Pendahuluan

Piranti smartphone sudah mulai marak digunakan sebagai media pariwisata sejak satu dekade lalu di Indonesia. Tercatat pada tahun 2013, semakin banyak wisatawan menggunakan aplikasi mobile (piranti bergerak) dalam merencanakan perjalanan wisata mereka.[1] Wisatawan menggunakan aplikasi mobile untuk mencari tips dan saran selama perjalanan, petunjuk arah, pemesanan tiket dan penterjemah bahasa.

Indonesia, merupakan negara yang memberikan banyak peluang bisnis dari munculnya minat masyarakat untuk berwisata dan bersantai yang semakin tinggi. Di kawasan Indonesia ini juga menjadi mesin dalam pertumbuhan industry mobile dan smartphone.[2] Tak hanya Indonesia sebagai tujuan wisata, masyarakat Indonesia pun mulai mempertimbangkan untuk berkunjung ke negara tetangga. Banyak wisatawan Indonesia memanfatkan keuntungan dari kedekatan jarak dengan negara-negara tetangga, atau memilih tujuan dalam negeri dengan fasilitas terbaik. Singapura menduduki urutan pertama sebagai tujuan wisata akhir pekan, diikuti oleh Bali, Kuala Lumpur, Jakarta dan Yogyakarta.

Dengan tujuan pariwisata yang semakin banyak serta kunjungan wisatawan semakin meningkat, tampaknya kebutuhan akan informasi kepariwisataan juga semakin mengalami perubahan. Untuk memudahkan para wisatawan mengakses informasi mengenai pariwisata dimanfaatkanlah informasi berbasis internet. Menurut Suhendra (2014), salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi secara instan dalam mengatasi hal ini adalah teknologi nirkabel atau yang lebih populer disebut Mobile Geographic Information System (GIS).[3] Mobile GIS merupakan sebuah integrasi cara kerja perangkat lunak/keras untuk pengaksesan data dan layanan geospasial melalui perangkat bergerak via jaringan kabel atau nirkabel.

Beberapa perkembangan juga dapat dilihat di bidang pariwisata dan orang-orang mulai semakin sedikit menggunakan jasa pemandu wisata dan justru lebih mengandalkan ponsel pintar mereka. Sebagian besar para wisatawan independen lebih menyukai tren travel sendiri, yang juga dikenal sebagai seorang “turis pintar”, lebih memilih menggunakan aplikasi perangkat bergerak (mobile device) untuk memandu mereka bergabung dengan program paket tur.

Sistem tersebut sangat diperlukan guna mendukung pariwisata yang kolaboratif secara alami. Dukungan ini sederhana seperti link yang lebih baik dengan peta kertas yang memungkinkan wisatawan untuk berinteraksi sekitar permukaan yang lebih luas daripada layar kecil PDA. Teknologi tersebut dapat membantu wisatawan untuk bergerak di antara buku pedoman dan perencanaan aktivitas mereka, seperti peta yang menunjukkan beberapa ‘struktur sosial’ dari kota, dan panduan yang lebih mendukung rencana turis yang fleksibel.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, makalah ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana pemanfaatan aplikasi mobile untuk mendukung kegiatan wisata dan industri pariwisata.

Landasan Teori

1. Aplikasi

Aplikasi adalah program yang dibuat oleh pemakai yang ditujukan untuk melakukan tugas khusus (Kadir, 2003). Program seperti ini biasa dikelompokkan menjadi 2, yaitu (Kadir, 2003):[4]

  1. Program Aplikasi Serbaguna, adalah program aplikasi yang dapat digunakan oleh pemakai untuk melaksanakan hal-hal yang bersifat umum serta untuk mengotomatisasikan tugas-tugas individual yang bersifat berulang.
  2. Program Aplikasi Spesifik, adalah program yang ditujukan untuk menangani hal-hal yang sangat spesifik.

2. Pariwisata

Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan dan bermaksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang di kunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.

Pembahasan

Mobilitas telah menjadi komponen kunci dari hidup modern, ifasilitasi dengan kuat oleh konektivitas mobile lebih komunikasi satelit, nirkabel jaringan, smartphone dan perangkat pengguna mobile. Jaringan besar ini potensial membuka jalan untuk berbagai aplikasi di hampir semua masyarakat domain. Mengingat kebaruan produk dan layanan ini, banyak aplikasi ini eksperimental dan eksplorasi di alam, dan tunduk evaluasi permanen dan perbaikan: kita belajar untuk menjadi penggerak ponsel serius.

Tren Pemanfaatan Internet di Industri Pariwisata

Meskipun pariwisata menunjukkan sejumlah hambatan untuk memperkenalkan  teknologi baru khususnya perlunya perangkat mobile yang memadai bagi wisatawan yang sudah mengadopsi banyak baru teknologi, misalnya itu web, ponsel mobile dan digital kamera. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesempatan untuk turis sistem mempraktikkan system yang baru dan cocok untuk mereka.

Dalam sebuah laporan oleh Google (2013), bahwa mulai ada hubungan signifikan antara pariwisata dengan perangkat mobile.[5] Hubungan ini diperkenalkan dalam lima tahap tren di sektor tersebut yang ditunjukkan oleh Gambar 1.

Gambar 1. 5 Tahap Hubungan Wisatawan dengan Perangkat Mobile, (Google, 2013).

Pada tahap “dreaming”, digambarkan bawha hampir 50% wisatawan menggunakan internet selama masa bermimpi mereka, sementara 49% dari mereka dilakukan di waktu luang dan 60% saat berbisnis. Kemudian pda tahap “planning”, dimana sebanyak 85% pengguna mempertimbangkan Internet  sebagai sumber utama informasi untuk merencanakan sebuah perjalanan, dan 61% mengatakan bahwa internet telah menyediakan informasi penting untuk memutuskan. Berlanjut ke tahap “booking”, dimana sebanyak 53% pengguna membandingkan sebelum mem-booking, dan 37% mengatakan bahwa Internet telah menjadi faktor utama untuk booking. Kemudian pada tahap “Experiencing” yang dilaporkan sebanyak 50% lebih wisatawan menggunakan perangkat mobile  untuk mencari informasi perjalanan mereka. Tahap terakhir yaitu “sharing” , dimana sebanyak 32% wisatawan melaporkan secara online tempat-tempat yang dikunjungi. Lebih dari 50% wisatawan membagikan foto-foto perjalanan dan 49% pengguna membaca review dari wisawatan lain.

Dari laporan tersebut dapat disimpulkan bahwa dampak teknologi mobile yang tengah terus menanjak memberikan kemudahan tersendiri bagi para wisatawan dari berbagai belahan bumi. Mereka dapat dengan mudah mengakses banyak informasi, memesan hotel, membuat jadwal perjalanan, dan lainnya langsung dari perangkat mobile.

Pada beberapa tahun yang lalu, dunia online telah mengubah industri jejaring sosial dan beberapa sektor pada industri wisata. Perkembangan tersebut berdampak pada perubahan konsumen saat melakukan pencarian hotel, buku pantuan perjalan, dan proses interaksi sesama pecinta travelling di seluruh dunia. Jika sebelumnya banyak agensi-agensi wisata yang siap melayani berbagai kebutuhan para wisatawan atau penikmat petualangan luar ruangan, saat ini mereka dapat mengatur segala kebutuhannya secara ringkas sendiri.

Di Indonesia sendiri, tren penggunaan aplikasi mobile untuk aktivitas traveling mulai mengalami perkembangan yang signifikan. Sejumlah pengembang aplikasi smartphone memfokuskan aplikasi mereka untuk membantu para wisatawan melakukan perjalanan di wilayah Indonesia.

Masyarakat kelas ekonomi menengah mengalami pertumbuhan yang membawa dampak positif terhadap statistic pelancong di Indonesia. Sebuah riset dari frost & Sullivan menunjukkan, pada tahun 2011, pengeluaran yang dikeluarkan orang Indonesia untuk traveling bernilai US$6,4 miliar. Diperkirakan angka ini akan tumbuh hampir empat kali lipat pda tahun 2030. Para pelancong generasi baru juga didominasi oleh mereka yang berusia muda, fasih terhadap internet dan menginginkan segalanya serba cepat.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433