Pendahuluan

Apa itu multikultural? Multi berarti bermacam-macam, kultural berarti budaya, multikultural berarti bermacam-macam budaya. Sistem pendidikan nasional (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003) Pasal 4 Ayat 1 yang berbunyi, pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pasal tersebut menunjukkan bahwa multikultural menjadi landasan bagi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Multikultural mencakup berbagai aspek seperti keragaman etnis, suku, budaya, bahasa, sosial, ekonomi, agama, tingkat pendidikan, gender dan lain-lain.

Salah satu ajaran Tamansiswa yaitu sistem among. Kata among berasal dari bahasa Jawa yang bermakna seseorang yang bertugas ngemong dan jiwanya penuh pengabdian. Sistem among sudah dikenal sangat lama di lingkungan Tamansiswa. Sistem among merupakan suatu cara mendidik yang diterapkan dengan maksud mewajibkan kodrat alam anak-anak didiknya. Cara mendidik yang harus diterapkan adalah menyokong atau memberi tuntunan supaya anak-anak tumbuh dan berkembang atas kodratnya sendiri. Sistem among meletakkan pendidikan sebagai alat dan syarat untuk anak-anak hidup sendiri dan berguna bagi masyarakat. Pengajaran bagi Tamansiswa berarti mendidik anak agar menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, merdeka tenaganya.

Kasus kekerasan jalanan yang melibatkan pelajar atau yang kerap disebut klitih banyak terjadi di Yogyakarta. Salah satu contoh kasus klitik yang terjadi di Desa Nglantheng, Imogiri telah menimbulkan korban meninggal yaitu Adnan Wirawan salah seorang pelajar kelas X di SMA Muhi Yogyakarta

Gambar 1. Korban Klitih, Adnan Wirawan

Upaya mengantisipasi agar tidak terulang kembali permasalahan klitih adalah melalui pengenalan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang didalamnya berisi tentang keberagaman budaya baik itu adat istiadat, bahasa, tradisi, cara bergaul dan lain sebagainya. Tujuan pendidikan multikultural agar peserta didik dapat berperilaku saling menghargai dan toleransi dalam bermasyarakat.

Pentingnya membahas permasalahan atau isu yang dipilih yaitu paling tidak dengan penerapan salah satu sistem among yang terdiri menjadi tiga yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani dalam mendidik anak sehingga kita bisa meminimalisir karakter anak yang kurang baik. Makalah ini akan membahas tentang “Penerapan Sistem Among Untuk Menanamkan Karakter Anak Dalam Kehidupan Sehari-Hari”.

Diskusi dan Penyelesaian Masalah

Salah satu contoh kasus klitih yang terjadi di Desa Nglantheng, Imogiri telah menimbulkan korban meninggal yaitu Adnan Wirawan salah seorang pelajar kelas X di SMA Muhi Yogyakarta. Kasus tersebut menunjukkan kurangnya karakter baik dalam diri anak yang berbuat klitih sehingga sampai menimbulkan korban meninggal.

Peran keluarga sebagai lingkungan pertama anak sangat penting dalam menanamkan karakter baik pada anak. Penerapan sistem among dapat mengurangi karakter buruk anak. Sistem among menurut Ki Hadjar Dewantara mencakup tiga aspek, yaitu asah, asih dan asuh. Aspek asah menekankan pada pemikiran dan wawasan intelektual peserta didik. Aspek asih mengacu pada proses pembelajaran yang didasarkan pada unsur kasih sayang dan kekeluargaan. Sedangkan aspek asuh berhubungan dengan pembinaan dan pembimbingan (Dewantara, 2011).

Perapan sistem among tidak dapat terlepas dari tiga unsur pendidikan (tripusat) yang diterapkan Ki Hajar Dewantara. “Didalam hidupnya anak-anak ada tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya yaitu alam keluarga, alam perguruan, alam pergerakan pemuda”. Pertama, pendidikan berlangsung dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga diterapkan sejak anak dalam kandungan, kemudian lahir dan berkembang. Kedua, pendidikan berlangsung di sekolah dapat membentuk kecerdasan, keterampilan, budi pekerti anak. Ketiga, pendidikan yang berlangsung di masyarakat bertujuan agar anak dapat terjun langsung dalam suatu organisasi atau perkumpulan. Ketiga unsur pendidikan tripusat tersebut tidak dapat dipisahkan.

Penerapan sistem among untuk menanamkan karakter anak dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, yaitu:

  1. Ing ngarso sung tulodo, orangtua apabila di depan selain sebagai manajer tetapi juga memberikan contoh baik bagi anak. Misalnya ketika orantua menyuruh anak belajar, maka orangtua juga harus sibuk belajar untuk memberi contoh langsung kepada anak. Orangtua dapat memberi contoh belajar dengan membaca Koran atau buku ketika menemani anak belajar.
  2. Ing madyo mangun karso, orangtua apabila berada di tengah-tengah anak harus bisa membangkitkan motivasi dan sebagai mitra untuk meningkatkan produktivitas. Misalnya ketika anak mendapat nilai jelek di sekolah, orangtua tidak boleh memarahi anak akan tetapi harus memberikan motivasi untuk belajar lebih giat lagi.
  3. Tut wuri handayani, orangtua apabila berada di belakang harus bisa mendorong dan membimbing anak supaya lebih maju. Misalnya untuk menunjang pendidikan anak, orangtua harus mengusahakan yang terbaik baginya karena pendidikan merupakan salah satu pintu masa depan anak.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, hal utama bagi para guru adalah menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian. Guru harus memberikan contoh terbaik untuk siswa. Hal tersebut meliputi datang ke sekolah lebih awal, berpakaian rapi, bertutur kata yang baik dan menjadi teladan. Kepala sekolah beserta guru memberikan waktu 24 jam jika ada segala sesuatu yang dikomunikasikan dari orangtua siswa baik melalui SMS atau telepon.

Dengan penerapan sistem among di lingkungan keluarga dan sekolah dan masyarakat tersebut, maka dapat menjadi solusi untuk menanamkan karakter anak dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan dan Saran

Perapan sistem among tidak dapat terlepas dari tiga unsur pendidikan (tripusat) yang diterapkan Ki Hajar Dewantara. Pertama, pendidikan berlangsung dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga diterapkan sejak anak dalam kandungan, kemudian lahir dan berkembang. Kedua, pendidikan berlangsung di sekolah dapat membentuk kecerdasan, keterampilan, budi pekerti anak. Ketiga, pendidikan yang berlangsung di masyarakat bertujuan agar anak dapat terjun langsung dalam suatu organisasi atau perkumpulan. Ketiga unsur pendidikan tripusat tersebut tidak dapat dipisahkan. Sistem pendidikan among yang terdiri menjadi tiga yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani dapat menjadi solusi untuk menanamkan karakter anak dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi

Dewantara, Ki Hadjar. 2004. Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama Pendidikan Cetakan Pertama. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Dewantara, Ki Hadjar. 2009. Menuju Manusia Merdeka Cetakan Pertama. Yogyakarta: Leutika.

Dewantara, Ki Hadjar. 2011. Ki Hadjar Dewantara Pendidikan dan Kebudayaan Cetakan Keempat. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Rahayu, Ayu. 2015. Penerapan Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dalam Pembelajaran untuk Membentuk Peserta Didik Berkarakter Cerdas dan Berintegrasi. Jurnal Edukasi Volume IX.1.

“Ingin dibuatkan makalah seperti ini??
Butuh Versi Lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no 082138054433″