Observasi Fenomena Anak-anak Berpacaran

Pendahuluan

Pacaran adalah istilah dimana seorang laki-laki dan seorang perempuan menjalin hubungan asmara di luar ikatan pernikahan. Mulamawitri (2003) menjelaskan bahwa pacaran adalah hubungan pertemanan yang dilakukan oleh lawan jenis dengan warna keintiman atau romantika. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan kasih sayang dan saling mengakui pasangan sebagai pacar. Umumnya, pacaran ini dilakukan oleh orang dewasa yang sudah siap menikah. Sebelum mereka menikah mereka akan memasuki tahap berpacara ini untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Pacaran, saat ini, rupanya tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja namun para remaja pun melakukannya.

Menurut WHO (World Healt Organization)“Remaja (Adolescent) adalah penduduk usia 10-20 tahun”. Menurut UNFPA (United Nations Population und)“Pemuda (Youth) adalah penduduk usia 15-24 tahun”. Sedagkan menurut UNFPA dan WHO “Orang Muda (Young People) adalah usia 10-24 tahun”. Dan menurut World Bank “Generasi Muda adalah penduduk usia 10-24 tahun.” Usia remaja yakni usia 10-20 tahun adalah masa peralihan antara tahap anak dan dewasa yang ditandai dengan kematangan fisik, sosial dan psikologis yang berhubungan langsung dengan kepribadian, seksual, dan peran sosial.[1] Saat remaja, keinginan untuk pacaran adalah hal yang wajar sebab merupakan proses pekembangan yang harus dipenuhi remaja dengan menjalin hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis.

Pacaran menjadi hal yang digemari hampir seluruh remaja walau tidak semua remaja gemar melakukannya. Bahkan ada rumor yang menarik, bahwasanya bila ada remaja yang belum punya pacar berarti belum mempunyai identitas diri yang lengkap. Memang tidak dapat dipungkiri bila pacaran merupakan fenomena tersendiri dikalangan remaja. Di Indonesia sendiri, yang masih menganut budaya ketimuran, pacaran di usia remaja sebenarnya masih dianggap hal yang tabu. Namun seiring dengan perkembangan zaman dimana teknologi, budaya dan sosial merubah perilaku remaja untuk berpacaran.

Fenomena pacaran yang sedang hangat dibicarakan di Indonesia saat ini adalah pacaran untuk anak sekolah dasar (SD).[2] Baru-baru ini, media sosial dihebohkan oleh aksi siswa SD yang secara terang-terangan mengungkapkan cinta mereka lewat situs jejaring sosial. Meski bukan berupa foto mesra, namun bocah-bocah usia di bawah umur memenuhi status Facebook mereka dengan tulisan penuh ungkapan cinta. Secara terang-terangan pula, mereka mengungkapkan rasa kangen-kangenan, cemburu dan saling memuji sebagai sepasang kekasih.

Gambar Fenomena  Anak SD Pacaran[3]

Dengan adanya fenomena ini tentu saja menjadi sebuah lecutan cambuk bagi para pendidik dan orangtua untuk segera mengontrol pergaulan anak yang kurang baik. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis perlu melakukan observasi dan dilakukan perlakuan intervensi agar perilaku tersebut dibenahi.

Fenomena Anak SD Pacaran

Sofy Azahra Rara, adalah seorang bocah perempuan yang masih duduk di bangku sekolah SD yang belum lama ini mengejutkan dunia pendidikan Indonesia. Melalui akun Facebook-nya, Sofy sering mem-posting status-status romantis yang mengarah ke seorang anak laki-laki yang dianggap sebagai kekasihnya, begitu pula sebaliknya. Namun, akun Sofy adalah yang paling banyak mendapatkan sorotan banyak orang baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Sepasang kekasih SD tersebut mengupload Foto dan Membuat status kangen-kangenan, cemburu, kesepian, galau bahkan caci maki saat berantem di Jejaring Sosial Facebook, Twitter ataupun Instagram dengan sang kekasih persis dua insan dewasa yang sedang menjalin cinta asmara.

Gaya pacaran anak-anak sangat berbeda dengan gaya pacaran orang dewasa. Emosi mereka lebih meledak-ledak sehingga tak jarang mereka mengungkapkan semua perasaannya untuk konsumsi publik.[4] Mungkin tidak hanya kasus Sofy dan pacarnya saja, namun ada banyak fenomena anak SD berpacaran yang belum terdeteksi oleh media. Ada beberapa penyebab mengapa fenomena ini semakin marak terjadi, antara lain

1. Tayangan televisi

Sinetron anak dan remaja yang seharusnya menjadi alat untuk mendidik dan memperkaya pengetahuan mereka justru disisipi dengan kekerasan,  cinta-cintaan, pacaran, dan hal negatif lainnya. Sebagian orang tidak setuju jika televisi dianggap sebagai penyebab perilaku menyimpang anak-anak dan remaja kita sekarang. Karena masih ada orang tua yang harusnya berperan sebagai filter bagi anak-anak. Namun, tidak semua semua orang tua mampu mendampingi anak-anak ditengah gempuran media yang semakin tidak bersahabat dengan otak anak-anak.

2. Pengaruh Teman

Seorang anak yang awalnya baik bisa berubah menjadi tidak baik gara-gara pengaruh buruk temannya, demikian sebaliknya teman yang buruk perilakunya bisa menjadi baik karena pengaruh baik temannya.

3. Perilaku Orang Tua Jaman Sekarang

Orangtua adalah teladan utama anak-anaknya, namun yang terjadi saat ini adalah orang tua tak malu lagi melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya, misalnya : korupsi, selingkuh, bertengkar dihadapan anak, bergosip, saling membully, adu domba, dan lain sebagainya. Padahal hal tersebut bukan saja menginspirasi anak-anak kita melakukan hal yang sama, tapi juga anak-anak lain di sekitar kita.

4. Kemajuan Teknologi

Teknologi dapat memberikan kemudahan dalam banyak hal, terutama informasi dan komunikasi. Namun bagaimana teknologi yang tanpa batas dan tanpa rem ini ketika berada dalam genggaman anak-anak kita? Anak-anak bisa bebas mengakses apa saja melalui media tersebut. Padahal banyak sekali jerat-jerat yang siap menghancurkan anak-anak kita, seperti : pornografi, kekerasan, dan perilaku menyimpang lainnya.

Fenomena anak-anak berpacaran seharusnya sudah menjadi perhatian utama para ahli, tenaga pendidik dan orangtua. Ketika melihat berita tentang perilaku anak SD yang diluar kewajaran, pastilah kita sebagai orang tua merasa kaget dan cemas. Mirisnya lagi, masyarakat seolah sangat menyukai tayangan-tayangan media yang memberitakan anak-anak berpacaran. Berita-berita tersebut hanya menjadi bagian dari hiburan bukan lagi sebuah refleksi diri, terutama bagi orangtua, untuk lebih bisa mendidik anak-anak di koridor yang benar.

Metode Observasi

Metode penulisan menggunakan metode observasi intervensi terhadap fenomena anak SD berpacaran di Indonesia. Observasi adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati perilaku manusia baik dalam lingkup natural maupun khusus atau pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur yang tampak pada objek penelitian (Sugiyono, 2010).

Metode ini dilakukan karena adanya pola dan tujuan yang sudah ditetapkan. Secara sistematis, metode observasi ini menjawab pertanyaan dasar yaitu where, what, how, dan when berkenaan dengan kejadian atau fenomena yang terjadi. Sehingga tujuan dari metode observasi ini dalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas yang berlangsung dan makna kejadian dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati.

Dalam penulisan ini, metode observasi yang digunakan adalah observasi dengan intervensi. Metode ini juga digunakan untuk mengatur kondisinya sedemikian rupa sehingga kejadian-kejadian yang merupakan anteseden penting dapat dikontrol dan perilaku-perilaku yang menjadi konsekuensinya dapat diobservasi dengan mudah. Sehingga, jenis observasi yang dilakukan yang paling tepat untuk fenomena ini adalah uncontrolled observation, (observasi tidak terstruktur) diartikan sebagai suatu proses observasi yang dilakukan secara spontan terhadap suatu gejala tertentu tanpa mempergunakan alat-alat yang peka Uncontrolled observation (observasi tidak terstruktur) diartikan sebagai suatu proses observasi yang dilakukan secara spontan terhadap suatu gejala tertentu tanpa mempergunakan alat-alat yang peka.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *