ALTERNNATIF BAHAN BAKAR BRIKET BERBAHAN DASAR LIMBAH CANGKANG KULIT MELINJO (Gnetum gnemon) RAMAH LINGKUNGAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembuatan emping di beberapa daerah di Yogyakart, salah satunya pedukuhan Cembing akan memberikan dampak pada lingkungan berupa limbah dari cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon). Limbah cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) dapat dilakukan pengolahan untuk menurunkan kadar polusi udara. Cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) dapat meenimbulkan polusi udara, seperti menghasilkan gas CO2, NO3, dan gas SO. Gas-gas polutan ini akan meningkatkan pemanasan global. Akibatk dari cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) yang hanya dibakar oleh masyarakat pengrajin melinjo (Gnetum gnemon) umumnya.

Pengolahan cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) menjadi briket selain mengurangi polusi udara juga dapat dijadikan sebagai sumber energi alternatif dengan pembuatan briket cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon). Hal ini dimaksudkan agar cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) tidak hanya menjadi sampah dan dibakar percuma. Briket sebagai sebuah tahapan pemilihan pirolisis yang sebelumnya menghasilkan char (padatan) dan pada akhirnya menghasilkan briket (Bramono, 2004 dalam Nisandi, 2007).

Potensi kegiatan masyarakat sebagai penyedia jasa pembuat emping menjadi sebuah briket dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan menjadi nilai tambah bagi ekonomi masyarakat apabila diperjualkan. Selain itu, briket dapat mengurangi pengeluaran masyarakat untuk pembelian bahan bakar saat memasak seperti minyak tanah maupun gas. Hubungan mutualisme tersebut akan terjadi apabila masyarakat memang dapat mengelola dan mendayagunakan limbah cangkang kulitmelinjo (Gnetum gnemon). Keterkaitan lainnya adalah bahan bakar minyak yang persediaannya telah mengalami penurunan dan tidak lagi dapat dipergunakan untuk memenuhi kegiatan rumah tangga sebagai bahan bakar kompor dan telah digantikan oleh gas untuk kegiatan masak. Namun lama kelamaan gas yang juga berupa sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui juga akan mengalami penurunan kuantitas gas dan tidak lama lagi juga akan menjadi langka. Antisipasi bahan bakar yang akan menjadi langka padahal bersifat pokok untuk kegiatan rumah tangga tersebut harus menjadi fokus perhatian masyarakat.

Antisipasi tersebut berupa pembuatan energi altenatif yang bersumber pada limbah yang ada dimasyarakat. Pemanfaatan limbah dari cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) yang dekat dengan kegiatan masyarakat selain dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat dengan adanya pengurangan biaya produksi untuk membeli bahan bakar juga dapat berfungsi sebagai sarana penjaga kebersihan lingkungan dan menjadikan lingkungan hidup masyarakat bersifat berkelanjutan (suistanable). Kegiatan yang bersifat berkelanjutan ini diharapkan dapat memberikan keamanan, kenyamanan, dan dapat memenuhi kebutuhan generasi di masa yang akan datang untuk tetap dapat hidup secara layak.

B. Rumusan Masalah

  • Bagaimana potensi limbah cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) sebagai briket ramah lingkungan ?
  • Bagaimana proses pembuata briket dari limbah cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) ?

C. Tujuan

  • Membuat potensi limbah cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) sebagai briket ramah lingkungan.
  • Mengetahui proses pembuatan briket dari limbah cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon).

D. Manfaat

1. Bagi lingkungan
  • Penelitian ini dapat mengurangi limbah yang dihasilkan oleh industri rumah tangga emping.
2. Bagi pengembangan teknologi
  • Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu rekomendasi energi alteternatif.
3. Bagi peneliti
  • Penelitian ini dapat dijadikan sebagai kajian awal untuk penelitian lebih lanjut.
  • Menerapkan ilmu yang telah dimiliki untuk memecahkan masalah dimasyaratakat.
4. Bagi masyarakat
  • Memberi informasi mengenai potensi limbah cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) sebagai briket ramah lingkungan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Melinjo (Gnetum gnemon)

Di Indonesia, melinjo (Gnetum gnemon) merupakan tanaman yang tumbuh tersebar dimana-mana, banyak ditemukan di tanah-tanah pekarangan rumah penduduk pedesaan. Tanaman melinjo (Gnetum gnemon) termasuk tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae), tidak terbungkus daging tetapi terbungkus kulit luar. Bila tidak dipangkas, tanaman melinjo (Gnetum gnemon) bisa mencapai ketinggian 25 m dari permukaan tanah. Tanaman melinjo (Gnetum gnemon) dapat tumbuh pada tanah liat atau lempung, berpasir dan berkapur, tetapi tidak tahan terhadap tanah yang tergenag air atau berkadar asam tinggi dan dapat tumbuh dari ketinggian 0 – 1.200 mdpl. Lahan yang akan ditanami melinjo (Gnetum gnemon) harus terbuka atau terkena sinar matahari.

            Taksonomi tanaman melinjo (Gnetum gnemon) adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Plantae

Divisio             : Spermatophyta
Class                : Dicotiledoneae
Ordo                : Gnetales
Familia            : Gnetaceae
Genus              : Gnetum
Spesies            : G.gnemon

(Anonim,2010 dalam Ika Wahyu Yuni Asri, 2010)

Melinjo (Gnetum gnemon) sebagai tanaman serbaguna dan hampir seluruh bagian tanaman ini dapat di manfaatkan. Bijinya dapat diolah menjadi emping dan sangat digemari oleh masyarakat luas. Tanaman ini sangat ekonomis karena apabila sudah dewasa setiap pohon dapat menghasilkan 20-25 Kg buah melinjo (Gnetum gnemon). Mengingat prospeknya yang cukup cerah, maka usaha pengembanagan tanaman melinjo (Gnetum gnemon) banyak dilakukan baik secara vegetatif maupun generatif. Pengembangan tanaman secara vegetatif antara lain dapat dilakukan dengan cara cangkok, stek, dan sambung pucuk. Sedangkan untuk pengembangan secara generatif dapat dilakukan melalui biji yang dihasilkan (Soekarman, 2002 dalam Ika Wahyu Yuni Asri, 2010).

Buah melinjo (Gnetum gnemon) berbentuk oval, pada saat masih muda kulit buah berwarna hijau dan seiring dengan pertambahan usia kulit buah melinjo (Gnetum gnemon) berubah menjadi kuning, orange, dan merah setelah tua. Kulit buah melinjo (Gnetum gnemon) yang sudah tua berwarna cokelat kehitaman-hitaman, sedangkan bijinya berwarna kuning gading. Panjang biji melinjo (Gnetum gnemon) berkisar antara 1 cm-2,5 cm tergantung dari varietas melinjo (Gnetum gnemon) (Haryoto,1998 dalam Ika Wahyu Yuni Asri, 2010).

B. Limbah

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, limbah adalah sisa suatu usaha dan/ atau kegiatan. Kegiatan tersebut bisa berupa suatu bahan atau zat yang terbuang dari suatu sumber hail aktivitas manusia atau proses-proses alam, dan tidak atau belum mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif.

            Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa limbah dapat berdampak buruk bagi manusia. Limbah berdasarkan wujudnya dibagi menjadi :

1. Limbah cair

Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP 82 tahun 2001). Jenis limbah cair dapat digolongan berdasarkan pada :

  • Sifat fisika dan sifat agregat. Keasaman sebagai salah satu contoh sifat limbah dapat diukur dengan mengunakan metoda Tetrimetrik.
  • Parameter logam, contoh : arsenik (As) dengan metoda SSA.
  • Anorganik non metalik, contoh : amonia (NH3-N) dengan metoda biru indofenol.
  • Organik agregat, contoh : biological oxygen demand (BOD).
  • Mikroorganisme, contohnya : e-coli dengan metoda MPN.
  • Sifat khusus, contohnya : asam borat (H3 BO3) dengan metoda Titrimetrik.
  • Air laut, contohnya tembaga (Cu) dengan metoda SPR-IDA-SSA.
2. Limbah padat

Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum. Contoh limbah padat antara lain kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dan lain-lain.

3. Limbah gas dan partikel

Polusi udara adalah tercemarnya udara oleh beberapa partikulat zat (limbah) yang mengadung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.

C.    Energi alternatif

Energi alternatif adalah istilah yang merujuk kepada semua energi yang dapat digunakan dengan tujuan menggantikan bahan bakar konvensional tanpa akibat yang tidak diharapkan dari hal tersebut. Umumnya, istilah ini digunakan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar hidrokarbon yang mengakibatkan kerusakan lingkungan akibat emisi karbondioksida yang tinggi, yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global berdasarkan Intergovernmental Panel on Climet Change. Selama beberapa tahun, apa yang sebenarnya dimaksud sebagai energi alternatif telah berubah akibat banyaknya pilihan energi yang bisa dipilih dengan tujuan yang berbeda dalam penggunaannya.

Sumber energi alternatif adalah sumber energi yang bukan merupakan sumber energi tradisional (yaitu bahan bakar fosil seperti batubara, minyak dan gas alam). Beberapa kamus misalnya kamus Oxford menempatkan sumber energi alternatif berkolerasi dengan lingkungan dan menyatakan bahwa istilah sumber energi alternatif mengacu pada sumber energi yang tidak merugikan lingkungan.

D. Briket

Briket merupakan gumpalan (sebesar kepalan tangan) dari barang lunak yang dikeraskan melalui pembakaran (kbbi). Briket arang dapat ditingkatakan kerapatannya karena dalam proses pembuatanya melaui tahap pencetakaan. Bahan baku yang memiliki kerapatan tinggi akan menghasilkan briket arang dengan kerapatan tinggi, sedangkan bahan baku yang mempunyai kerapatan rendah akan menghasilkan briket arang dengan kerapatan yang rendah, sesuai dengan hasil penelitian Sudrajat 1984 (jurnal pembuatan briket arang dari campuran kayu, bambu, sabut kelapa dan tempurung kelapa sebagai sumber eneergi alternatif oleh Djeni Hendra).Briket arang tidak kotor dalam artian bahwa pada saat pembakaran abu yang dihasilkan sedikit. Briket arang juga praktis untuk digunakan karena mudah dibawa tidak berat dan panas yang dihasilkan tinggi.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Proses Pembuatan Briket Limbah Cangkang Kulit Melinjo (Gnetum gnemon)

Proses pembuatan briket limbah cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) dimulai dengan proses pembakaran. Pembakaran cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) dilakukan dengan di dalam kaleng roti yang berukuran besar. Setelah itu,  cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) dimasukkan ke dalam kaleng tersebut dan ditutup dengan penutup agar udara yang masuk kedalam kaleng dapat dikendalikan (Isman Uti Adan, 1998). Dibagian penutup diberi lubang agar asap hasil pembakaran dapat keluar dengan baik.

Bakar kaleng tersebut diatas batok kelapa yang telah menjadi batu bara. Pengunaan batok kelapa tersebut bertujuan untuk memanfaatkan limbah yang berada di sekitar rumah agar lebih bermanfaat. Ketika sudah tidak ada asap yang keluar dari lubang tutup tersebut, penutup dapat dibuka untuk memastikan bahwa cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) telah menjadi arang. Lamanya proses pembakaran bergantung pada jumlah kulit cagkang (klatak) melinjo (Gnetum gnemon) dan kandungan air dalam limbah cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon). Setelah proses pembakaran selesai, hasil pembakaran tadi diangkat. Kemudian ditumbuk agar menjadi halus dan diayak untuk mendapatkan bubuk arang yang seragam.

Langkah selanjutnya adalah membuat adonan perekat. Perekat ini terbuat dari tepung tapioka yang mudah dibeli di toko-toko kelontong. Cara membuatnya cukup mudah, yaitu campurkan tepung tapioka dengan air dengan perbandingan 1 : 12, yaitu untuk 100 gram tepung tapioka dicampur dengan 1200 ml air. Setelah itu campuran tepung tapioka diaduk terus-menerus agar tidak terjadi pengumpalan. Warna awal tepung tapioka putih keruh namun setelah beberapa menit akan berubah menjadi putih transparan yang menandakan bahwa adonan tersebut siap digunakan.

Adonan tepung tapioka yag sudah jadi terlebih dahulu didinginkan beberapa menit. Lalu masukkan kedalam wadah yang berisi arang yang sudah ditumbuk dan diayak sebelumnya. Perbandingan yang tepat antara perekat (adonan tepung tapioka) dengan bubuk arang adalah 600cc adonan perekat dengan 1 kg arang yang telah ditumbuk. Perbandingan antara perekat dengan bubuk arang harus tepat supaya briket yang dicetak hasilnya baik. Dalam pencampuran perekat (adonan tepung tapioka) dengan bubuk arang ditambahkan air sedikit demi sedikti. Penambahan air bertujuan untuk mempermudah adonan briket kulit cangkang (kalatak) melinjo (Gnetum gnemon) agar mudah tercampur.

Tahap selanjutnya adalah pencetakan. Cetakan yang dibutuhkan dibuat sendiri dari bambu yang di potong kira-kira panjangnya 5 cm. Selain menggunakan cetakan, briket dari limbah cangkang kulit melinjo (Gnetum gnemon) dapat dibentuk dengan tangan. Akan tetapi kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan mempergunakan cetakan. Hal ini dikarenakan tekanan yang dialami oleh briket dengan cetakan lebihbesar sehingga kerapatan briket meningkat. Sebaliknya jika pencetakan dilakukan dengan tangan tekanan yang dialami oleh briket lebih kecil, sehingga kerapatan briket lebih kecil pula.

Adonan yang sudah dicetak lalu dijemur dibawah sinar matahari selama +/- 12 jam. Lamanya penjemuran bergantung pada sinar matahari. Jika tidak ada sinar matahari penjemuran dapat memakan waktu lebih lama. Penjemuran ini dilakukan dengan tujuan agar briket benar – benar kering dan panas yang dihasilkan dalam proses pembakaran briket nanti lebih tinggi.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *