Indonesia AirAsia; Analisa Peluang & Ancaman Sebagai pemimpin Maskapai Penerbangan Rute Internasional Berbasis Tarif Rendah di Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

                 Indonesia merupakan negeri dengan jumlah penduduk sebanyak 254.454.778 juta jiwa pada tahun 2014 menurut data dari Badan Pusat Statistik dan tercatat sebagai dengan jumlah penduduk terbesar nomor 4 di dunia. Negara berkembang seperti Indonesia ini memiliki prospek market yang tidak terbatas dan dinamis. membuat banyak investor tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. Hal tersebut merupakan daya tarik investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. Ada beberapa alasan yang membuat para investor tertarik dengan negara Indonesia antara lain; Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, tingkat konsumsi yang tinggi dan kondisi politik yang stabil adalah sejumlah faktor utama penarik investor. Selain itu hal ini dapat dilihat dari 8 juta sampai 9 Juta orang akan memasuki kelas menengah tersebut setiap tahunnya. Indonesia sendiri dari segi pedapatan masuk dalam lower middle income level, dimana menurut sumber World Bank pendapatan per kapita Indonesia tahun 2014 mencapai    US$ 3.491. Jika dibandingkan dengan negara Vietnam dimana pendapat per kapaita nya hanya US$ 2.052.3 pada tahun 2014 berdasarkan data dari World Bank. Hal ini terlihat jelas bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai mengarah ke arah yang positif.

Seiring perkembangan ekonomi yang demikian pesat yang melanda Indonesia dipastikan dengan semakin luasnya penerapan teknologi informasi di dalam semua aspek kehidupan dan kemajuan yang pesat di bidang transportasi, tak terkecuali transportasi udara / maskapai penerbangan yang semakin menggeliat. Dalam beberapa dekade ini industri penerbangan khususnya Indonesia mengalami pasang surut baik domestik maupun internasional. Sekedar untuk mengingat kembali pada tanggal 6 Juli 2007 Uni Eropa memberlakukan larangan terbang atas seluruh maskapai penerbangan Indonesia, termasuk maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia. Larangan terbang ini dikeluarkan karena maskapai Indonesia dinilai belum memenuhi standar keselamatan terbang sesuai aturan International Civil Aviation Organization (ICAO). Hal ini disebabkan adanya beberapa kasus kecelakaan yang menimpa maskapai Indonesia. Mengacu pada kejadian tersebut, penerbangan Indonesia mulai membenahi diri agar sesuai dengan standart keselamatan penerbangan internasional, hasilnya pada awal Juli 2009 mencabut larangan terbang ke Uni Eropa untuk Indonesia. Saat ini hanya 4 maskapai yang mendapatkan izin terbang ke Uni Eropa, salah satunya yaitu maskapai Indonesia AirAsia.  

AirAsia merupakan salah satu maskapai dari Malaysia yang menawarkan tarif rendah atau Low Cost Carrier (LCC) dengan tagline “Now, Everyone Can Fly”. Merangkum singkat sejarah berdirinya AirAsia yang sudah dijalankan selama kurang lebih 14 tahun oleh Anthony Francis Fernandes atau yang lebih dikenal dengan Tony Fernandes. Tony Fernandes lahir di Kuala Lumpur pada tahun 1964 dan tidak mempunyai latar belakang tentang dunia penerbangan. Pada tahun 2001, atas saran perdana menteri Malaysia meminta Tony Fernandes untuk membeli maskapai penerbangan dengan harga 1 ringgit Malaysia yang setara dengan Rp 3.000.-  pada waktu itu. Dalam membangun AirAsia Tony Fernandes mengalami berbagai kendala mulai dari harus menjual rumah untuk melunasi hutang maskapai tersebut  dan tragedi pembajakan pesawat pada 11 September 2001 silam yang membuat sebagian besar orang takut untuk melakukan perjalanan transportasi udara. Pada tahun 2014 maskapai ini memiliki omset tahunan lebih dari 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 12,41 triliun dan lebih dari 10.000 karyawan. Sekarang di tahun 2015 AirAsia telah 160 pesawat Airbus A320 dan A330 jet seri yang mengangkut lebih dari 230 juta penumpang per tahun. Tony menjadi orang yang pertama menghadirkan penerbangan berbiaya murah di Asia. Maskapai ini dibangun dengan memfokuskan diri pada segmen biaya terjangkau. Impian Tony sederhana, ingin semua orang menikmati layanan penerbangan. Berkat tangan dingin Tony Fernandes AirAsia dinobatkan sebagai maskapai berbiaya hemat terbaik dunia sekaligus sebagai maskapai berbiaya hemat terbaik Asia selama tujuh tahun berturut-turut versi Skytrax World’s Airline Awards. Saat ini AirAsia telah memiliki anak perusahaan seperti AirAsia X, Thai AirAsia, AirAsia Philippines, AirAsia Japan, dan Indonesia AirAsia.

Indonesia AirAsia didirikan pada tahun 1999 dengan nama Air Wagon International (AWAIR). Mereka memulai penerbangan ke beberapa kota di Indonesia pada tahun 2000, yang kemudian diikuti pembukaan penerbangan ke luar negeri ke Singapura. Persaingan yang ketat di sektor penerbangan di Indonesia membuat AWAIR menghentikan operasinya sekitar setahun kemudian. Pada tahun 2004, AWAIR diambil alih AirAsia berganti nama menjadi PT. Indonesia AirAsia, dan mengalihkan orientasi pasarnya ke penerbangan berbiaya rendah. Penerbangan pertamanya dimulai pada 1 Desember 2005. Singapura, Malaysia dan Australia adalah pasar sumber terbesar di Indonesia, akuntansi untuk 3,3 juta dari 9,4 juta pengunjung yang tercatat pada tahun 2014. Ini juga tiga IAAS untuk pasar internasional, akuntansi selama hampir 90% dari kapasitas kursi internasional.

Gambar 1.1 Indonesia annual visitor numbers: 2009 to 2014

Pada November 2011 terminal AirAsia di bandara Soekarno Hatta, Indonesia secara resmi berpindah dari terminal 2 menjadi terminal 3, dimana melayani penerbangan domestik maupun internasional. Kini, AirAsia Indonesia melayani 26 rute dengan 52 penerbangan yang terkoneksi melalui lima bandara penghubung, yaitu Cengkareng, Bandung, Denpasar, Surabaya, dan Medan. Indonesia AirAsia unggul dipasar penerbangan Internasional Indonesia dikarenakan tarif yang jauh lebih rendah jika dibandingkan kompetitor lain yang melayani penerbangan internasional.

Gambar 1.2 Indonesia AirAsia atas 10 rute domestik berdasarkan kapasitas kursi: 6-Juli-2015-12-Jul-2015

Indonesia AirAsia (IAA) selama hampir 17 tahun beroperasi di Indonesia tentu saja mengalami pasang surut. Dalam beberapa waktu tertentu IAA mengalami situasi krisis yang disebabkan karena faktor internal dan eksternal perusahaan. Puncak krisis AirAsia adalah tragedi kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 pada 28 Desember 2014, dimana pihak maskapai menyatakan bahwa pesawat tersebut hilang.[1] Dengan kejadian tersebut, AirAsia Indonesia mengalami krisis manajamen. Tak hanya itu, kemudian muncul isu deregulasi low price yang kemudian membuat AirAsia mengalami kendala internal. Menteri Perhubungan Ignatius Jonan ketika kecelakaan AirAsia, respon pertamanya adalah karena faktor keamanan, yang merupakan biaya yang harus ditanggung sebagai resiko penurunan harga. Sehingga, respon deregulasinya adalah mengubah batas bawah harga penerbangan.[2]

Manajemen krisis yang dihadapi AirAsia mempengaruhi pasarnya, dimana terjadi pemburukan reputasi perusahaan dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Di dalam majalah online CNN (2015) dilaporkan bahwa insiden kecelakaan pesawat Air Bus A320-200 nomor penerbangan QZ8501 dianggap oleh manajemen PT Indonesia AirAsia adalah sebuah keruntuhan citra perusahaan sebagai maskapai penerbangan murah (Low Cost Carrier/LCC) yang aman di benak masyarakat Indonesia.[3] Sedangkan banyak pihak menganggap bahwa insiden ini disebabkan oleh Low Cost Carrier (LCC) yang secara otomatis juga mempengaruhi kualitas penerbangan.

Dampak internal yang dirasakan oleh Indonesia AirAsia. Tragei QZ8501 ini memungkinkan akan berdampak pada laporan laba rugi perusahaan, misalnya AirAsia menanggung biaya-biaya administrasi dari insiden tersebut.[4] Dalam 1Q2015 IAA dioperasikan satu pesawat kurang dari 1Q2014 karena kecelakaan QZ8501. Tapi meminta turun 8% dan kapasitas kursi 19%, sehingga tingkat utilisasi pesawat yang lebih rendah.

Gambar 1.3 Laporan Kuartal  Kursi Penumpang Air Asia 2011-2015

Peristiwa yang dialami oleh Air Asia bukan dikatakan sebagai peristiwa sebelum atau sesudah periode pelaporan keuangan, namun bisa dikatakan sebagai peristiwa kontijensi yakni suatu keadaan yang masih diliputi ketidakpastian mengenai kemungkinan diperolehnya laba atau rugi pada suatu perusahaan, yang baru akan terselesaikan dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di masa yang akan datang.

AirAsia di tahun-tahun selanjutnya tidak mau berlama-lama larut dalam manajemen krisis pasca insiden. Pihak perusahaan mengupayakan sejumlah tugas penting di semua divisi manajemen untuk mulai berbenah. Apalagi bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas berada di kelas menengah masih membutuhkan penerbangan murah. Dudi Sudibyo , pengamat penerbangan (dalam Kompas, 2015) menyatakan LCC masih menjadi favorit masyarakat menengah ke bawah.[5] Maskapai berbiaya murah bagi konsumen penerbangan di Indonesia masih tetap bisa memperhatikan faktor keselamatan dan keamanan dalam menyediakan jasanya.

Dengan harapan yang besar, PT IAA mulai berbenah diawali dengan tindakan responsif setelah insiden tersebut. Tony Fernandes, CEO AirAsia, memberikan respon simpatiknya melalui media sosial Twitter. Melanjutkan responnya di media sosial, Tony Fernandez juga hadir di bandara Juanda Surabaya sebagai langkah nyata bahwa PT Indonesia AirAsia tidak lari begitu saja dari tanggungjawab. Tony hadir di hampir setiap konferensi pers yang digelar dengan membuka dialog dan merespons setiap pertanyaan, baik dari wartawan maupun keluarga korban.

PT Indonesia Air Asia juga melakukan pembenahan manajemen terkait deregulasi LCC oleh Menteri Perhubungan, pembekuan jadwal penerbangan ilegal, dan menarik konsumen Indonesia untuk mau menggunakan fasilitas penerbangan AirAsia dengan tarif rendah seperti sebelumnya. AirAsia juga melakukan rebranding bisnis penerbangan yang dilayaninya pasca proses evakuasi dan krisis QZ8501 tuntas dilakukan. Kenyataannya, AirAsia tetap menjadi pilihan dari masyarakat Indonesia dalam menggunakan jasa penerbangan terlebih dari kelas menengah kebawah ini, AirAsia tetap menjadi perhitungan di dunia bisnis penerbangan Indonesia. Selain itu, persepsi konsumen yang sudah terbentuk dan loyal terhadap jasa pelayanan tidak akan mudah berpindah kelain hati, tinggal bagaimana pihak dari manajemen AirAsia memahami keinginan konsumen bidikan mereka pasca Musibah QZ8501.

Belum ada satu tahun sejak insiden QZ8501, PT. Indonesia AirAsia mampu bangkit kembali. Dalam mengelola bisnis, PT. IAA melakukan transparansi untuk memulihkan manajemen dan mengembalikan jumlah penumpang seperti sedia kala. Beberapa rute penerbangan dinyatakan memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Intinya, PT. IAA berani menghadapi krisis manajemen tersebut dengan baik. Sehingga konsep penerbangan murah yang selama ini menjadi slogan PT. IAA tetap disambut hangat oleh masyarakat Indonesia.

  • Rumusan Masalah

1.1.    Apakah yang menjadi SWOT dari Indonesia AirAsia ?

1.2.    Bagaimana strategi Indonesia AirAsia  dalam melakukan penetrasi pasar di Indonesia untuk rute penerbangan internasional ?

1.3.    Bagaimana strategi Indonesia AirAsia untuk menghadapi kompetitor sebagai maskapai Indonesia bertarif rendah dengan rute internasional agar tetap menjadi pemegang pangsa pasar terbesar di Indonesia ?

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *