THE FIFTH DISCIPLINE: THE ART & PRACTICE OF THE LEARNING ORGANIZATION

Organisasi yang ‘belajar’ menjadi mungkin untuk dilakukan, karena, kita semua adalah pelajar. Tidak ada yang harus mengajar seorang bayi untuk belajar. Bahkan, tidak ada yang harus mengajar bayi apa pun. Mereka secara intrinsik ingin tahu, belajar berjalan, berbicara. Orang-orang dengan penguasaan pribadi secara konsisten mewujudkan hasil yang paling penting dalam diri mereka. Mereka berkomitmen untuk belajar sepanjang hayat mereka. Dengan demikian, semangat belajar adalah landasan penting dari organisasi pembelajaran ini. Beberapa alat yang dibutuhkan di antaranya adalah:

1. Model Mental.

“Model mental” sangat berhubungan dengan asumsi, generalisasi, atau bahkan gambar-gambar yang mempengaruhi bagaimana kita memahami dunia dan bagaimana kita mengambil tindakan. Seringkali, kita tidak menyadari model mental kita atau pengaruh mereka pada perilaku kita. Sebagai contoh, kita dapat melihat bahwa gaun rekan kerja kita elegan, dan berkata kepada diri kita sendiri, “Dia bergaya country.”

2. Membangun Visi Bersama.

Jika salah satu ide tentang kepemimpinan telah menginspirasi organisasi selama ribuan tahun, maka itu adalah kapasitas untuk menampung bayangan atau imajinasi bersama tentang masa depan yang kita inginkan. Setiap organisasi yang telah berkembang tidak mungkin berhasil tanpa adanya tujuan, nilai-nilai, dan misi yang menjadi sangat bersama seluruh organisasi. IBM memiliki “layanan”; Polaroid memiliki fotografi instan.

3. Pembelajaran Tim.

Untuk memahami bagaimana suatu oganisme bekerja, kita perlu mengetahui proses keseimbangannya, baik secara implisit maupun eksplisit. Dengan cepat kita dapat menguasai daftar panjang bagian tubuh, organ, tulang, aliran darah dan belum tentu kita dapat memahami fungsi-fungsi dalam tubuh –sampai kita mengerti bagaimana sebenarnya keseimbangan sistem pertahanan neuromuscular.

Pada kenyataannya, ketika teman saya mencoba untuk mengurangi kelelahan, sistem tubuhnya menjawab dengan perlawanan, berusaha mempertahankan tujuan secara implisit. Sampai tujuan ini dikenali, upaya perubahan pasti akan gagal. Selama pemimpin terus menjadi “model”, kebiasaan kerjanya akan menetapkan norma. Baik ia memang harus mengubah kebiasaannya, atau membangun model baru dan berbeda.

Penolakan terhadap perubahan berubah-ubah maupun misterius. Hal tersebut selalu muncul dari ancaman terhadap norma-norma tradisi dan cara-cara dalam melakukan sesuatu. Seringkali, norma-norma ini ditenun menjadi kain hubungan kekuasaan yang terbangun. Norma tertanam karena distribusi kekuasaan dan kontrol juga sudah tertanam. Alih-alih berusaha lebih keras untuk mengatasi penolakan terhadap perubahan, pemimpin yang lebih berseni mampu mengkategorikan sumber masalah. Mereka fokus langsung pada norma-norma implisit dan relasi kekuasaan di mana norma-norma tertanam. Organisasi pembelajaran membutuhkan pandangan baru tentang model kepemimpinan. Pemimpin yang baik adalah ia yang mau memuji orang-orang.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *