Teori Pemikiran Kelompok (Group Think Theory)

Peristiwa Group Think di Indonesia

A. Pendahuluan

Dalam suatu proses pengambilan keputusan, terdapat teori yang disebut teori pemikiran kelompok (group think). Group think merupakan proses berpikir dan mengambil keputusan ketika kelompok menghadapi keputusan yang penuh stres, mereka menjadi lebih memperhatikan adanya kesempatan daripada mengevaluasi fakta-fakta yang muncul dalam situasi yang dipikirkan. Hal ini bisa saja terjadi karena kelompok melakukan devensive aviodance, yaitu mencoba menghindari informasi yang mungkin menyebabkan kecemasan. Menurut Rakhmat (2005: 54) group think adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi.

Konsep group think merupakan hasil dari kohesivitas dalam kelompok yang pertama kali dibahas secara mendalam oleh Kurt Lewin di tahun 1930 sejak itu group think dilihat sebagai variable penting untuk efektifitas kelompok. Lahirnya konsep group think didorong oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh Raimond Cattel, yaitu melalui penelitian yang difokuskan pada kepribadian kelompok sebagai tahap awal.

Selanjutnya diperjelas oleh Irvin L. Janis, bahwa kelompok yang sangat kompak (cohesiveness) dimungkinkan terlalu banyak menyimpan atau menginvestasikan energi untuk memelihara niat baik dalam kelompok ini, sehingga mengorbankan proses keputusan yang baik dari proses tersebut. Kelompok dapat menghindari group think dengan dua tahap: discouraging leader bias dan menghindari isolasi kelompok. Kelompok jangan sampai dominan, dan memberikan kepada anggota untuk mengkritik. Untuk menghindari isolasi kelompok, rencana kebijakan kelompok dapat dibagi ke dalam sub group dan sub group ini bertemu untuk membahas tujuan kelompok secara terpisah, dengan pemimpin masing-masing sub group yang berbeda dengan pemimpin semula.

Model group think dari Janis merupakan aplikasi yang paling luas dipublikasikan prinsip-prinsip psikologi untuk pimpinan militer tingkat tinggi, pengambil keputusan kelompok politik dan teknis dalam sejarah psikologi eksperimental. Hal ini menarik bagi peneliti yang menawarkan formulasi ini sebagai jembatan menarik antara prinsip-prinsip yang didokumentasikan oleh laboratorium penelitian dan kehidupan nyata masalah (Irvin L. Janis, 1971). Dengan demikian model melegitimasi pentingnya dekade penelitian akademis tentang pengaruh sosial dan proses kelompok yang banyak berfokus pada penilaian persepsi dan sikap, memiliki sedikit atau tidak ada bahan konsekuensi untuk pastisipan.

Terdapat banyak gejala-gejala group think yang telah di teliti, contoh gejala group think yang paling sering dilihat dalam suatu kelompok misalnya adanya ketertutupan pikiran dari para anggota kelompok dan suatu pencarian kesepakatan kelompok yang terlalu dini pada kelompok tersebut. Sebab gejala-gejala tersebut sering ditemukan pada banyak kelompok, karena semua anggota kelompok sering lebih memilih diam ketika diadakannya suatu kegiatan pengambilan keputusan, dan lebih sering ikut dengan apa keputusan yang diambil oleh ketua kelompok.

Makalah ini akan membahas dua contoh peristiwa group think di Indonesia, yaitu penculikan 14 aktivis prodemokrasi jaman rezim Suharto dan keputusan Presiden SBY menonaktifkan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan.

B. Kajian Teori

Kurt Lewin (1930) dalam Antoni (2004: 48) menyatakan bahwa konsep group think merupakan hasil dari kohesivitas kelompok yang pertama kali dibahas. Sejak itu group think dilihat sebagai variabel penting untuk mencapai efektivitas kelompok. Teori Pemikiran Kelompok (Group think) lahir dari penelitian panjang Irvin L Janis. Melalui karya ’Victims of Groupthink : A Psychological Study of Foreign Decisions and Fiascoes (1972)’, Janis menggunakan istilah group think untuk menunjukkan suatu mode berpikir sekelompok orang yang sifatnya kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat (kebulatan suara) telah mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara realistis (Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss 2008: 346). Dari hal tersebut, group think dapat didefinisikan sebagai satu situasi dalam proses pengambilan keputusan yang menunjukkan tumbuhnya kemerosotan efisiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan-tekanan kelompok (Mulyana, 1999).

Sementara group think menurut Rakhmat (2005) adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, di mana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsesus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi. Dalam definisi tersebut, group think meninggalkan cara berfikir individual dan menekankan pada proses kelompok. Sehingga pengkajian atas fenomena kelompok lebih spesifik terletak pada proses pembuatan keputusan yang kurang baik, serta besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk dengan akibat yang sangat merugikan kelompok (Sarwono, 1999: 57). Terdapat empat gejala-gejala di dalam teori group think di dalam suatu kelompok yaitu, penilaian berlebihan terhadap kelompok, ketertutupan pikiran anggota kelompok, tekanan mencapai keseragaman anggota kelompok dan pencarian kesepakatan terlalu dini.

Bagian penting lainya dari teori group think adalah kekompakan yang didefinisikan sebagai sejauh mana anggota kelompok bersedia untuk bekerja sama. Hal ini merupakan rasa kebersamaan dalam kelompok. Kohesi muncul dari sikap suatu kelompok, nilai-nilai, dan pola perilaku, para anggota yang sangat tertarik pada sikap, nilai-nilai, dan perilaku anggota lain sehingga lebih mungkin untuk disebut kohesif. Kohesi berbeda dari satu kelompok ke kelompok lain, dan berbagai tingkat kohesi menghasilkan hasil yang berbeda. Singkatnya, kepuasan yang lebih besar dikaitkan dengan peningkatan kekompakan dalam kelompok.

Janis percaya kelompok-kelompok dapat mencapai derajat tinggi kekompakan; euforia ini cenderung menutupi pendapat dan alternatif lainnya. Dua gejala yang dibahas oleh Janis dalam kategori ini adalah stereotip hubungan eksternal dari kelompok dan rasionalisasi kolektif. Kajian group think menemukan fakta menarik bahwa banyak peristiwa yang berdampak luas disebabkan oleh keputusan sekelompok kecil orang, yang mengabaikan informasi dari luar mereka.

Berikut merupakan 3 asumsi penting dalam Group Think Theory:

  1. Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas tinggi.
  2. Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses yang terpadu.
  3. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok seringkali bersifat kompleks.

Dalam penelitiannya, Janis menemukan pemikiran kelompok dapat menimbulkan sesuatu yang negatif karena:

  1. Kelompok membatasi diskusi berdasarkan ide alternatif yang sudah ditentukan dan menutup kemungkinan atas ide kreatif lainnya. Sehingga keputusan kelompok yang diambil cenderung datar karena tidak ada penggalian ide yang mendalam.
  2. Tidak adanya pengkajian ulang atas ide awal yang dikemukakan oleh segelintir individu pemilik power terbesar dalam kelompok.
  3. Pengabaian pendapat minoritas.
  4. Tidak melibatkan seorang pakar atau ahli bidang yang dibutuhkan dalam membuat atau pengambilan keputusan.
  5. Memusatkan perhatian hanya pada informasi yang mendukung pengambilan keputusan.
  6. Kelompok terlalu percaya diri pada keputusan yang dibuat sehingga tidak meyiapkan alternatif untuk menghadapi hal buruk yang mungkin terjadi.

C. Pembahasan

1. Penculikan 14 aktivis prodemokrasi jaman rezim Suharto

Peristiwa penculikan 14 aktivis mahasiswa dan pro demokrasi tahun 1997-1998 adalah merupakan suatu contoh terjadinya group think oleh Suharto dan para kroninya dimana pada saat itu politik yang berkembang menginginkan adanya reformasi dan demokrasi yang dituntut oleh para mahasiswa kepada pemerintah Suharto, sementara hasil penilaian dari Kasospol ABRI yang dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono (1997-1998) memberikan suatu pendapat bahwa ke 14 aktivis prodemokrasi tersebut merupakan faktor yang membahayakan bagi kekuasaan pemerintah Suharto dan sangat kental dengan ideologi kiri,

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *