Pendahuluan

Upaya kedokteran dalam tatalaksana penyakit dapat bersifat kuratif atau paliatif. Di bidang kardiovaskular teknik pengobatan yang bersifat kuratif jarang ada karena umumnya tatalaksana penyakit kardiovaskular hanya bersifat paliatif. Pada pengobatan paliatif, keluhan dapat dihilangkan atau dikurangi dan harapan hidup bertambah tetapi proses penyakit itu sendiri tidak dapat dihentikan.1

Pengobatan yang bersifat kuratif di bidang kardiovaskular didapatkan pada terapi untuk takiaritmia pada pasien dengan struktur anatomi jantung yang normal. Dengan identifikasi lokasi terbentuknya impuls abnormal atau bagian penting dari jaras takiaritmia, maka eliminasi bagian tersebut akan menyembuhkan takiaritmia secara kuratif. Tindakan eliminasi itu disebut ablasi yang umumnya menggunakan energi frekuensi radio sehingga disebut ablasi radiofrekuensi.

Sejak diperkenalkan pada awal tahun 1980an, ablasi frekuensi radio (AFR) telah menjadi modalitas utama dalam terapi takiaritmia. Kini AFR bukan hanya dilakukan pada struktur jantung yang normal tetapi juga pada takiaritmia sekunder pada penyakit jantung struktural bahkan pada penyakit jantung kongenital yang kompleks.

Sayang sekali ketersediaan sumber daya manusia, yaitu dokter subspesialis aritmia dan ketersediaan alat teknologi tinggi berupa seperangkat mesin ablasi baik dua maupun tiga dimensi masih sangat terbatas di Indonesia. Oleh karena itu menjadi penting pertimbangan dalam hal seleksi pasien dan tempat tujuan rujukan untuk manfaat yang sebesar-besarnya bagi pasien.

Mekanisme Takiaritmia yang baik untuk diablasi

Terdapat 3 mekanisme terjadinya aritmia, yaitu (1) Reentri, (2) Aktivitas tercetus, dan (3) Otomatisitas. Dua mekanisme aritmia yang pertama memungkinkan dilakukannya induksi takiaritmia pada saat pemacuan jantung terprogram, sehingga sumber dan propagasi impuls saat takiaritmia dapat dipelajari dan dipetakan. Dengan demikian target ablasi untuk eliminasi takiaritmia dapat ditentukan dengan tepat dan evaluasi keberhasilan dapat dipastikan. Takiaritmia supraventrikular seperti takikardia reentri nodal atrioventrikular (TaRNAV), takikardia resiprokal atrioventrikular (TaRAV), fluter atrial, takikardia atrium dan takikardia ventrikel merupakan jenis-jenis takiaritmia yang memeiliki mekanisme reentri dan aktivitas tercetus. Takiaritmia yang didasari oleh mekanisme otomasitas tidak dapat dicetuskan dengan pemacuan jantung terprogram oleh karena itu pemetaan sulit dilakukan. Tetapi teknologi pemetaan tiga dimensi saat ini sudah mampu melakukan pemetaan berdasarkan kesamaan morfologi EKG terhadap template takikardianya dengan cukup akurat. Dengan demikian jika diperlukan takikardia otomatisitas puun dapat dieliminasi dengan ablasi.

Fluter atrial

Secara sederhana fluter atrial dibagi menjadi tipikal dan atipikal. Bentuk tipikal adalah bentuk yang paling sering ditemukan, dalam hal ini suatu sirkuit reentri makro berputar mengeliligi anulus tricuspid. Struktur antara anulus tricuspid inferior dan vena kava inferior yang disebut ismus kavotrikuspid (IKT) merupakan struktur penting yang selalu dilalui oleh fluter tipikal. IKT merupakan target ablasi pada fluter tipikal (Gambar 1).

Gambar 1. Skema jantung dengan dinding atrium kanan lateral yang dibuka. Panah melingkar menunjukkan sirkuit reentri fluter atrial tipikal yang berjalan berlawanan arah dengan jarum jam mengelilingi anulus tricuspid. Ablasi dilakukan memakai kateter ablasi 8mm (ABL) sepanjang struktur ismus kavotrikuspid (CTI). TCV= katup tricuspid, IVC= vena kava inferior.

Gambaran EKG pada fluter tipikal ditandai dengan morfologi gelombang fluter yang negatif di sadapan inferior membentuk pola seperti gigi gergaji (sawtooth) dan positif di sadapan V1 (Gambar 2).

Keberhasilan ablasi fluter atrial di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita mencapai 95%. Dalam jangka panjang ablasi fluter atrial tipikal ini secara signifikan memperbaiki kemampuan fisik, kesehatan mental dan vitalitas.2 Skema tatalaksana fluter atrial menurut panduan terakhir dari AHA/HRS disajikan pada Gambar 3. Tampak bahwa ablasi kateter direkomendasikan sebagai modalitas terapi kelas 1.3 Jika tipe fluter atrial yang dihadapi adalah tipe tipikal yang tergantung pada konduksi melalui IKT maka pilihan terapi utama adalah AFR.

Gambar 2. Fluter atrial tipikal. Tampak gambaran gigi gergaji yang dibentuk oleh gelombang fluter negatif di sadapan inferior.

Gambar 3. Skema tatalaksana fluter atrial. Dikutip dari kepustakaan no 3.

Takikardia Reentri Nodal Atrioventrikular (TaRNAV)

TarNAV adalah sebuah aritmia akibat reentri di perinodal atrioventricular. Dalam hal ini terdapat fisiologi jaras konduksi ganda nodal AV yaitu jaras cepat dan jaras lambat (Gambar 4A). Jaras cepat terdapat di bagian superior sedangkan jaras lambat di inferior nodal AV. Suatu denyut premature atrium yang terjadi pada saat yang tepat akan mendapatkan jaras cepat masih dalam keadaan refrakter sehingga impuls akan berjalan melalui jaras lambat. AFR dengan target jaras lambat dapat menyembuhkan TarNAV secara total (Gambar 4B). Risiko terjadinya blok AV total pada AFR TaRNAV sangat kecil yaitu sekitar 1%.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433