hubungan homosistein dengan abortus spontan

BAB  I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Aborsi spontan memberikan beban emosional dan finansial yang besar kepada pasangan muda dan masyarakat.1 Abortus spontan atau keguguran adalah kejadian produk konsepsi keluar sebelum usia gestasi 20 minggu yang terjadi tanpa unsur kesengajaan.2 Abortus spontan terjadi tanpa tindakan mekanis dan disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.3,4 Abortus spontan diduga sering disebabkan oleh abnormalitas uterus, gangguan hormon dan imunologi, infeksi, dan kelainan kromosom. Berdasarkann penelitian sebelumnya yang telah dilakukan di RSU Aghisna Medika, pada tahun 2015 terdapat 123 kasus abortus spontan dan meningkat menjadi 159 kasus pada tahun 2016. Data dari beberapa studi menyatakan bahwa ibu yang pernah mengalami abortus spontan 1 kali memiliki risiko abortus rekuren sebanyak 15%, meningkat menjadi 25% apabila pernah mengalami abortus sebanyak 2 kali, dan meningkat lagi menjadi 30 – 45% setelah mengalami abortus spontan 3 kali berturut-turut.5

Abortus spontan menjadi komplikasi kehamilan yang umum terjadi dan penyebabnya sangat bervariasi serta masih sering diperdebatkan.6 Beberapa studi menyatakan bahwa abortus spontan terjadi pada 10% – 25% kehamilan pada usia kehamilan antara bulan kedua dan kelima dengan 50% – 75% kasus disebabkan oleh abnormalitas kromosom.7 Abortus spontan di Indonesia diperkirakan sekitar 10 %-15% dari 6 juta kehamilan setiap tahunnya atau sekitar 600-900 ribu.8

Salah satu faktor resiko yang berperan penting dalam terjadinya abortus spontan yaitu homosistein. Homosistein pertama kali dijelaskan pada tahun 1932, publikasi utama tentang hubungan antara peningkatan konsentrasi homosistein dan kondisi patologis atau penyakit kardiovaskular, patologi kehamilan, gangguan neuropsikiatri hanya muncul dalam beberapa dekade terakhir.9,10 Homosistein adalah asam amino non-protein terbuat dari metionin yang kehilangan kelompok metil terminalnya. Homosistein dapat dikonversi kembali menjadi metionin menggunakan 5-metiltratrahidrofolat dan metilobalamin.11

Metabolisme homosistein berada di persimpangan dua jalur yaitu jalur remetilasi yang menghasilkan metionin atau membutuhkan folat dan vitamin B12), dan jalur transsulfurasi menjadi sistein yang membutuhkan pyridoxal-5′-fosfat.12 Molekul homosistein tidak dihilangkan selama reaksi remetilasi dan transmetilasi, tetapi diubah menjadi sistein selama transsulfurasi13, didukung oleh dua enzim yang bergantung pada vitamin B6: cystathionine β-synthase (CBS) dan cystathionine gamma-lyase (CTH). CBS mengkatalisasi kondensasi homosistein dengan serin untuk membentuk sistionin, sementara CTH memecah sistationin menjadi sistein dan α-ketobutirat. Selain perannya dalam sintesis protein, sistein adalah prekursor glutathione, antioksidan kuat dan senyawa sentral dalam detoksifikasi xenobiotik yang banyak.14 Dalam sebagian besar jaringan, remetilasi homosistein melalui sintase metionin atau dihapus dari sel. Hati merupakan organ utama degradasi metionin yang berlebih dan dalam mempertahankan homosistein pada tingkat yang memadai melalui serangkaian enzim yang unik, termasuk MAT I/III, CBS, CTH, BHMT, GNMT (glycine Nmethyltransferase). Salah satu mekanisme pusat untuk regulasi adalah S-adenosylmethionine yang tinggi menghambat MTHFR dan mengaktifkan CBS.14 Dengan demikian, kelebihan metionin menghasilkan kadar S-adenosylmethionine (SAM) yang lebih tinggi selama degradasi homosistein oleh transsulfuration. Sebaliknya, jika kadar metionin rendah misalnya selama puasa, kadar SAM rendah tidak mengaktifkan CBS dan tidak menghambat aktivitas MTHFR, sehingga menyebabkan remetilasi homosistein kembali ke metionin.

Terdapat tiga penyebab utama homosistein, pertama kerusakan genetik pada enzim metabolisme homosistein – 5, 10-MTHFR 677C → mutasi T yang menghambat konversi homosistein menjadi metionin; Mutasi T133C, p.I278T dan p.T191M dari gen CBS.15,16 Kedua, gangguan gizi yang mengakibatkan defisiensi folat atau vitamin B12. Kekurangan folat dapat disebabkan oleh sindrom malabsorpsi, alkoholisme dan penyakit hati. Karena sumber vitamin B12 adalah daging dan produk susu, vegetarian lebih rentan terhadap kekurangan B12.17,18 Ketiga, gangguan fungsi ginjal, meskipun mekanisme yang tepat dari akumulasi homosistein pada pasien dengan insufisiensi ginjal tidak dipahami sepenuhnya, kemungkinan penyebabnya mungkin pembersihan yang rusak atau penurunan metabolisme ekstrarenal.19,20 Peningkatan kadar homosistein selama kehamilan dikaitkan dengan komplikasi, seperti preeklampsia (PE), kehilangan kehamilan dini, placental abruption (PA), intrauterine growth restriction (IUGR), trombosis vena, dll. Tingkat ini terkait dengan efek homosistein pada fungsi endotel vaskular, aktivitas pro-oksidan dan tromboemboli tinggi.21,22

Beberapa penelitian mendukung pernyataan adanya hubungan homosistein dengan abortus spontan. Beberapa penyelidikan baru-baru ini telah menunjukkan hyperhomocysteinemia sebagai faktor risiko untuk aborsi spontan, meskipun demikian terdapat kontroversi dalam hal ini.23,24 Tingkat homosistein dikaitkan dengan peningkatan risiko aborsi spontan.25 Selain itu, wanita dengan aborsi spontan berulang yang tidak dapat dijelaskan memiliki kadar homosistein serum yang tinggi.26 Tingkat homosistein yang tinggi secara positif terkait dengan aborsi spontan di antara pasien di atas 35 tahun, tanpa ada hubungan yang signifikan pada pasien di bawah 35 tahun. Kadar homosistein yang tinggi pada rentang usia yang lebih tua dapat meningkatkan kejadian aborsi spontan.27

Kosentrasi homosistein pada ibu dihubungkan dengan peningkatan aborsi spontan masih menjadi masalah utama di bidang obstetri karena meningkatkan risiko hasil kehamilan yang buruk serta penurunan berat lahir dan durasi kehamilan, sehingga penulis ingin melakukan penelitian tentang hubungan homosistein dengan abortus spontan.

1.2 Rumusan Masalah

            Bagaimana hubungan homosistein dengan abortus spontan?

1.2.1 Hipotesis Penelitian

Ada hubungan homosistein dengan abortus spontan.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

            Menganalisis hubungan homosistein dengan abortus spontan.

1.3.2 Tujuan Khusus

Mengumpulkan data ilmiah yang tersedia saat ini untuk menutup kesenjangan dalam pengetahuan hubungan homosistein dengan abortus spontan.

1.4 Manfaat  Penelitian

a. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi

  • Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan prediktor homosistein dengan abortus spontan.
  • Dengan ditemukan prediktor homosistein dengan abortus spontan dapat dilakukan pencegahan kejadian.

b.  Dalam bidang pelayanan kesehatan

  • Mengurangi penyulit jangka pendek dan jangka panjang pada ibu yang mengalami homosistein dengan abortus spontan.
  • Memberikan sumbangan dalam upaya mengurangi angka kematian akibat homosistein dengan abortus spontan.

BAB  II

TINJAUAN  KEPUSTAKAAN

2.1. Homosistein

2.1.1 Definisi

Homosistein merupakan suatu senyawa hipertensif yang bereaksi dengan faktor relaksasi derivat endotel membentuk S-nitroso-homosistein dan superoksid yang menyebabkan hilangnya kekuatan vasodilatasi.28 Homosistein merupakan asam amino yang mengandung sulfur yang tidak terdapat dalam diet tetapi dibentuk sebagai hasil antara katabolisme metionin.29

Istilah homosistein di perkenalkan oleh du vigneaud pada tahun 1932, saat ditemukan senyawa ini untuk pertama kalinya.30,31 Homosistein (2-amino-4 mercaptobutanic acid) merupakan non- protein sulfhydryl amino acid (gambar 1). Yang metabolismenya terletak pada persimpangan antara jalur transulfurasi dan remetilasi.

2.1.2 Insiden

Dalam sel, homosistein terutama berada dalam bentuk tereduksi, sedangkan di ekstrasel homosistein sebagian besar ditemukan dalam bentuk teroksidasi baik sebagai suatu disulfida atau terikat protein. Homosistein tereduksi mempunyai gugus tiol bebas yang sangat reaktif, yang dapat berpartisipasi dalam reaksi redoks pada pH fisiologis, mudah mengalami autooksidasi membentuk ikatan disulfid antara dua molekul homosistein (homosistin) atau campuran disulfid dengan sistein. Kemungkinan lain, homosistein tereduksi dapat membentuk ikatan disulfid dengan protein misal albumin.32,33

Homosistein di dalam sel akan mengalami rematilasi menjadi metionin, mengalami perubahan menjadi sistasionin atau dikeluarkan dari dalam sel. Reaksi pertama dikatalisir oleh enzim 5–metil tetrahidrofolat–homosistein metil  transferase (metionin sintase) yang memerlukan kobalamin sebagai kafaktor, jalur alternatif remetilasi dikatalisir oleh enzim betain-homosistein metiltransferase. Dalam reaksi ini betain berperan sebagai donor metil. Enzim sistasionin β-sintase  merupakan B6-dependent enzyme yang mengkatalisir kondensasi homosistein dengan serin, membentuk sistasionin. Dalam keadaan normal reaksi ini bersifat irrevesibel. Dari titik ini homosistein selanjutnya akan memasuki jalur transsulfurasi. Suatu B6-dependent enzyme lain yaitu γ–sistasionase akan memecah sistasionin menjadi sistein dan ketobutirat.31

2.1.3 Metabolisme

Homosistein bukan merupakan kontituen diet normal. Satu-satunya sumber homosistein adalah metionin yaitu suatu asam amino essensial yang mengandung sulfur yang di peroleh melalui asupan protein. Biosistesis metionin akan menghasilkan produk antara asam folat, vitamin B6 dan B12 serta aktivitas berbagai enzim yang berperan pada jalur metabolismenya.31

Tahap pertama metabolisme homosistein adalah pembentukan S-adenosil metionin (Gambar 2) yang merupakan donor metil terpenting pada reaksi transmetilasi. S-adenosilmetinin, selanjutnya mengalami demetilasi membentuk S-adenosil homosistein, yang kemudian dihidrolisis menjadi adenosin dan homosistein. Homosistein selanjutnya memasuki jalur transsulfurasi atau jalur remetilasi. Sekitar 50% homosistein yang memasuki transsulfurasi, secara irrevesibel berikatan dengan serin melalui pengaruh enzim sistasionin β-sintase, untuk membentuk sistasionin. Sistasionin ini selanjutnya di metabolisme menjadi sistein dan α–ketobutirat melalui pengaruh γ-sistasionase. Sistein yang terbentuk dari homosistein ini akhirnya di rubah menjadi sulfat dan di ekskresikan ke dalam urin.31

Pada jalur remetilasi, homosistein akan mengalami daur ulang menjadi metionin melalui 2 reaksi yang berbeda. Reaksi pertama memerlukan enzim 5-metil tetra hidrofolat homosistein-metiltransferase (metionin sintase). Untuk aktivitas enzim ini dibutuhkan metikobalamin sebagai kofaktor dan metil tetrahidrofolat sebagai kosubtrat. Dapat di lihat pada gambar 2.

DMG     : dimeltoglisin,

MTHF    : metilentetrahidrofolat

NADP   : nikotinamid adenin dinukleotin fosfat

NADPH: nikotinamid adenin dinukleotid fosfat hidrogenase.

Metil tetrahidrofolat di bentuk dari tetrahidrofolat oleh pengaruh enzim metiltetrahidrofolat reduktase (MTHFR). Reaksi ini terjadi di semua jaringan. Jalur kedua dikatalisir oleh enzim betain- homosistein metil transferase.Reaksi dengan betain ini terutama terbatas dalam hati, namun Mc Keever seperti di kutip Ueland menyatakan bahwa reaksi ini juga terjadi di ginjal.Proses daur ulang serta penyimpangan homosistein akan menjamin penyediaan metionin yang cukup.31, 34

Pada keadaan kelebihan metionin, dimanfaatkan jalur transsulfurasi dengan meningkatkan regulasi sistasionin–sintase dan mengurangi regulasi jalur remetilasi, sedangkan bila terdapat defisiensi metionin dimanfaatkan menjadi jalur remetilasi.Dalam kadaan normal kadar homosistein darah puasa relatif sangat  sedikit,  kadarnya antara 5 – 15 umol/L. Besarnya kadar homosistein ini di kompartemen ekstrasel ditentukan oleh beberapa hal yaitu pembentukanya di dalam sel, metabolisme dan akskresinya. Bila produksi homosistein intrasel melebihi kapasitas metabolisme maka homosistein akan dilepaskan ke ruangan ekstra sel, sebaliknya bila produksi berkurang maka pengelepasan dari sel akan berkurang.Keadaan ini membantu mempertahankan agar kandungan homosistein intra sel tetap rendah.31 Jadi kadar homosistein dalam cairan ekstra sel seperti plasma dan urin sangat di pengaruhi oleh keseimbangan antara produksi dengan penggunaannya. Keseimbangan ini dapat terganggu pada keadaan-keadaan tertentu seperti gangguan aktivitas enzim atau akibat jumlah kofaktor yang berperan dalam metabolismenya berkurang. Pengukuran kadar homosistein selanjutnya digunakan sebagai pertanda untuk berbagai penyakit pada manusia.

Sekitar 70%-80% homosistein berikat dengan protein terutama albumin, melalui rangkaian disulfide dan sisanya merupakan homosistein yang tidak terikat protein yang bergabung sesamanya membentuk dimer atau berikatan dengan sistein membentuk di sulfide campuran sistein dan homosistein. Hanya sejumlah kecil (sekitar 1%) homosistein bentuk bebas di temukan dalam sirkulasi.31,34

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *