PEMANFAATAN MEDIA TELEVISI BAGI LANSIA SEBAGAI PEMENUHAN KEBUTUHAN (Studi pada Kelompok Lansia Kecamatan Pinang Kelurahan Neroktog)

Latar Belakang Masalah

Media massa yang paling banyak diminati oleh masyarakat Indonesia adalah televisi. Menurut Effendy (2002 : 21) yang dimaksud dengan televisi adalah televisi siaran yang merupakan media dari jaringan komunikasi dengan ciri-ciri yang dimiliki komunikasi massa, yaitu berlangsung satu arah, komunikatornya melembaga, pesannya bersifat umum, sasarannya menimbulkan keserampakan, dan komunikasinya bersifat heterogen.

Hadirnya berbagai macam acara yang disajikan bagi masyarakat ditandai dengan bermunculan stasiun televisi swasta, yang dipelopori oleh RCTI dan diikuti oleh SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, Trans TV, TV 7, Metro TV, Global TV, dan Lativi (Kuswandi, 1996: 35). Program acara yang disiarkan diklasifikasikan menjadi siaran berita, hiburan, pendidikan, budaya, masak-memasak, sosial dan iklan (Aron Meko Mbete dkk, 2013: 131). Tetapi, dari banyaknya program acara tersebut beberapa program acara yang paling sering diakses yaitu informasi dan hiburan.

Lansia merupakan pengakses media televisi yang paling banyak karena mereka mempunyai waktu luang akibat penurunan produktifitas atau pensiun. Hal ini disebabkan oleh mundurnya fungsi-fungsi otak dan daya konsentrasi berkurang (Sarwono, 2001: 35). Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia (Nugroho, 2012). Batasan lanjut usia menurut UU Nomor 13 tahun 1998, adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.

Menurut Hurlock (1999), lanjut usia merupakan individu yang sering ditandai dengan perubahan fisik dan mengalami berbagai permasalahan psikologis. Pada umumnya, lansia akan menghadapi masalah psikologis seperti kesepian, terasing dari lingkungan, ketidakberdayaan, kurang percaya diri, ketergantungan, keterlantaran terutama bagi lansia yang miskin, post power syndrome dan sebagainya. Lansia cenderung menggunakan media televisi untuk mengatasi masalah psikologis tersebut serta memperoleh informasi terkini. Mereka memiliki kesempatan yang lebih banyak dikarenakan banyaknya waktu luang.

Berdasarkan fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti tentang pemanfaatan media televisi bagi lansia sebagai pemenuhan kebutuhan studi pada kelompok lansia Kecamatan Pinang Kelurahan Neroktog. Peneliti melakukan studi pada kelompok lansia Kecamatan Pinang Kelurahan Neroktog dengan pertimbangan secara geografis lokasi penelitian dekat dengan tempat tinggal peneliti dan secara administrasi peneliti diizinkan oleh pengelola kelompok lansia Kecamatan Pinang Kelurahan Neroktog untuk melakukan penelitian.

Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena tersebut terdapat permasalahan yaitu bagaimanakah pemanfaatan media televisi bagi lansia sebagai pemenuhan kebutuhan studi pada kelompok lansia Kecamatan Pinang Kelurahan Neroktog?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media televisi bagi lansia sebagai pemenuhan kebutuhan studi pada kelompok lansia Kecamatan Pinang Kelurahan Neroktog.

Pertanyaan Penelitian

Upaya apakah yang diperlukan untuk pemanfaatan media televisi bagi lansia sebagai pemenuhan kebutuhan studi pada kelompok lansia Kecamatan Pinang Kelurahan Neroktog?

Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan kajian serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan serta bagi para peneliti lain diharapkan dapat digunakan sebagai literatur dalam penelitian yang lebih lanjut yang relevan dimasa depan.

2. Manfaat Praktis

Bagi kelompok lansia Kecamatan Pinang Kelurahan Neroktog, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menghadapi masalah-masalah terkait dengan masalah psikologis yang dialami oleh lansia yang berada di kelompok lansia Kecamatan Pinang Kelurahan Neroktog.

Review Penelitian Sebelumnya

Maya Yuniasari (2009) dengan judul “Pemanfaatan Media Televisi Bagi Lansia Sebagai Pemenuhan Kebutuhan (Studi pada Kelompok Lansia Wijaya Kusumadi Kecamatan Dau Kabupaten Malang)”.Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah pemanfaatan media televisi bagi lansia pada kelompok lansia Wijaya Kusuma di Kecamatan Dau Kabupaten Malang? Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Uses and Gratifications yang dilengkapi dengan teori Stimulasi dan teori Reduksi Tegangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi aktual secara terperinci mengenai pemanfaatan media televisi. Hasil penelitian mengatakan bahwa frekuensi menonton informan adalah rendah karena mereka hanya menonton acara-acara tertentu dan di waktu-waktu tertentu, acara yang ditonton kebanyakan adalah berita, bimbingan rohani, dan Dorce Show. Tujuan para responden menonton televisi yaitu sebagai upaya memperoleh informasi, pengetahuan, pendidikan, serta memperoleh hiburan melalui acara-acara di televisi yang bermanfaat. Makna televisi bagi informan adalah hasil dari kemajuan teknologi yang besar manfaatnya dalam kehidupan dimana para responden bisa mendapat informasi, pendidikan, menambah wawasan, mengetahui suatu kejadian, serta memperoleh hiburan. Dalam mengisi waktu luang para informan memiliki kegiatan lain untuk dikerjakan daripada menonton televisi secara terus-menerus. Hal ini didasari karena mereka sadar duduk berjam-jam menonton televisi tidak baik untuk tubuh mereka. Oleh karena itu pemanfaatan televisi bagi lansia digunakan untuk memenuhi aspek kognitif yaitu untuk mencari informasi serta mendapatkan pengetahuan melalui acara-acara yang bermanfaat, serta aspek afektif melalui acara-acara hiburan di televisi.

Kerangka Teori

1. Televisi

Menurut Effendy (2002 : 21) yang dimaksud dengan televisi adalah televisi siaran yang merupakan media dari jaringan komunikasi dengan ciri-ciri yang dimiliki komunikasi massa, yaitu berlangsung satu arah, komunikatornya melembaga, pesannya bersifat umum, sasarannya menimbulkan keserampakan, dan komunikasinya bersifat heterogen.

2. Lansia

Pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Sosial memberikan pengertian bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas, yang kemudian membaginya kedalam dua kategori yaitu usia lanjut potensial dan usia lanjut non potensial. Usia lanjut potensial adalah usia lanjut yang memiliki potensi dan dapat membantu dirinya sendiri bahkan sesamanya. Sedangkan usia lanjut non potensial adalah usia lanjut yang tidak memperoleh penghasilan dan tidak dapat mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhannya sendiri (Undang-Undang No. 13 Tahun 1998).

3. Pemenuhan Kebutuhan

Pemenuhan kebutuhan dari penggunaan media adalah suatu cara atau usaha dari individu untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut Hodgetss (1991), kebutuhan individu adalah suatu keadaan dimana seseorang merasakan suatu kekurangan dan berusaha untuk menutupi atau memenuhi kekurangannya tersebut.

4. Teori Uses and Gratification

Teori uses and gratifications ini lebih menekankan pada pendekatan manusiawi di dalam melihat media. Artinya manusia itu punya otonomi, wewenang untuk memperlakukan media. Blumer dan Katz percaya bahwa tidak hanya ada satu jalan bagi khalayak untuk menggunakan media. Menurut pendapat teori ini, konsumen media mempunyai kebebasan untuk memutuskan bagaimana (lewat media mana) mereka menggunakan media dan bagaimana media itu akan berdampak pada dirinya (Nurudin, 2004: 192).

5. Teori Stimulasi

Teori stimulasi, memandang manusia sebagai makhluk yang “lapar stimuli”, yang senantiasa mencari pengalaman-pengalaman baru, yang selalu berusaha memperoleh hal-hal yang memperkaya pemikirannya. Hasrat ingin tahu, kebutuhan untuk mendapat rangsangan emosional, dan keinginan untuk menghindari kebosanan merupakan kebutuhan dasar manusia. Komunikasi massa menyajikan hal-hal baru, yang aneh, yang spektakuler, yang menjangkau pengalaman-pengalaman yang tidak terdapat pada pengalaman individu sehari-hari.

6. Teori Reduksi Tegangan

Teori reduksi tegangan, memandang manusia sebagai sistem tegangan yang memperoleh kepuasan pada pengurangan ketegangan. Orang berusaha menghilangkan atau mengurangi tegangan dengan cara mengungkapkannya. Menurut kerangka teori ini, komunikasi massa menyalurkan kecenderungan destruktif manusia dengan menyajikan peristiwa-peristiwa kekerasan. Film kekerasan di televisi dianggap bermanfaat, karena membatu orang melepaskan kecenderungan agresifnya.

Inggin dibuatkan tugas seperti ini?
Butuh versi lengkap?
Atau ada tugas costum lainnya?
Silahkan hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *