), Bakrie Group (TV One dan ANTV), serta TransCorp (TransTV dan Trans7). Oleh karena itu, dilihat dari konsentrasi kepemilikan, karakteristik pasar TV di Indonesia lebih mengarah ke oligopoli yang hanya terdiri dari 5 pemain utama. Peringkat pertama dari segi pemasukan iklan diduduki oleh MNC Group yang membawahi RCTI, Global TV, dan MNC TV, diikuti dengan Surya Citra Media Group (SCTV dan Indosiar), Trans Corp dengan TransTV dan Trans7, serta Bakrie Group (ANTV dan TVOne) dan terakhir Media Group. Meskipun demikian, oligopoli tersebut tidak dapat dibuktikan karena setiap stasiun televisi didirikan atas nama perusahaan yang berbeda-beda namun jika ditelusuri struktur kepemilikan sahamnya, media-media tersebut berasal dari group perusahaan yang sama.

Pertumbuhan konsentrasi kepemilikan media penyiaran televisi di Indonesia berada ditangan beberapa orang saja. Media di Indonesia bisa dipetakan dalam beberapa kelompok usaha besar yang membangun konglomerasi media. Misalnya, ketika pemilihan ketua umum Partai Golkar dengan berita yang disajikan di Metro TV. Agenda Setting Metro TV mencoba memperlihatkan sosok Surya Paloh sebagai calon pemimpin yang baik dikarenakan Ia merupakan orang penting dalam media massa tersebut. Hal tersebut sesuai seperti apa yang dikatakan Reese dan Shoemaker (1996) bahwa pemilik media dapat mempengaruhi tayangan karena mempengaruhi perubahan kebijakan perusahaan menyangkut nilai-nilai, tujuan, dan budaya kerja. Oleh sebab itu, kepemilikan media maka akan berakibat dengan berubahnya kebijakan dan tujuan media itu sendiri.

Konglomerasi media muncul ketika sebuah perusahaan media melebarkan sayapnya dengan membangun berbagai industri media yang berbeda. Misalnya, Media Nusantara Citra (MNC) milik Hary Tanoesoedijo yang menguasai bisnis televisi di Indonesia melalui RCTI, TPI (yang sekarang menjadi MNC TV), dan Global TV. Hary Tanoesoedijo adalah bos media televisi, bahkan televisi berlangganan. Selain MNC, beberapa Group Besar pemilik media yaitu Lativi dan ANTV bernaung di bawah bendera Bakrie Group milik Abu Rizal Bakrie, Trans TV dan Trans 7 di bawah Trans Corp milik Chairul Tanjung, Metro TV di bawah Group Media Indonesia milik Surya Paloh. Kebanyakan pemilik industri media tersebut merupakan orang yang membangun bisnisnya dengan menggunakan kekuasaan atau hubungan khusus dengan pemerintahan. Izin kepemilikan televisi swasta diberikan kepada kroni-kroni rezim dan digenjot untuk melakukan produksi konten-konten lokal sementara TVRI tetap menjadi pemimpin di mana televisi-televisi swasta wajib menyiarkan tayangan-tayangan tertentu. 

3. Sistem Ekonomi dan Politik

Media sudah menjadi bagian dari industri, industri yang lebih berorientasi kepada keuntungan bukan lagi pada isinya. Sebagai institusi ekonomi, media penyiaran televisi hadir menjadi suatu industri yang menjanjikan keuntungan yang besar bagi setiap pengusaha. Keuntungan yang diperoleh media penyiaran televisi di Indonesia misalnya yaitu dari data AGB Nielsen Media Research, terlihat hingga kuartal ke-3 tahun 2006, Grup Media Nusantara Citra (MNC) sukses meraup Rp4,8 triliun atau 32,9% dari total belanja iklan TV. Urutan ke-2 diduduki Trans TV dan Trans 7, dengan Rp3,4 triliun (23,2%). ANTV dan Lativi, berhasil memperoleh pendapatan Rp2,3 triliun (15,7%), berada pada peringkat ke-3. Hal tersebut mengakibatkan pengusaha media kini tidak lagi hanya sekedar berorientasi pada penenuhan hak masyarakat akan terpenuhinya informasi tetapi juga berorientasi untuk mengejar keuntungan ekonomi sebesar-besarnya.


Sumber:

[1] http://www.kompasiana.com/mahfud.achyar/analisis-kepemilikan-media-berdasarkan-perspektif-ekonomi-dan-politik_54f90b62a33311ce308b4b0b

[2] The Report Emerging Indonesia 2007. Oxford Business Group. www.oxfordbusinessgroup.com

[3] http://www.dotsemarang.com/televisi-lokal-media-alternatif-mengembangkan-budaya-pariwisata-daerah/

[4]https://www.indonesiax.co.id/courses/NetMediatamaTelevisi/NET.101/2015_Run1/about

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *