Ontologi Feminisme dan Positivisme

Feminisme

Feminisme dianggap sebagai teori subyektif-konstitutif

Gender adalah masalah utama dari kaum feminist yang merupakan kelompok atribut dan perilaku yang dibentuk secara kultural sebagai pembedaan antara laki-laki dan perempuan secara sosial yang bersifat tidak selamanya dan dapat dipertukarkan. Gender merupakan hasil konstruksi sosial maupun kultural. Peran dari gender misalnya perempuan dianggap lemah, keibuan, dan emosional (feminim) sedangkan laki-laki dipandang lebih kuat, perkasa serta rasional (maskulin). Dengan adanya perbedaan gender ini kaum feminist menganggap perlu untuk mempejuangkan status mereka. Feminisme, teori ini sebenarnya adalah usaha kaum perempuan memperjuangkan hak mereka agar sama rata dengan kaum laki-laki. Selama ini kaum perempuan menghadapi masalah patriatik dan homogenisasi kaum perempuan.

Posisi femisnme pada kuadran konstitutif ini didasarkan pada kenyataan yang terjadi dalam sejarah perempuan di dunia. Di abad 18 kerap sekali terjadi pemasungan dan pengekangan hak-hak perempuan, sehingga secara universal, perempuan dianggap sebagai kaum yang lemah dan berada di bidang yang dinomorduakan kaum laki-laki, baik itu di bidang sosial, pekerjaan, pendidikan dan politik. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropa dan tejadinya Revolusi Perancis di abad ke-18 dimana perempuan sudah mulai berani menempatkan diri mereka seperti laki-laki yang sering berada diluar rumah.

Perspektif feminisme merupakan perspektif yang mencul pada era setelah perang dingin yang membawa paradigma baru dalam hubungan internasional. Adanya pemikiran dan pandangan mengenai isu gender yang sebelumnya hanya di dominasi oleh gender tertentu saja yaitu maskulin. Peranan kaum perempuan dalam cakupan urusan dalam negeri maupun taraf hubungan internasional menjadi hal yang diperjuangan oleh kaum feminis. Sehingga perspektif feminisme memberikan kontribusi baru dan mengangkat isu baru yang semakin mewarnai cakupan dari hubungan internasional.

Jadi, secara konstitutif, pemahaman feminisme didasarkan pada kenyataan sejarah bahwa posisi perempuan berada di bawah laki-laki, dimana di lingkup sosial, perempuan juga hanya dianggap sebagai benda mati (objektif) semata. Berdasarkan kenyataan tersebut maka muncul gerakan feminisme yang di dalam hubungan internasional mengarah pada teori konstitutif.

Positivisme

Positivisme dianggap sebagai teori subyektif-eksplanatif

Positivisme merupakan cikal bakal teori teori sosial di masa – masa selanjutnya. Teori ini berkembang sebagai hasil pemikiran falsafati seseorang yang bernama Auguste Comte (1798-1857) dari Perancis. Di sini, yang dimaksud dengan “positif” adalah segala gejala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman obyektif. Jadi, setelah fakta diperoleh, fakta-fakta tersebut diatur sedemikian rupa agar dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.

Positivisme dianggap sebagai subyektif semata karena kaum positivis ini sesungguhnya menganut paham monisme dalam ihwal metodologi keilmuan. Artinya, bahwa dalam kajian sains itu hanya ada satu metode saja yang dapat dipakai untuk menghasilkan simpulan yang berkepastian dan lugas.

Menurut Comte dan juga para penganut aliran positivisme, ilmu pengetahuan tidak boleh melebihi fakta-fakta karena positivisme menolak metafisisme. Bagi Comte, menanyakan hakekat benda-benda atau penyebab yang sebenarnya tidaklah mempunyai arti apapun. Oleh karenanya, ilmu pengetahuan dan juga filsafat hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta. Dengan demikian, kaum positivis membatasi dunia pada hal-hal yang bisa dilihat, diukur, dianalisa dan yang dapat dibuktikan kebenarannya. Itulah mengapa positivisme termasuk dalam ranah objektif dimana semua hal dipandang sebagai benda mati.

Dalam kajian hubungan internasional metodologi positivis bisa dikatakan sebagai warisan dari teori behavioralisme karena sebagian besar asumsi dari behavioralisme dijalankan pula oleh positivisme. Positivisme menurut Comte, juga melakukan pengumpulan data seperti observasi, eksperimen, perbandingan, dan analisis historis. Kaum behavioralis mendorong terciptanya teori yang bersifat eksplanatori dan prediktif atau dengan kata lain Hubungan Internasional harus bisa menjelaskan dan mampu memprediksi.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *