Pendahuluan

Etika sebagai ilmu biasa dibedakan menjadi tiga macam, yaitu etika deskriptif, etika normatif, dan meta-etika deskriptif mempelajari tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, pandangan tentang baik dan buruk, perbuatan yang diwajibkan, dibolehkan, atau dilarang dalam suatu masyarakat, lingkungan budaya, atau periode sejarah (Tumanggor dan Suharyanto, 2017: 154). Menurut Koetjaraningrat (1980) dalam Tumanggor dan Suharyanto (2017: 154) mengatakan, etika deskriptif tugasnya sebatas menggambarkan atau memperkenalkan dan sama sekali tidak memberikan penilaian moral. Bertes (2011) dalam Tumanggor dan Suharyanto (2017: 154-155) menjelaskan lebih jauh, etika normatif bertujuan merumuskan prinsip etis yang dapat dipertanggung jawabkan secara rasional dan dapat ditetapkan dalam perbuatan nyata. Berbeda dengan etika deskriptif, etika normatif tidak bersifat netral tetapi memberikan penilaian terhadap tingkah laku moral berdasarkan norma-norma tertentu. Etika normatif merupakan bagian penting dari etika karena mengemukakan argumen atau diskusi yang mendalam.

Sedangkan menurut Bertens (1993: 15-19), etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya, adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang di mana berlangsung diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral. Meta-etika membahas ucapan-ucapan kita di bidang moralitas atau mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis.

Isi

Golput kembali menjadi perdebatan publik. Ia muncul ke permukaan setelah dipicu tulisan yang ditulis oleh seorang imam Katolik yang juga seorang filsuf, Franz Magnis-Suseno, SJ, di harian Kompas.

Persoalan moral yang dibahas dalam tulisan yang ditulis oleh Magnis-Suseno di harian Kompas dengan judul “Golput” adalah persoalan moral atau etika politik. Magnis-Suseno (1987) dalam Tumanggor dan Suharyanto (2017: 153) memahami etika harus dibedakan dengan ajaran moral. Moral dipandang sebagai ajaran, wejangan, khotbah, patokan, entah lisan atau tulisan, tentang bagaimana ia harus bertindak, tentang bagaimana harus hidup dan bertindak, agar ia menjadi manusia yang baik. Dalam tulisan tersebut, golput terkait dengan pembahasan etika politik. Pertama, golput bermasalah secara etika politik karena mencampuri kepentingan publik dalam pemilihan umum. Tidak memilih atau golput ketika pemilu mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama. Kedua, tidak memilih atau golput secara etika politik mengindikasikan pemilih yang terjebak dalam situasi konflik kepentingan. Dalam tulisan Magnis menyebutkan salah satu situasi di mana kita berhak golput yaitu biaya untuk ikut memilih terlalu mahal karena tempat pemungutan suara (TPS) terlalu jauh dari tempat tinggal kita. Hal tersebut juga mengindikasikan perilaku tidak etis golput karena bertentangan dengan besarnya biaya publik yang telah dialokasikan.

Ketiga, tindakan golput tidak bisa diterima secara etis politik karena menandakan bahwa pemilik suara tidak mau terlibat dalam suatu masalah walaupun mereka mengetahuinya.

Penilaian moral yang dituliskan dalam tulisan Magnis yaitu tidak golput merupakan kewajiban secara moral meski adanya dilema moral dimana kandidat dari kedua kubu sama buruknya. Secara moral, tidak ada jalan keluar dari kedua pilihan tersebut. Penilaian moral dari Magnis tersebut termasuk wajib. Pendapat Magnis-Suseno mengindikasikan bagaimana kita harus hidup bukan etika, melainkan ajaran moral. Etika sebagai filsafat juga sesuai dengan pandangan umum yang menempatkan etika sebagai salah satu dari enam cabang filsafat, yakni metafisikal, epitemologi, metodologi, logika, etika dan estetika (Tumanggor dan Suharyanto, 2017: 154).

Tulisan yang ditulis oleh Magnis-Suseno di harian Kompas dengan judul “Golput”, telah dengan sengaja memberikan sumbangan politik kepada kubu Jokowi. Di bidang etika, tanggung jawab seorang ilmu harus memberi contoh, bersifat objektif, terbuka, menerima kritik dan pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar, dan kalau berani mengakui kesalahan (Tumanggor dan Suharyanto, 2017: 156). Tulisan yang ditulis oleh Magnis-Suseno di harian Kompas dengan judul “Golput” mengindikasikan nilai objektif. Nilai itu objektif jika ia tidak bergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai (Tumanggor dan Suharyanto, 2017: 156). Tulisan tersebut juga mengindikasikan kukuh dalam pendirian yang dianggap benar, dalam hal ini Magnis-Suseno memiliki pendirian yang kukuh dengan menganggap memilih adalah kewajiban moral. Tulisan tersebut juga terbuka, menerima kritik dan pendapat orang lain. Sehingga oranglain yang kurang sependapat dengan tulisan tersebut dapat memberikan saran dan kritiknya.

Kesimpulan

Kegiatan politik sering menimbulkan pertanyaan politik terhadap masalah etika atau moral. Dunia politik diyakini sebagai moral yang mahal dan merendahkan tokoh politik menjadi pribadi yang agak kabur dan manipulatif untuk mempertahankan posisinya. Kasus Golput seperti yang telah dikemukakan oleh Magnis, mendukung asumsi-asumsi semacam itu. Singkatnya, politik harus berdampingan dan menyatu dengan dimensi moral atau etika. Pendapat saya pribadi sebagai seorang yang telah belajar etika dan moral mengenai tulisan Magnis-Suseno tersebut, yang didasarkan pada uraian yang telah diberikan, yaitu sebagai seorang yang berilmu kita boleh berpendapat bebas tetapi juga harus meninjau masalah etika atau moral akibat dari tulisan yang kita buat tersebut. Menurut Saya, tulisan tersebut menyinggung setiap pribadi orang yang golput, sebaiknya digunakan kata-kata yang lebih halus dalam memberikan pendapat karena Indonesia merupakan Negara Demokrasi.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433