Masyarakat modern adalah masyarakat yang senantiasa berubah cepat. Saat ini, masyarakat pada zaman modern telah banyak mengalami perkembangan dalam kehidupannya dengan adanya teknologi informasi komputer yang canggih yaitu Internasional Networking (Internet). Di mulai sekitar tahun 1990-an sampai sekarang, perkembangan internet di Indonesia berkembang dengan pesat dan telah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi masyarakat yang hidup di era modern yang syarat dengan teknologi dan informasi. Internet dapat mempermudah masyarakat dalam mencari segala macam informasi di seluruh dunia yaitu dalam bidang ekonomi, pendidikan, seni, budaya dan sebagainya. Internet dapat menghubungkan seseorang ke seluruh dunia melalui jaringannya, memperluas daya geraknya tanpa pergerakan yang real tanpa mamandang status sosial, usia, dan jenis kelamin.

Penggunaan jaringan internet menimbulkan masalah karena subjeknya melebihi pada topik-topik teknis, pendidikan, hobi atau hal-hal yang diluar batas-batas norma kehidupan. Tingginya media jejaring sosial sangat booming di semua kalangan dari anak kecil, remaja hingga orang dewasa. Media sosial membuat komunikasi yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh, seperti sekarang ini banyak orang yang berkumpul tetapi mereka hanya fokus terhadap handphone androidnya masing-masing dan melupakan orang yang didekatnya. Hal tersebut menyebabkan rinsip kegotongroyongan menjadi sulit dibangun dan diterapkan dalam masyarakat modern seperti saat ini.

Berbicara mengenai prinsip kegotongroyongan, tentunya terlebih dahulu harus mengetahui definisi pekerjaan sosial. Definisi pekerjaan sosial menurut Charles Zastrow (2010) yaitukegiatan profesional untuk membantu individu, kelompok, dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan.

Seorang pekerja sosial menggunakan proses perubahan dalam bekerja dengan klien (individu, kelompok, keluarga, organisasi, dan masyarakat) (Zastrow, 2010: 89). Delapan keterampilan dalam proses perubahan dalam pekerjaan sosial (Zastrow, 2010: 90), yaitu:

  • Tahap 1      : Melibatkan Klien dalam Hubungan Kerja yang Tepat

Hubungan kerja terfasilitasi ketika pekerja mencerminkan empati, kehangatan, dan ketulusan.

  • Tahap 2      : Mengidentifikasi Isu, Masalah, Kebutuhan, Sumber Daya, dan Aset Mengidentifikasi berbagai masalah (pertanyaan /kepentingan/masalah)
  • Tahap 3      : Mengumpulkan dan Menilai Informasi.

Tahap ini berfokus pada koleksi yang mendalam dan analisis (penilaian) data untuk menyediakan pekerja sosial dengan jawaban isu-isu dan masalah yang diangkat dalam tahap 1.

  • Tahap 4      : Perencanaan untuk Penyediaan Layanan

Seringkali keputusan seperti itu melibatkan penilaian apakah calon klien memenuhi persyaratan.

  • Tahap 5      : Menggunakan Keterampilan Komunikasi, Pengawasan, dan Konsultasi.

Efektivitas sebagai pekerja sosial sangat tergantung pada kemampuan komunikasi pekerja baik keterampilan lisan dan tulisan. Mengenai pengawasan, setiap administrator lembaga ingin pekerja sosial yang merupakan “pemain tim” dan yang menanggapi pengawasan dengan cara positif daripada menjadi defensif ketika komentar kritis dan saran diberikan. Pekerja juga harus menyadari ketika konsultasi mungkin bermanfaat dan kemudian bersedia untuk memanfaatkan konsultasi tersebut.

  • Tahap 6      : Mengidentifikasi, Menganalisis, dan Melaksanakan secara Empiris.

Berdasarkan Intervensi yang Dirancang untuk Mencapai Tujuan Klien

Konseling satu-per-satu, konseling kelompok, pusat konseling di luar, mengangkat isu, dan menggabungkan materi pendidikan.

  • Tahap 7      : Menerapkan Pengetahuan Empiris dan Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi termasuk database komputer membantu gotong royong diterapkan.

  • Tahap 8      : Evaluasi Hasil Program dan Praktek Efektivitas

Memberikan cara untuk memantau dan mengevaluasi gotong royong.

Menurut pandangan Zastrow (2010), setidaknya ada beberapa peran yang biasa dilakukan oleh pekerja sosial, yaitu:

  1. Enabler

Sebagai enabler seorang pekerja sosial membantu masyarakat agar dapat mengartikulasikan kebutuhan mereka, mengidentifikasikan masalah mereka dan mengembangkan kapasitas mereka agar dapat menangani masalah yang mereka hadapi secara lebih efektif.

  • Broker

Peranan sebagai broker yaitu berperan dalam menghubungkan individu ataupun kelompok dalam masyarakat yang membutuhkan bantuan ataupun layanan masyarakat (community services) tetapi tidak tahu dimana dan bagaimana mendapatkan bantuan tersebut. Broker dapat juga dikatakan menjalankan peran sebagai mediator yang menghubungkan pihak yang satu dengan pemilik sumber daya.

  • Expert

Sebagai expert (tenaga ahli), ia lebih banyak memberikan saran dan dukungan informasi dalam berbagai area. Misalnya saja, seorang yang ahli dapat memberikan usulan mengenai bagaimana prinsip kegotongroyongan dibangun dan diterapkan dalam masyarakat modern seperti saat ini. Seorang expert harus sadar bahwa usulan dan saran yang dia berikan bukanlah mutlak harus dijalankan masyarakat, tetapi usulan dan saran tersebut lebih merupakan masukan gagasan untuk bahan pertimbangan masyarakat ataupun organisasi dalam masyarakat tersebut.

  • Social Planner

Seorang social planner mengumpulkan data mengenai masalah sosial yang terdapat dalam masyarakat tersebut, menganalisanya dan menyajikan alternatif tindakan yang rasional untuk menangani masalah tersebut. Setelah itu perencana sosial mengembangkan programnya, mencoba mencari alternatif sumber pendanaan dan mengembangkan konsensus dalam kelompok yang mempunyai berbagai minat ataupun kepentingan. Peran expert dan social planner saling tumpang tindih. Seorang expert lebih memfokuskan pada pemberian usulan dan saran, sedangkan social planner lebih memfokuskan tugas-tugas yang terkait dengan pengembangan dan pengimplementasian peranan.

  • Advocate

Peran sebagai advocate dalam pengorganisasian masyarakat diambil dari profesi hukum. Peran ini merupakan peran yang aktif dan terarah, dimana community worker menjalankan fungsi sebagai advocate yang mewakili kelompok masyarakat yang membutuhkan suatu bantuan ataupun layanan, tetapi institusi yang seharusnya memberikan bantuan ataupun layanan tersebut tidak memperdulikan.

  • Activist

Sebagai activist, seorang community worker melakukan perubahan institusional yang lebih mendasar dan seringkali tujuannya adalah pengalihan sumber daya ataupun kekuasaan pada kelompok yang kurang mendapatkan keuntungan. Seorang activist biasanya memperhatikan isu-isu tertentu, seperti ketidaksesuaian dengan hukum yang berlaku, ketidakadilan dan perampasan hak. Seorang activist biasanya mencoba menstimulasikan kelompok-kelompok yang kurang diuntungkan tersebut untuk mengorganisir diri dan melakukan tindakan melawan struktur kekuasaan yang ada.

  • Educator

Dalam menjalankan peran sebagai edukator (pendidik), pekerja sosial diharapkan mempunyai keterampilan sebagai pembicara dan pendidik. Pekerja sosial harus mampu berbicara di depan publik untuk menyampaikan informasi mengenai beberapa hal tertentu, sesuai dengan bidang yang ditanganinya.

Perkembangan pekerja sosial di Indonesia berawal dari nilai gotong royong masyarakat sebagai sistem pelayanan sosial. Gotong royong dianggap sebagai nilai paling dasar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Gotong royong yang  merupakan kepribadian asli Indonesia yaitu setiap sesuatu didasarkan atas azas gotong royong.

Prinsip gotong royong merupakan salah satu ciri khas atau karakteristik dari bangsa Indonesia. Mulai awal sudah diberikan doktrin bahwa gotong royong merupakan sifat dasar bangsa Indonesia yang menjadi unggulan bangsa ini dan tidak dimiliki bangsa lain. Masyarakat pedesaan identik dengan istilah gotong royong yang merupakan kerja sama untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Nilai-nilai gotong royong pada masyarakat pedesaan telah tumbuh dengan subur dan membudaya. Gotong royong dapat dilihat pada bentuk kegiatan masyarakat misalnya kegiatan keagamaan, kedukaan, perkawinan, dan aktivitas pemenuhan kebutuhan dasar hidup manusia lainnya misalnya, kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan ekonomi lainnya.

Pada saat bekerja dengan individual, kelompok, keluarga, organisasi, dan juga komunitas, peran pekerja sosial bermacam-macam berdasarkan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya menurut Zastrow (2010) antara lain sebagai enabler, broker, advocate, activist, mediator, negosiator, educator, initiator, empower, coordinator, researcher, group facilitator, dan public speaker. Tetapi ketika seorang pekerja sosial berhadapan dengan klien yang sudah berusia lanjut maka pekerja sosial berperan sebagai broker. Pekerja sosial berperan menghubungkan klien dengan sistem sumber yang dibutuhkan oleh klien dalam rangka meningkatkan keberfungsian klien. Masyarakat akan merasa lebih mudah dalam mengerjakan setiap aktivitasnya yang berhubungan dengan pekerjaan mereka dengan adanya modal sosial atau kelembagaan apabila aktivitas gotong royong lebih bersifat sukarela sehingga siapa saja dapat mengikutinya.

Masyarakat berperan dalam meminimalisir atau bahkan menghilangkan anggapan yang menyatakan bahwa perilaku gotong royong tidak penting. Dengan cara seperti ini maka dapat dimungkinkan akan terbangun motivasi internal pada masyarakat lapisan bawah untuk menanamkan semangat melestarikan perilaku kegotongroyongan. Masyarakat tidak memanfaatkan berbagai macam kasus tertentu sebagai upaya untuk menunggangi dengan perilaku gotong royong. Apabila hal ini dilakukan akan menciderai nilai dari gotong royong itu sendiri. Masyarakat meminimalisir jarak yang jauh antar lapisan masyarakat. Dengan cara ini maka dimungkinkan apabila ada gotong royong yang dilakukan tidak semakin canggung dilakukan.

Pekerja sosial dalam menghubungkan masyarakat terutama keluarga dengan sumber-sumber baik formal, informal maupun kemasyarakatan yang dapat dimanfaatkan dalam menangani masalah. Contohnya, berkaitan dengan remaja korban kecanduan internet peran broker adalah memecahkan masalah dengan mengkaitkan klien terhadap sistem sumber atau pelayanan sosial dasar yang dibutuhkan klien. Akhirnya diperlukan kesadaran diri dari masing-masing individu sebagai makhluk sosial yang membutuhkan sesamanya dalam mencapai kesejahteraan yang baik.

Dengan berkembangnya kehidupan masyarakat dan semakin modern, justru ketergantungan anggota masyarakat terhadap lembaga-lembaga sosial yang ada semakin tinggi. Keluarga, teman, para tetangga, kelompok sukarela dan asosiasi professional yang tergabung dalam sebuah masyarakat biasanya saling membantu satu sama lain. Dengan membenahi diri, selalu meng-up-date pengetahuan, ketrampilan, nilai yang berkembang di kehidupan masyarakat modern, “pekerja sosial profesional” terus dibutuhkan keberadaan dan kehadirannya di tengah masyarakat modern.

Referensi

Zastrow, C. (2010). Introduction to Social Work And Social Welfare. Belmont: Brooks/Cole Thomson Learning.

Zastrow, Charles. 2010. Introduction to Social Work and Social Welfare, 10th Edition Empowering People. Brooks/Cole, Cengage Learning: USA.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433