PELECEHAN SEKSUAL DI TEMPAT KERJA Larangan Terhadap Hubungan Asmara di Tempat Kerja

Berdasarakan UU No. 1 Tahun 1970, makna dari ‘tempat kerja’ adalah tempat fisik di mana para pekerja bekerja atau tempat di mana para pekerja acapkali memasukinya dalam kaitan dengan pekerjaannya dan dimana ada sumber bahaya. Tempat kerja merupakan salah satu tempat yang paling potensial bagi terjadinya pelecehan seksual (Allgeier dan Allgeier, 1991).[1] Meyer dkk. (1987) menyatakan secara umum ada tiga aspek penting dalam mendefinisikan pelecehan seksual yaitu aspek perilaku (apakah hal itu merupakan proposisi seksual), aspek situasional (apakah ada perbedaan di mana atau kapan perilaku tersebut muncul) dan aspek legalitas (dalam keadaan bagaimana perilaku tersebut dinyatakan ilegal).[2] Bentuk umum dari pelecehan seksual adalah verbal dan godaan secara fisik (Zastrow dan Ashman, 1989;[3] Kremer dan Marks, 1992[4]), di mana pelecehan secara verbal lebih banyak daripada secara fisik.

Dengan demikian, perlu upaya-upaya kongkrit untuk meningkatkan perlindungan bagi tenaga kerja perempuan dari pelecehan seksual. Di Indonesia, Undang-Undang yang mengatur perihal masalah pelecehan seksual di tempat kerja secara umum dituangkan dalam UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan telah memberikan perlindungan bagi tenaga kerja yaitu dalam Pasal 86 ayat (1) yang isinya adalah : setiap buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas (a) keselamatan dan kesehatan; (b) moral dan kesusilaan; dan (c) perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) secara umum (Lex Generalis) juga dapat dijadikan landasan dengan ancaman hukuman seperti yang diatur dalam Pasal pencabulan 289-299. Mengenai perbuatan cabul di tempat kerja, terutama bila dilakukan oleh atasan dapat kita temui ketentuannya dalam Pasal 294 ayat 2 angka 1 KUHP yaitu diancam dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya.[5]

Sangatlah penting bagi perusahaan untuk membuat kebijakan tentang larangan hubungan percintaan yang kemungkinan juga akan mengarah pada pelecahan seksual. Pelecehan seksual di perusahaan tidak hanya didefinisikan sebagai tindakan perilaku atas korban secara seksual namun juga hubungan suka sama suka yang mengakibatkan kinerja  karyawan menurun. Menurut International Labor Organization (ILO), dengan dibuatnya kebijakan pelecehan seksual ini dapat mendorong terciptanya lingkungan kerja yang efektif, produktif, dan sehat.[6] Kunci untuk mencegah pelecehan seksual ada pada pengusahan dan manajemen untuk membuat kebijakan yang sangat jelas bagi bekerja dan mereka yang  berinteraksi di tempat kerja bahwa pelecehan seksual adalah perilaku yang tidak bisa diterima.

Carter (2008) mengemukakan ada 3 langkah yang dapat dilakukan organisasi untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual di tempat kerja, yaitu:[7]

  1. Mengembangkan suatu kebijakan dan prosedur tertulis terkait pencegahan pelecehan seksual
  2. Mendistribusikan/mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada seluruh anggota organisasi
  3. Melatih para supervisor/penyelia dalam penerapan kebijakan tentang pencegahan pelecehan sexual tersebut.

Langkah-langkah yang ditawarkan oleh Carter (2008) tersebut sebenarnya sudah cukup membantu untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual, tetapi sebagai atasan harus menanggapi pengaduan yang dilakukan pekerja. Bisa saja yang mengadu adalah korban, saksi, atau pekerja yang merasa terganggu dengan aktifitas yang mengarah pada tindakan seksual. Maka mekanisme pengaduan juga perlu diatur dan memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku. Selain itu, perlu adanya penyebarluasan kebijakan dan mekanisme pencegahan pelecehan kepada seluruh karyawan dan para penyelia sama pentingnya. Guna memenuhi seluruh kebutuhan akan komunikasi, para pengusaha harus menyelenggarakan program di mana karyawan dan penyelia dapat mendapatkan pendidikan tentang pelecehan. Sehingga pada akhirnya, seluruh pihak harus memiliki kesadaran yang tinggi tentang berbagi cara untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif yang bebas dari pelecehan.

Ingin dibuatkan seperti ini?
Butuh versi lengkap?
Atau ada tugas costum lainnya?
Silahkan hubungi team geraijasa.com di no wa 0821-3805-4433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *