BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Globalisasi adalah era global / modern yang dinyatakan bahwa dunia ini terasa seperti  sebuh kampung keecil. Yang didlamnya terdpat interaksi antarnegara, peradapan, dan budya yang semakin mudah untuk dilakukan. Didalam proses ini saling memengaruhi antara satu budaya dengan budaya lain yang semakin intens dan dengan proses yang begitu cepat, baik budaya itu bersifat positif maupun negative. Dan pada akhirnya, globalisasi ini menjadi alaat untuk saling memengaruhi antara perdapan, budaya, ideologi daan agama.

Dalam menghadapi di masa era global ini, islam tidak pernah menutup diri. Karna islam adalah sebuah doktrin agama yang menghendaki pemeluknya untuk hidup lebih baik dan lebih maju. Akan tetapi, islam juga tidak menerima seluruhnya tanpaadanya penerimaan ( reserve ). Islam akan menerima globalisasi apabila menimbulkan kemaslahatan bagi umat manusia. Dan islam akan menolak globalisasi apabila ia akan memberikan kerusakan bagi peradapan umat manusia dan tidak sejalan dengan nilai – nilai islam.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian tentang islam dan globalisasi ?
  2. Sebutkan macam macam karekteristik islam globalisasi ?
  3. Baagaimana reaksi pemikiran islam terhadap globalisasi ?

C. Tujuan Penulisan

        Tujuan yang akan dicapai melalui makalah yang berjudul “ Reaksi pemikiran islam terhadap globalisasi “ ini adalah supaya kita tau akan hal pentingnya kita mengetahui sejarah tentang globalisasi diera modern ini.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian islam dan globalisasi

Dari segi bahasa ( etimologi ) islam berasal dari bahasa Arab, yaitu salima yang berarti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima itu selanjutnya diubah menjadi bentuk dari kata aslama yang berarti bererah diri masuk kedalam kedamaian. Sealain itu, juga mempunyai arti yaitu memelihara dalam keadaan sentosa, menyerahkan diri, tunduk, paatuh,,dan taat.

Adapun kata globlisasi berasal dari kata “ global “. Globalisasi (globalization) merupakan proses menuju kearah global. Arti dalam kata global iu sendiri adalah menyeluruh atau menyatu, dari berbagai unsur menjadi satu. Sedangkan mnurut terminology, globalisasi adalah era global/ modern bahwa dunia ini seperti sebuah kampung kecil yang bisa untuk interaksi antarnegara, peradaban,dan budaya.[1] Dalam menghadapi di masa era global ini, islam tidak pernah menutup diri. Karna islam adalah sebuah doktrin agama yang menghendaki pemeluknya untuk hidup lebih baik dan lebih maju. Akan tetapi, islam juga tidak menerima seluruhnya tanpaadanya penerimaan ( reserve ).

  • Macam macam karakteristik islam globalisasi

Ungakapn didalam” islam, globalisasi, dan peradaban dunia “ ini berusaha untuk menjeelaskaan persinggungan, pertentangan, ataau persamaan diaantara masing masing muatan konsep tersebut.

Dengan demikian, terlebih dahulu dijelaskan masing masing istilah tersebut.. islam adalah agama yang memiliki karakter berikut.

  1. Menjanjikan keselamatan dunia akhirat. ( man aslaamaa salima, – Barang siapayang menyerahkan diri ( kepada Allah ) mka ia akan selamat atau Barang siapa yang beragama islam aakan selamat ).
  2. Islam sebagai agama yang sempurna.
  3. Islam menjelaskan sesuatu yang semuanya untuk keselamatan manusia.
  4. Tebaran penyelamat islam mencakup sseluruh alam semesta, atau lebih dari sekedar globalisme.
  5.  Penyelamatan yang dijanjikan islam sedemikian sempurna, komprehensif, global dan mendetail.  
  6. Penyerahan diri seorang Muslim tertuju kapada Allah S.W.T secara mutlak
  7. Meskipun lebih dari global dalam waktu yang sama, islam juga  merupakan agama eksklusif ketika harus berhadapan dengan segala bentuk sekularisme dan kebatilan dari system ketauhidan yang murni.
  8. Oleh karna itu, islam menyeru kepaada siapapun yang memilihnya sebagai agama, unttuk kedalamnya secara total.
  9. Tidak ada sesuatupun yang dibiarkan tidak diperhatikan kepada islam.

Globalisasi sendiri memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Internasionalisasi ( dari kedaerahan menuju kearah yang lebih luas ).
  2. Liberalisasi ( paham menuju arah serba bebas dan melepaskan normaa norma yang telah mapan, antara lain norma norma agama islam ).
  3. Suprateritotialisme ( ruang ruang sosialitas tidak lagi dapat dipetakan dengan jarak dan batas batasan wilayah. Dengan demikian, dunia adalah satu wilayah ).
  4. Universal ( dunia telah menyatu tidak ada lagi yang menyekat antara wilayah satu dan yang lain sebagai berkahkemajuan iptek, terutama teknologi telekomunikasi ).
  5. Westernisasi ( arah peradaban dari dunia Timur menuju arah kulturl dunia barat ).[2]
  • Reaksi pemikiran islam terhadap globalisasi

Sekarang ini dunia dengan perkembangan muktakhir di bidang teknologi komunikasi hampir tidak memiliki batas yang jelas satu peristiwa yang sedang terjadi di Eropa atau Amerika Serikat. Secara langsung kita dapat menyaksikannya di rumah kita sendiri di Indonesia, sayangnya, seperti yang telah dielaborasikan dalam pembahasan mengenai sumbangan Islam terhadap peradapan dunia, umat Islam sekarang ini berada pada posisi yang sangat menghawatirkan, diantara mereka masih ada yang belum mampu mengoprasikan komputer, internet, dan beberapa produk teknologi lainnya.

Karena rendah dalam penguasaan dan pengembangan sains dan teknologi, umat Islam menjadi kelompok yang  terbelakang mereka hampir di identikkan dengan kebodohan, kemiskinan dan tidak berperadapan sedangkan sisi lain umat agama lain begitu maju dengan berbagai teknologi pertanian atas dasar itulah, terjadi berbagai reaksi terhadap kemajuan pemeluk agama-agama lain. Secara umum, reaksi tersebut dapat dibedakan menjadi empat, yaitu tradisionalis, modernis, revivalis, dan trans formatif. Penjelasan masing-masing kecenderungan tersebut dapat diikuti pada bagian berikut.

  1. TRADISIONALIS

Pimikiran tradisionalis ini percaya bahwa kemunduran umat Islam adalhyh ketentuan dan rencaanaa Tuhan. Hanya Tuhan yang mahatahu tentang apa itu hikmah, di balik kemundurn dan kelataarbelakangan umat islam. Kemunduran daan kelatarbelakangan umat Islam dinilai sebagai “ ujian “ atas keimanan, dan kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di balik kemajuan dan pertumbuhan umat manusia.

Cara berfikir tradisionalis ini tidak hanya terdapat dikalangan muslim di perdesaan atau yang diindetikkan dengan NU, tapi sesungguhnya pemikiran tradisionalis ini terdapat diberbgai kalangan organisasi atau diberbagai tempat. Banyak diantara mereka yang dalam faktor kehidupan sehari-hari menjalani kehidupan yang sangat modern dan mengasosiasikan diri sebagai golongan modernis namun ketika kembali kepada persoalan teologi dan kaitannya dengan usaha manusia, mereka sesungguhnya lebih banyak dikategorikn sebagai golongan tradisionalis.

  • MODERNIS

Dalam masyarakat barat, modernisme mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham dan institusi-institusi lama untuk di sesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, modern (modernis, pelaku) lebih mengacu pada dorongan untuk melakukan perubahan karena paham-paham dan institusi-institusi lama di nilai “tidak relavan”.

Kaum modernis percaya bahwa keterbelakangan umat islam lebih banyak disebabkan oleh kesalahan sikap mental, budaya, atau teknologi mereka. pandangan kaum modernis merujuk pada pemikiran modernis muktazillah yang cenderung bersifat antroposentris dengan doktrinnya yang sangat terkenal, yaitu ushul al-khamsah. Akar teologi muktazilah dalam bidang af’al al-‘ibad (perubahan manusia) adalah qadariyah sebagai anti tesis dari jabariyah diantara mereka adalah Muhammad Abduh di mesir dan Muthafa Kamal Attatruk di Turki. Oleh karena itu mereka juga dikenal sebagai golongan purifikasi.


[1] Dr. H. Koko Abdul Kodir, M.A. , Metodologi Studi Islam,  (Bandung, CV Pustaka Setia:2017), hlm.241-242

[2] Ibid, hlm.242-243

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433