1. Latar Belakang

Konsumen di pasar yang berkembang semakin dihadapkan dengan pilihan antara local brand yang lebih tua dan nonlocal atau foreign brand yang lebih baru. Perubahan gaya hidup di masyarakat atau kecenderungan untuk menonjolkan identitas individu sehingga berbeda dengan yang lain membuat local brand telah terbukti lebih banyak bertahan dan tetap diterimaoleh masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu.

Pertumbuhan produk lokal kini semakin berkembang, antara lain produk pakaian, sepatu, tas dll. Indonesia memiliki local brand yang berpotensial dimana beberapa local brandnya telah berhasil go international lebih awal, bahkan disangka merupakan brand asing. Beberapa merek ternama asli Indonesia yang masih sering dianggap merek tersebut impor misalnya merek Polygon, Edward Forrer, J-Co, Excelso, Polytron, dll.

Globalisasi merupakan slogan dari merek yang paling favorit dan utama serta bisnis di seluruh dunia. Globalisasi menghasilan ide dari sebuah merek. Era globalisasi dan free trade membawa peluang memperkenalkan local brand ke dunia internasional. Saat ini, perusahaan global menghadapi keputusan yang sulit terkait strategi go international merek asli Indonesia yang akan diadopsi. Strategi global tersebut bertujuan untuk memaksimalkan standardisasi, homogenisasi dan integrasi aktivitas di seluruh pasar di dunia.

Paper ini mengeksplorasi potensi merek asli Indonesia, mengenali kelemahan local brand Indonesia untuk kemudian diatasi dengan strategi sehingga merek asli Indonesia dapat grows globally.

2. Tinjauan Teori/ Data

a. Local Brand

Local brand didefinisikan pada spektrum yang sejajar dengan merek asing. Fenomena lain yang penting mengenai definisi local brand adalah “strategi bunglon” (Anestis et al. 2008 dalam Martin Johannes Stoebe, 2013). Meskipun digambarkan sebagai “hanya tersedia di wilayah geografis tertentu” (Dimofte, Johansson, dan Ronkainen 2008: 118), local brand memiliki kekuatan sendiri, seperti persepsi keunikan, orisinalitas, dan kebanggaan yang mewakili pasar lokal. Local brand secara tradisional bermanfaat dari tingkat kesadaran yang tinggi dan memiliki hubungan dekat dengan konsumen di negara-negara mereka. Dimofte, Johansson, dan Ronkainen (2008) mengungkapkan, local brand tidak hanya mencerminkan tetapi juga membantu menentukan karakter pasar lokal. Dengan demikian, beberapa merek tersebut dianggap sebagai ikon lokal di pasar sejauh mereka berhubungan dengan simbol dari budaya lokal, warisan, dan negara.

b. Global Brand

Menurut Quelch (2007), global brand sebagai (i) perusahaan global; (ii) dengan posisi yang sama di seluruh dunia; (iii) yang berfokus pada kategori produk tunggal; (iv) dimana nama perusahaan merupakan nama merek; (v) dan bertanggung jawab secara sosial. Sebagian besar studi mengumpulkan bukti empiris untuk kepercayaan dalam “Efek Merek Global”, atau daya tarik konsumen (Hassan dan Katsanis, 1994; Özsomer, dan Simonin, 2004). Global brand diyakini menghasilkan keuntungan lima kali lipat namun terkait dalam kompetisi mereka untuk preferensi konsumen. Baik di pasar domestik dan internasional, global brand menimbulkan efek lebih positif (Alden, Steenkamp, dan Batra, 1999); menunjukkan kualitas yang lebih tinggi (Steenkamp, Batra, dan Alden, 2003); menikmati harga yang lebih besar (Johansson, dan Ronkainen, 2005); membangkitkan mitos global yang menarik (Holt, Quelch, dan Taylor, 2004), dan umumnya memiliki keuntungan local brand yang lebih.

3. Analisis/ Pembahasan

a. Potensi Merek Asli Indonesia

Salah satu potensi besar merek asli di Indonesia yaitu pembuatan yang handmade. Merek asli Indonesia memiliki potensi menjadi tuan di negeri sendiri dengan memenangkan hati para konsumen. Merek asli Indonesia dipilih berdasarkan sejumlah kriteria seperti merek yang lahir di Indonesia, memiliki kinerja bagus, serta memiliki prestasi dalam berbagai ajang penghargaan yang diselenggarakan oleh Indonesia Customer Satisfaction Award (ICSA). Selain itu, produk merek asli Indonesia unik karena beberapa penjual eceran (riteler) di Indonesia mengemas produk yang dijual dengan kemasan dan merek sendiri (private label). Private label yang memiliki nama lain private brand dan store brand adalah merek yang diciptakan dan dimiliki oleh penjual eceran barang dan jasa (Kotler dan Armstrong, 2004). Sebagai contoh, private label di Indonesia yang merupakan hasil observasi (Benny B. Tjandrasa, 2006) dari awal tahun 2006 sampai bulan Juni 2006 ke beberapa jaringan ritel di Bandung adalah handuk bermerek Melrose yang dijual di jaringan toko Yogya Group dan handuk bermerek Beverly yang dulu dijual di jaringan toko Matahari (sekarang Hypermart). Handuk yang dijual tersebut tidak diproduksi sendiri, melainkan langsung dibeli dari produsennya.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433