MENARIK GENERASI MUDA UNTUK TERLIBAT DALAM PERTANIAN

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pada masa lalu, sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja di sektor pertanian sehingga Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Pada zaman sekarang, minat masyarakat untuk bekerja di bidang pertanian semakin menurun, begitu juga dengan minat generasi muda di Indonesia untuk bekerja di bidang pertanian semakin langka. Generasi muda di pedesaan Indonesia nampaknya tidak berminat pada masa depan pertanian dan berniat bergabung dalam pergerakan menuju perkotaan (Koning 1997, 2004, White & Margiyatin 2009), seperti yang umum terjadi di Asia Tenggara (Hall et al. 2011, h. 118). Keterlibatan generasi muda dalam menekuni profesi di bidang pertanian menentukan keberlanjutan perkembangan pertanian.

Pertanian merupakan salah satu sektor penyerap tenaga kerja yang signifikan di Indonesia karena memberikan kontribusi hampir 43 persen dari total lapangan kerja. Masalah utama angkatan kerja di bidang pertanian yaitu tingkat pendidikan mayoritas petani relatif rendah, meningkatnya jumlah petani yang menua dan berkurangnya keterlibatan generasi muda di bidang pertanian. Menurut Sensus Pertanian, pada 1993-2003 komposisi tenaga kerja pertanian berdasarkan usia telah berubah secara signifikan. Tenaga kerja pertanian kurang dari 35 tahun pada tahun 1993 sebesar 25,8 persen, tetapi sepuluh tahun kemudian (2003) berkurang menjadi 20 persen. Dalam dekade berikutnya, Sensus Pertanian pada tahun 2013 menegaskan penurunan lebih lanjut dari para pekerja muda atau berusia di bawah 34 tahun menjadi 12,9 persen. Di sisi lain, data menunjukkan semakin banyak petani tua, berusia di atas 65 tahun (CBS, 2003 & 2013). Selama periode yang sama, pemuda yang bekerja di sektor non-pertanian menunjukkan kecenderungan yang menurun.

Terdapat banyak faktor yang membuat pertanian tidak menarik bagi generasi muda. Faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor pendorong seperti meningkatnya kelangkaan lahan pertanian, dan faktor penarik seperti yang lebih menjanjikan dan pendapatan yang lebih tinggi dari bekerja di sektor non-pertanian. Selain itu, dari sudut pandang sistem nilai budaya, mayoritas pemuda menganggap bahwa bekerja di sektor non-pertanian lebih bergengsi. Mereka lebih suka pergi ke kota untuk bekerja sebagai buruh bangunan, pedagang, atau pegawai negeri. Fenomena ini terjadi hampir secara konsisten di seluruh wilayah Indonesia (Susilowati et al., 2012).

Menurunnya minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian bukan tanpa konsekuensi, terutama untuk keberlanjutan masa depan sektor ini. Di masa depan, dengan meningkatnya jumlah penduduk, beban pertanian akan jauh lebih sulit, terutama dalam memenuhi meningkatnya permintaan makanan. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam mempromosikan peningkatan produksi dan produktivitas pangan menjadi sangat menantang. Tantangan utama yang dihadapi pemuda untuk mulai bekerja di sektor pertanian adalah akses ke modal, keterampilan terbatas, dan akses ke tanah. Hingga kini pemerintah Indonesia belum ada kebijakan insentif untuk mendorong angkatan kerja muda untuk bekerja di bidang pertanian (Murphy, 2012; Shute, 2011; Katchova dan Ahearn, 2014; Davis et al., 2013).

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “mengapa generasi muda tidak tertarik pada pertanian dan apa rekomendasi bagi generasi muda untuk terlibat dalam pertanian?

3. Tujuan

  • Untuk menganalisis alasan generasi muda tidak tertarik pada pertanian.
  • Untuk menganalisis rekomendasi bagi generasi muda untuk terlibat dalam pertanian.

BAB
LANDASAN TEORI

1. Pemuda (Generasi Muda)

Secara internasional, WHO menyebut sebagai “young people” dengan batas usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut “adolescenea” atau remaja. Definisi yang kedua, pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil (Mulyana, 2011: 12).

Lebih lanjut Mulyana (2011: 1) mengemukakan bahwa pemuda lebih dilihat pada jiwa yang dimiliki oleh seseorang. Jika orang tersebut memiliki jika yang suka memberontak, penuh inisiatif, kreatif, antikemapanan, serta ada tujuan lebih membangun kepribadian, maka orang tersebut dapat dikatakan sebagai pemuda. Acuan yang kedua inilah yang pada masa lalu digunakan, sehingga pada saat itu terlihat bahwa organisasi pemuda itu lebih banyak dikendalikan oleh orang-orang yang secara usia sudah tidak muda lagi, tetapi mereka mempunyai jiwa pemuda. Oleh sebab itu kelemahan dari pemikiran yang kedua itu organisasi kepemudaan yang seharusnya digunakan sebagai wadah untuk berkreasi dan mematangkan para pemuda dijadikan kendaraan politik, ekonomi, dan sosial untuk kepentingan perorangan dan kelompok.

Pemuda atau generasi muda merupakan konsep-konsep yang selalu dikaitkan dengan masalah “nilai” hal ini sering lebih merupakan pengertian ideologis dan cultural dari pada pengertian ilmiah, misalnya “Pemuda harapan bangsa” dan “pemuda pemilik masa depan” dan lain sebagainya yang kesemuanya itu merupakan beban moral bagi pemuda untuk memberikan konstribusi pada masa depan masyarakat bangsa Indonesia. Tetapi dilain pihak pemuda menghadapi persoalan-persoalan yang akut seperti narkoba, kenakalan remaja, dan terbatasnya lapangankerja.

2. Pertanian

Menurut Suratiyah (2006), pertanian sebagai kegiatan manusia dalam membuka lahan dan menanaminya dengan berbagai jenis tanaman yang termasuk tanaman semusim maupun tanaman tahunan dan tanaman pangan maupun tanaman non-pangan serta digunakan untuk memelihara ternak maupun ikan. Pertanian merupakan kegiatan dalam mengembangkan tumbuhan dan hewan dengan maksud supaya tumbuh lebih baik untuk memenuhi kebutuhan manusia, misalnya bercocok tanam, berternak dan melaut (Rahim dan Hastuti, 2008). Menurut Nurmala, dkk. (2012: 1), pertanian merupakan kebudayaan yang pertama kali dikembangkan manusia sebagai respons terhadap tantangan kelangsungan hidup yang berangsur menjadi sukar karena semakin menipisnya sumber pangan di alam bebas akibat laju pertambahan manusia.

DAFTAR PUSTAKA

CBS (Central Bureau of Statistics). 2003. Agricultural Census 2003. Central Bureau of Statistics, Jakarta.

CBS. Central Bureau of Statistics 2013. Agricultural Census 2013, Jakarta.

Davis, J, P. Caskie and M. Wallace. 2013. How Effective are New Entrant Schemes for Farmers? Euro Choices 12(3) 2013. The Agricultural Economics Society and the European Association of Agricultural Economists.

Hall, D., Hirsch, P. & Li, T. 2011. Powers of Exclusion: Land Dilemmas in Southeast Asia, NUS Press, Singapore.

Ingin Dibuatkan Tugas seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas costum lainnya??
Silahkan hubungi geraijasa.com di no Wa 0821-3805-4433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *