LATIHAN FISIK UNTUK PENDERITA GAGAL JANTUNG

Abstrak

Manifestasi utama gagal jantung adalah sesak nafas dan lekas lelah, menurunnya toleransi terhadap aktivitas, dan penumpukan cairan yang menyebabkan bendungan paru dan edema perifer. Walaupun kelainan tersebut tidak selalu tampil bersama-sama, mereka dapat menurunkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup seseorang yang menderita gagal jantung. Keluhan tersebut berhubungan dengan berbagai faktor seperti faktor sentral jantung, fungsi paru, faktor pembuluh darah perifer serta faktor otot rangka. Namun demikian, selain pengobatan, European Society of Cardiology (ESC) maupun American Heart Association (AHA) juga merekomendasikan program latihan fisik sebagai upaya tatalaksana gagal jantung untuk memperbaiki prognosis, meningkatkan toleransi aktivitas fisik dan meningkatkan kualitas hidup penderita gagal jantung maupun penyakit kardiovaskular lainnya.

Pada saat ini, latihan fisik harus selalu dipertimbangkan untuk semua penderita gagal jantung kronik yang stabil berdampingan dengan terapi medikamentosa. Program latihan fisik merupakan bagian dari program rehabilitasi jantung komprehensif yang di dalamnya mencakup edukasi atau konseling, pengontrolan faktor risiko dan program latihan fisik sebagai upaya prevensi sekunder.

Sebelum  memulai program latihan, penderita gagal jantung harus menjalani pengkajian klinis yang menyeluruh mencakup riwayat penyakit, penyebab, pengobatan dan pemeriksaan fisik. Berikutnya dipertimbangkan ada tidaknya kontraindikasi absolut maupun kontraindikasi relatif, serta stratifikasi risikonya.

Pembuatan program latihan harus  mempertimbangkan jenis latihan fisik, frekuensi latihan, intensitas, durasi, dan laju penambahan. Secara umum prinsip-prinsip ini dapat diterapkan pada penderita penyakit jantung koroner, gagal jantung maupun orang sehat, tetapi cara bagaimana diterapkannya yang berbeda, terutama pada penderita gagal jantung memerlukan penyesuaian-penyesuaian dan pengawasan yang lebih ketat.

Program latihan fisik perlu disesuaikan untuk setiap orang walaupun dengan penyakit dan kondisi yang hampir sama. Pada umumnya manfaat latihan terlihat bila intensitas latihan berkisar antara 40-85 % dari ambilan oksigen maksimal atau puncak (VO2 max/peak), atau yang kira kira setara dengan 50-90 % laju jantung maksimum.

Berikut ini adalah ringkasan bagaimana latihan fisik diprogramkan dengan menyatakan tipe latihan, intensitas, durasi, frekuensi dan peningkatan.

Tipe latihan :

  • Aerobik, latihan yang dinamis (sepeda statis, jalan kaki)
  • Latihan ketahanan ringan (banyak pengulangan, tahanan rendah)
  • Tanpa latihan isometrik dan aktivitas body building.

Intensitas:

  • Di bawah/sekitar ambang laktat
  • Target sekitar 50-70 % VO2 puncak
  • Laju nadi : 60-80 % maksimum, atau 40-60 % heart rate reserve (HRR)
  • Skala Borg : 12-13 (“somewhat hard”) pada skala 6-20

Durasi:

  • Dimulai dengan 10-20 menit per sesi, ditingkatkan bertahap
  • Durasi latihan 30-40 menit/sesi

Frekuensi:

  • 3-5 kali perminggu

Peningkatan: Peningkatan latihan dilakukan dengan melihat kondisi dan toleransi terhadap latihan yang diberikan. Unsur yang ditingkatkan bisa waktu, atau intensitasnya

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan HUbungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *