A. PENDAHULUAN

Seiring bertambahnya populasi kendaraan bermotor yang sangat signifikan, terutama sepeda motor, konsumsi pelumas oleh sektor otomotif terus bertambah hingga pada tahun 2003 prosentasenya hampir mencapai 60%. Sebaliknya, persentase konsumsi pelumas oleh sektor industri justru mengalami penurunan. Pada tahun 2003, sektor industri hanya mengkonsumsi 37% dari total konsumsi pelumas nasional.

Tabel 1. Populasi Kendaraan Bermotor di Indonesia Tahun 1996-2003 (unit)

Sumber: Kepolisian RI

Industri pelumas mendapat dampak positif seiring meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor serta mesin untuk kebutuhan industri tersebut. Pelumas (lubricant atau sering disebut lube) adalah suatu bahan (biasanya berbentuk cairan) yang berfungsi untuk mereduksi keausan antara dua permukaan benda bergerak yang saling bergesekan. Suatu bahan cairan dapat dikategorikan sebagai pelumas jika mengandung bahan dasar (bisa berupa oil based atau water/glycol based) dan paket aditif.[1] Selain itu, pelumas juga berfungsi sebagai pendingin mesin dengan menyerap sebagian panas pembakaran, pelarut karbon, dan kerak mesin.

Menurut data Asosiasi Produsen Pelumas di Indonesia (Aspelindo), PERTAMINA yang meluncurkan berbagai macam produk pelumas, menguasai pangsa pasar pelumas Indonesia sekitar 54 persen. PERTAMINA adalah perusahaan milik Negara yang didirikan Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 10 Desember 1957 berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 1971 dengan tujuan membangun dan melaksanakan pengusahaan minyak dan gas bumi. Bisnis utama PERTAMINA adalah eksplorasi dan produksi (upstream), pemrosesan, pengangkutan, pemasaran, dan perdagangan (downstream) produk-produk yang terkait dengan minyak bumi dan gas alam.

Perdagangan minyak pelumas di Indonesia diatur dalam Keppres Nomor 18 Tahun 1988. Kemudian pada tanggal 14 Februari 2001, Pemerintah Indonesia meliberalisasi pasar pelumas melalui Keppres Nomor 21 Tahun 2001 yang menghapus hak monopoli PERTAMINA dalam memproduksi dan memasarkan minyak pelumas. Pelumas PERTAMINA yang sebelum tahun 2001 sanggup mendominasi pangsa pasar pelumas sampai 85%, pada akhir tahun 2003 hanya mampu mencapai 55%.

Minyak pelumas yang dijual oleh PERTAMINA secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok sektor, yaitu pelumas untuk industri, pelumas otomotif, dan pelumas untuk sektor-sektor lainnya (penerbangan, perkapalan, dan lain-lain). Total penjualan pelumas PERTAMINA pada tahun 2003 adalah 291 juta liter, atau sekitar 55%, dari total penjualan pelumas di dalam negeri saat itu.

Grafik 1. Penjualan Minyak Pelumas PERTAMINA Tahun 1996-2003

Menurut Kotler (2005) bauran pemasaran (marketing mix) dibagi menjadi 4, atau yang disebut dengan 4P, antara lain product (produk), price (harga), promotion (promosi), place (tempat/saluran distribusi). Konsumen minyak pelumas dipastikan akan mempertimbangkan ke empat faktor-faktor tersebut dalam memilih pelumas.

B. PEMBAHASAN/ANALISIS

1. Produk (Product) Pelumas Pertamina

Kotler (2005) menyebutkan produk adalah segala sesuatu yang dapatditawarkan untuk memuaskan suatu kebutuhan dan keinginan. Produk diperlukan untuk mempertemukan hasil perusahaan dengan permintaan yang ada agar produk yang diperlukan oleh konsumen memberikan kepuasan pada konsumen dan sekaligus menguntungkan perusahaan.


Sumber:

[1] Pengertian Pelumas. http://www.dupersol.com/component/content/article/47-blog/111-pengertian-pelumas

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433