Media Massa dan Terorisme: Tragedi Besar 9/11 Terhadap Media Massa

I. Pendahuluan / Introduction

Tragedi pada tanggal 11 September 2001 adalah tragedi terorisme terbesar di Amerika Serikat. Mencoba mengkaji menggunakan teori, ada teori konstruktivisme yang menjelaskan bahwa suatu negara ingin survive dan secure berdasarkan interest, dan interest suatu negara dibentuk berdasarkan dengan siapa negara tersebut berinteraksi. Bagaimana Amerika berkomunikasi dengan aktor lain, dan bagaimana suatu media massa berinteraksi dengan para tokoh untuk mendapatkan informasi itulah yang akan membentuk negara itu. Media massa seharusnya mencoba memaparkan dengan detail atas segala kejadian agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan.

Namun, dari beberapa sumber memberitahukan bahwa media massa bekerja sama dengan aktor-aktor politik untuk hanya memaparkan sebagian saja. Kadang para aktor mengubah perspektif masyarakat melalui media massa. Dan yang sebenarnya terjadi, tidak semuanya dipaparkan oleh media massa. Sehingga, pertanyaan untuk penelitian ini adalah apa dampak tragedi 9/11 terhadap media massa?

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dalam penelitian ini, akan dibahas tentang apa terorisme dan tentang media massa. Akan disertakan pula hubungan keduanya, dan tentu akan dibahas tentang apa yang terjadi kepada media massa saat dan setelah kejadian besar 9/11 ini terjadi. Media massa terutama di AS terkena dampak shock juga dari kejadian ini sehingga mereka berada di kondisi yang tidak stabil.

II. Literature Review

Berhubungan dengan 9/11 adalah salah satu tragedi besar dunia,banyak perdebatan yang muncul tentang masalah ini, sehingga tragedi ini dapat dilihat dari berbagai macam perspektif. Untuk mengkaji masalah ini diperlukan banyak perspektif dimana tidak hanya melihat dari sisi Amerika nya saja, tetapi harus melihat dari segi media massa nya, apa saja yang mereka lakukan selama kejadian besar seperti ini.

Pada 11 September 2001, tragedi besar terjadi di Amerika Serikat. Terjadinya 4 serangan besar di beberapa wilayah, salah satunya adalah menabraknya sebuah pesawat ke gedung WTC. Seluruh serangan tiba-tiba ini membawa shock yang berat dan lama terhadap masyarakat disana. Tragedi tersebut dilakukan oleh Al-Qaeda, dan Osama Bin Laden bertanggung jawab atas kejadian ini.[1]

Peristiwa 9/11 membuat AS dilanda depresi, mereka menyaksikan sendiri bagaimana kericuhan yang terjadi disitu. Kejadian itu yang membuat AS membuat gerakan antiterorisme. Sejak peristiwa itu juga, AS memulai peperangan dengan Afganistan dan Iraq. Mindset masyarakat AS berubah sejak itu, terorisme mempengaruhi kehidupan disana. AS pernah mengalami teror sebelum-sebelumnya dan menjadi headline dalam berita di AS, tetapi peristiwa 9/11 menjadi headline di seluruh dunia. Kejadian ini membuat masyarakat AS mendiskriminasi Muslim.[2] Tetapi walaupun begitu, kejadian terorisme di AS menurun semenjak peristiwa tersebut.

Tragedi 9/11 ini adalah salah satu serangan paling mematikan dalam sejarah terorisme. Dengan terjadinya peristiwa 9/11 maka dibentuk ‘US Department of Homeland Security’ yang bertujuan melindungi warga AS dari serangan teroris.[3] Hampir 10 tahun setelah tragedi 9/11, penyerbuan terhadap Afganistan yang menjadi perang Amerika terlama dan terpanjang. Amerika berubah semenjak itu, serangan dari Al-Qaeda itu yang dipimpin oleh Osama Bin Laden, pandangan Amerika terhadap kaum muslim menjadi buruk, muslim terdiskriminas dan Amerika dilanda krisis ekonomi serta kesulitan di finansial.

Dalam buku ini akan diulas siapa saja yang dirugikan oleh media massa dan siapa yang diuntungkan. Bayangkan apabila tidak ada media massa, kabar tentang tenggelamnnya Titanic tidak akan terdengar.[4] Orang-orang tidak akan tahu ada kejadian apa, di mana, dan kapan. Mungkin semua berita akan tersebar nantinya, tetapi dari mulut ke mulut dan memakan waktu yang sangat lama. Dalam konteks ini, media massa adalah sebagai kontrol sosial. Dan fungsi kontrol sosial oleh media massa terlihat sangat jelas pada saat tragedi 9/11.[5]

Terdapat komplain dari Finnegan, beliau mengeluh mengapa media (press) tidak dapat mencari tahu sebab-sebab pembajakan pesawat hingga menabrak Twin Towers dan Pentagon. Secara umum, media hanya mengikuti aturan dari Komisi 9/11 saja dan tidak melakukan penyelidikan independen.[6]

III. Kerangka teori

Berdasarkan uraian kerangka teori di atas, penelitian di dihadapkan pada dua hal mendasar dan sangat penting yakni tragedi 9/11 di Amerika Serikat dan keberadaan media massa dalam menyiarkan tragedy tersebut di seluruh dunia.

Peristiwa 9/11 tidak hanya menjadi headline di Amerika Serikat saja melainkan di seluruh dunia. Media massa dengan gencar memberitakan peristiwa berdarah ini selama beberapa waktu. Masyarakat di seluruh dunia langsung tahu tragedy tersebut setelah media massa memberitakannya. Bagaimana tidak, Amerika Serikat dikenal sebagai negara adidaya yang hampir menguasai dunia. Tragedi ini tidak hanya membawa dampak duka mendalam bagi para korban namun juga membawa Amerika Serikat dalam status siaga dan memulai perangnya dengan Afganistan. Selain itu Amerika Serikat mulai mengalami krisis ekonomi setelah tragedi ini terjadi.

Media massa memaparkan tragedi 9/11 yang sangat menakutkan bagi seluruh warga AS dan membuat perspektif yang cukup kekal terhadap ketakutan. Terorisme mengincar media massa untuk bersikap seperti itu, agar masyrakatan tunduk kepada mereka, agar semua takut. Sekali lagi, tindakan terorisme memanfaatkan media massa.

Media massa dan terorisme memiliki hubungan. Terorisme memiliki banyak tujuan, salah satunya untuk menarik perhatian publik.[7] Teroris ingin memberitahu apa motif mereka dan mempublikasikan sebab-sebab perpolitikan melalui media massa. Karena teknologi media massa semakin maju, teroris pun lebih mudah untuk mempublikasikan maksud mereka.

            Penulis berasumsi bahwa media massa adalah cara paling mudah untuk mendapatkan informasi. Media massa dapat dibilang menjadi yang diandalkan untuk segala masalah besar yang ada. Walaupun sekarang telah diciptakan nya media sosial seiring perkembangan zaman, tetapi media sosial adalah dasarnya. Media sosial harus memaparkan apa yang sebenarnya terjadi, agar masyarakat tidak insecure dengan keadaan di sekitar dan tahu apa yang harus dilakukan.

IV. Analisa

1. Terorisme dan Media Massa

Kata teror berasal dari bahasa latin yaitu terrere yang kurang lebih diartikan sebagai kegiatan atau tindakan yang dapat membuat pihak lain ketakutan (Ezzat A. Fattah, 1997 dalam Hakim, 2004:9).[8] Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.

Komunikasi massa merupakan studi ilmiah tentang media massa beserta pesan yang dihasilkan, pembaca/pendengar/penonton yang akan coba diraihnya dan efek terhadap mereka. Joseph A. Devito (dalam Nurudin, 2003: 10) mengatakan:[9]

“Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi agaknya ini tidak berarti pula bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya; televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita).”

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *