Sistem Pelabuhan POROS MARITIM DUNIA dan Kaitannya dengan Sistem Logistik dan Pembangunan Tol Laut

A. Pendahuluan

Republik Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang terletak di garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Wilayah Indonesia tersusun atas lebih dari 17.000 pulau, dirangkai oleh 95.181 km garis pantai (terpanjang kedua setelah Kanada), dan sekitar 70% wilayahnya berupa laut dengan luas lautan kurang lebih 5,8 juta km persegi dengan luas wilayah daratan hanya 1,9 juta km persegi.  Posisi Indonesia berada di perempatan dan pertengahan jalur pelayaran dunia, mulai dari Los Angeles Long Beach hingga benua Australia. Hampir 90 persen perdagangan dunia dilakukan menggunakan jalur larut dimana 40 persen dari jalur pelayaran dunia melewati Indonesia yang melalui 4 titik stragegis, Selat Malaka, Selat SUnda, Selat Lombok dan Selat Makasar. Dengan fakta di atas, Indonesia jelas memegang kunci strategi sebagai pusat industri dan perdagangan global. Hal ini juga didukung dengan perubahan pada lingkungan perdagangan global dimana mereka industri global menjadi lokasi “tengah jalan” untuk finalisasi produk dan pemasaran.

Indonesia perlu memaksimalkan potensi ekonomi maritim. Potensi ekonomi maritim dapat ditingkatkan di antaranya melalui pembangunan pelabuhan untuk bersandarnya kapal-kapal besar niaga, perbaikan infrastruktur sektor pariwisata bahari, dan meningkatkan strategi promosi yang baik dan menarik. Selama ini kondisi pelabuhan di Indonesia sangat memprihatinkan. Hampir semua logistik yang dibawa kapal-kapal besar dari berbagai negara diturunkan di pelabuhan Singapura. Lalu dalam beberapa hari kemudian baru dikirimkan ke Indonesia. Hal ini membuat Singapura mendapatkan keuntungan besar, baik dari biaya menurunkan barang, ongkos jasa, dan profit pengiriman logistik ke Indonesia. 

Salah satu gagasan cemerlang Presiden Jokowi yang mendapat dukungan publik dengan penuh antusiasme adalah tekadnya untuk mewujudkan Indonesia sebagai PMD (Poros Maritim Dunia). Yakni Indonesia yang maju, sejahtera, dan berdaulat berbasis pada ekonomi kelautan, hankam dan budaya maritim.  Lebih dari itu, Indonesia kelak diharapkan menjadi rujukan bagi bangsa-bangsa lain di dunia dalam berbagai bidang kelautan, mulai dari ekonomi, IPTEK, hankam sampai cara menata pembangunan kelautan (ocean governance).

Peringkat indeks konektivitas Indonesia di sektor transportasi laut tahun 2014 meningkat menjadi 77 dibandingkan tahun 2012 yang menduduki perigkat 104. Namun, peringkat tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan Thailand dan Malaysia. Rencana pembangunan ”tol laut” untuk menjamin konektivitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, pembangunan pelabuhan, perbaikan transportasi laut, serta keamanan maritim, mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia.

Tanpa adanya tol laut selama ini, biaya logistik menjadi sangat mahal. Saat ini biaya logistik nasional mencapai 25 persen Produk Domestik Bruto atau dua kali lipat negara-negara tetangga. Bayangkan, biaya pengiriman kontainer 20 feet dari Jakarta ke Jayapura  membutuhkan biaya Rp25 juta. Sementara pengiriman yang sama dari Jakarta ke Shanghai China  hanya membutuhkan Rp4,5 juta. Berdasarkan kajian Bappenas, tol laut akan didukung oleh 24 pelabuhan yang terdiri dari 5 pelabuhan utama atau hub dan 19 pelabuhan feeder. Dengan adanya tol laut dan peningkatan konektivitas secara keseluruhan, pemerintah berharap sistem logistik nasional menjadi lebih baik dan biaya logistik dapat dikurangi secara signifikan. Berdasarkan survei World Bank, skor Indeks Kinerja Logistik (Logistic Performance Index/LPI) Indonesia pada 2014 adalah 3,1 dengan peringkat 53. Di antara negara ASEAN, skor dan peringkat Indonesia tersebut kalah dibandingkan Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

B. Masalah dan Tantangan

Pemerintah membangun 24 pelabuhan. Tapi semua pelabuhan kelas I Indonesia kedalaman alur/kolamnya kurang dari 14 M. Medan 10 M/10 M, Jakarta 14 M/7 M. Bitung 9 M/12 M, Makasar 10 M/16 M. Hanya bisa utk kapal-kapal generasi I dan II. Tidak bisa untuk kapalkapal generasi III – VI. Apalagi yg panjangnya 500 M, yg perlu kedalaman minimal 35 M. Selain masalah suplai kapal laut, Indonesia juga masih dihadapkan dengan ketersediaan pelabuhan dengan infrastruktur yang baik. Pasalnya, dari banyak pelabuhan yang ada di Indonesia, sebagian besar belum memiliki infrastruktur penunjang yang baik.

Indonesia perlu melakukan reposisi global, yaitu menjadi pusat industry, perdagangan, dan maritime dunia. Indonesia bisa membangun tanpa uang Negara, yaitu dengan berbasis pada Sumber Daya Alam dan Aset lain yang bisa menjadi modal. Indonesia memiliki kota-kota pelabuhan yang bisa menjadi “Bandar Internasional”, yaitu: Batam, Kota Agung, Bandar Kayangan, Mamuju, Sabang, Medan, Padang, Belitung, Jakarta, Surabaya, Singkawang Tarakan, Kupang, Bitung, Makasar, Ambon, Morotai, Sorong. Pemerintah tetapkan Kuala Tanjung (KT) & Bitung sbg “international hub”. Tapi, KT bersaing berat dg Port Klang & Tanjung Pelepas Malaysia yg modern dan besar… dan Singapura sang adidaya. Cachment area KT hanya utk kapal-kapal Generasi I & II Sumatera bagian utara. Bitung, catchment area kapal-kapal Gen I & II Indonesia Timur. Keduanya hanya “gateway” bagi sub wilayah Indonesia. Bukan kapal-kapal antar belahan dunia.

C. Solusi

Semua pelabuhan di Indonesia sekarang ini hanyalah cabang dari Singapura. Akan tetapi “Kebijakan Tol Laut” sebagian besar untuk pelabuhan-pelabuhan domestic. Indonesia harus mengambil kesempatan untuk memfasilitasi industri, perdagangan dan aktivitas maritime skala global. Indonesia membutuhkan sebuah prakarsa inovasi untuk menjembatani permasalahan di atas mulai dari kebutuhan kapal besar dan jalur yang bias dilewati sebagai kapal-kapal kelas besar. Perlu banyak dikembangkan perkotaan global di luar jalur perdagangan maritim yang selama ini telah dikembangkan oleh Indonesia. Selama ini kapal-kapal dunia “extra large” tidak bisa melewati Selat Malaka yang dangkal, dan alternatifnya adalah Selat Lombok. Indonesia bisa menjadikan Lombok sebagai Global Hub yang baru serta solusi bagi seluruh dunia.

Lokasi Bandar Kayangan dipertimbangkan sebagai Kota “Global Hub” karena kebutuhan lokasi di tengah atau simpang jalan untuk finalisasi produk dan pemasaran. Bandar Kayangan berada dari Kecematan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Pertimbangan yang dipilih adalah: 1) kedalaman laut yang bias menampung kapal-kapal besar; 2) lokasi yang strategis sebagai “highway” pelayaran dunia; 3) terdapat lahan kosong untuk pelabuhan dan kawasan industri maritime, 4) keindahan alam yang unggul; 5) dikenal oleh dunia. Rencana pembangunan Kota Bandar Kayangan, Lombok mencakup fasilitas: PORT 600 Ha, CBD 600 Ha, Industrial Parks 1800 Ha, Energy 1000 Ha, UNIV 300 Ha, TOURISM and SPORT 200 Ha, dan Recidencial 2500 Ha. Perlu diketahui juga bahwa rencana pembangunan Bandar Kayangan ini masuk di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Untuk itu, disadari bahwa pemerintah daerah hingga pemerintah pusat harus membangun sinergitas yang kuat untuk bersama-sama mewujudkannya. Untuk mempercepat pembangunan itu, pemerintah Lombok Utara, Pemprov NTB dan pemerintah pusat sudah melakukan kerjasama dengan investor yang diwakili oleh investor dari Tiongkok China dan Rusia untuk pembangunan kilang minyak terlebih dahulu. Terkait kesiapan daerah sendiri, menurutnya yang paling utama adalah kesiapan masyarakat Lombok Utara dan pemerintah harus bisa menyiapkan SDM nya karena anak-anak Lombok Utara akan masuk menjadi bagian dalam proyek besar itu. Salah satu perkembangan terkini dari sisi legitimasi dan regulasi. Bandar Kayangan sudah diusulkan masuk sebagai kawasan strategis nasional. Ini akan jadi pintu masuk revisi RPJMN dan revisi terkait RTRW Nasional sebagai payung hukum pengembangan kawasan.

D. Kesimpulan

Indonesia jelas memegang kunci strategi sebagai pusat industri dan perdagangan global. Hal ini juga didukung dengan perubahan pada lingkungan perdagangan global dimana mereka industri global menjadi lokasi “tengah jalan” untuk finalisasi produk dan pemasaran. Indonesia perlu memaksimalkan potensi ekonomi maritim. Potensi ekonomi maritim dapat ditingkatkan di antaranya melalui pembangunan pelabuhan untuk bersandarnya kapal-kapal besar niaga, perbaikan infrastruktur sektor pariwisata bahari, dan meningkatkan strategi promosi yang baik dan menarik. Untuk mewujudkan Indonesia sebagai PMD (Poros Maritim Dunia) maka Indonesia mengembangkan program “tol laut” sebagai penghubung aktivitas global.  Tanpa adanya tol laut selama ini, biaya logistik menjadi sangat mahal. Saat ini biaya logistik nasional mencapai 25 persen. Dengan adanya tol laut dan peningkatan konektivitas secara keseluruhan, pemerintah berharap sistem logistik nasional menjadi lebih baik dan biaya logistik dapat dikurangi secara signifikan.

Selain masalah suplai kapal laut, Indonesia juga masih dihadapkan dengan ketersediaan pelabuhan dengan infrastruktur yang baik. Semua pelabuhan di Indonesia sekarang ini hanyalah cabang dari Singapura. Perlu banyak dikembangkan perkotaan global di luar jalur perdagangan maritim yang selama ini telah dikembangkan oleh Indonesia. Indonesia bisa menjadikan Lombok sebagai Global Hub yang baru serta solusi bagi seluruh dunia. Pertimbangan yang dipilih adalah: 1) kedalaman laut yang bias menampung kapal-kapal besar; 2) lokasi yang strategis sebagai “highway” pelayaran dunia; 3) terdapat lahan kosong untuk pelabuhan dan kawasan industri maritimm, 4) keindahan alam yang unggul; 5) dikenal oleh dunia.

Ingin dibuatkan Riview seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi gerai jasa di no 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *