7 Efek Disconnecting Habits Pada Komunikasi

(7 Caring Habits and 7 Deadly Habits by William Glasser)

Latar Belakang

Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam hubungan antar manusia. Komunikasi adalah pertukaran informasi antara dua individu atau lebih yang bertujuan untuk memberi dan menerima informasi. Namun, seringkali komunikasi tidaklah mudah dilakukan karena mengakibatkan konflik antara individu maupun kelompok yang bersangkutan.

Seorang Psikiater, William Glasser, memberikan konsep “7 deadly habits” dan “7 caring habits” dalam komunikasi. 7 deadly habits, yaitu:

  1. Mengkritik (Criticizing)
  2. Menyalahkan (Blaming)
  3. Mengeluh (Complaining)
  4. Cerewet (Nagging)
  5. Mengancam (Threatening)
  6. Menghukum (Punishing)
  7. Menghargai untuk mengontrol (seperti memanipulasi)/Rewarding to control (as in manipulating)

Kemudian 7 caring habits, yaitu:

  1. Peduli (Caring)
  2. Mempercayai (Trusting)
  3. Mendengarkan (Listening)
  4. Mendukung (Supporting)
  5. Negosiasi (Negotiating)
  6. Berteman (Befriending)
  7. Mendorong (Encouraging)

Dalam buku berjudul Choice Theory: A New Psychology of Personal Freedom (1998) oleh Institute, William Glasser menyatakan bahwa[1]:

  1. Semua yang kita lakukan adalah bersikap,
  2. Hampir semua perilaku dipilih, dan
  3. Kita didorong oleh gen kita untuk memenuhi lima kebutuhan dasar yaitu bertahan hidup, cinta dan rasa memiliki, kekuasaan, kebebasan dan kesenangan.

Dalam istilah dasar, idenya yaitu sebagian besar dari kita memiliki beberapa kebiasaan yang merusak hubungan. Jika kita bisa membingkai ulang kebiasaan tersebut dan memilih kebiasaan yang lebih baik maka dapat meningkatkan komunikasi dalam hubungan antar manusia.

Konflik antar individu akan sering terjadi didalam hubungan komunikasi di suatu lingkungan kerja atau perusahaan. Konflik yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah komunikasi yang kurang baik.  Proyek ini mengangkat topik tentang “7 deadly habits” dan “7 caring habits” dalam komunikasi di salah satu maskapai penerbangan Inggris, British Airways (BA).


Sumber:

[1] http://www.wglasser.com/the-glasser-approach/choice-theory

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *