Keberlangsungan Politik ‘Bebas Aktif’ Indonesia Pasca Kemenangan Pilpres Donald Trump

A. Pendahuluan

Hubungan Negara Indonesia dengan Negara lain berlandaskan atas prinsip-prinsip dasar yang tertuang di dalam pembukaan UUD 1945 alinea pertama, bahwa Indonesia meyakini “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dijapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”. Indonesia juga mempercayai bahwa pembentukan Negara ini adalah untuk “ikut melaksanakan ketertibn dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” (UUD 1945). Dari kedua prinsip itu menggerakkan pelaksanaan politik luar negeri Indonesia sehingga lahirlah prinsip politik “bebas-aktif” dalam upaya politik bilateral, regional, dan internasional.

Setiap perubahan yang terjadi dengan Negara-negara di mana Indonesia melakukan kerjasama dengannya, tentu akan mempengaruhi kebijakan politik bebsa aktif Indonesia. Seperti yang baru saja terjadi di Amerika Serikat yang baru saja menyelesaikan perhelatan pemilihan umum Presiden AS untuk periode 2017 – 2022 dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS periode tersebut. Kemenangan Trump menjadi sebuah kontroversi bagi Negara-negara lain. Trump merupakan kandidat presiden yang selama ini kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial seperti seperti mendeportasi imigran, membangun tembok perbatasan antara AS dan Meksiko, mencegah kaum Muslim masuk wilayah AS, dan mengancam bahwa AS akan meninggalkan sekutu-sekutunya. Berdasarkan kajian the Economist Intelligence Unit (EIU), Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat merupakan salah satu 10 risiko tertinggi yang dihadapi dunia. Selain itu Divisi riset dan analisa majalah the Economist itu memperingatkan bahwa keberadaan Trump pada kursi presiden AS bisa berdampak pada situasi keamanan dan politik dunia(BBC, 2016)..

Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia dengan politik bebas-aktifnya untuk terus mempertahankan politik bebas aktif sebagai integritas bangsa. Indonesia sebagai Negara terbesar di ASEAN, tetap diperhitungkan di kancan unia. Selain itu Indonesia juga memiliki sejarah partnership yang panjang dengan Amerika. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, menyebutkan bahwa tidak aka nada perubahan sikap politik Indonesia terhadap Amerika setelah terjadi pergantian presiden AS (Tempo, 2016). Dengan pernyataannya tesebut maka menjadi tantangan Indonesia untuk mempertahankan wajah politik luar negeri yang bebas aktif tanpa dipengaruhi oleh terpilihnya presiden Donald Trump di Indonesia. Berdasarkan uraian masalah di atas maka di dalam makalah ini akan di bahas bagaimana upaya Indonesia dalam mempertahankan politik luar negeri ‘bebas-aktif’ pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

B. Pembahasan

Politik bebas diartikan bahwa bangsa Indonesia berhak menentukan sikap menghadapi masalah-masalah tanpa berpihak pada blok-blok kekuatan atau persekutuan militer yang ada di dunia. Politik aktif berarti bahwa Indonesia akan selalu memperjuangkan ‘kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial’ di dunia (Hatta, 1988). Politik bebas aktif Indonesia dilaksanakan pada lingkup regional dan internasional. Pada lingkup internasional, Indonesia berkomitmen untuk menjaga perdamaian dunia demi terwujudnya politik luar negeri dengan berbagai upaya bilateral, regional dan global. Secara bilateral, Indonesia membangun kerjasamda dengan berbagai Negara sepeti AS dan Australia. Pada lingkup regional, Indonesia bergabung dalam ASEAN sebagai bentuk kerja sama penting dengan Negara-negara tetangga. Dan pada lingkup global, Indonesia Indonesia mendukung langkah-langkahPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berperan aktif dalam berbagai bentuk kerja sama dengan lembaga-lembaga internasional khususnya dalam rangka penegakan hukum, dan berbagai langkah pencegahan, penumpasan, pemberantasan terorisme serta keamanan internasional.

Kepemimpinan Presiden Jokowi merumuskan visi dan misi hubungan luar ngeri, yakni “terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong” (Lelly, 2014). Visi ini mempertegas makna “kebebasan” Indonesia dengan cara mewujudkan kedaulatan, kemandirian, dan kepribadian nasional. Di dalamnya juga terkandung sikap dan sifat “aktif” untuk dapat merealisasikan kemandirian nasional atas landasan kerjasama positif dan konstruktif yakni gotong-royong. Prinsip ini diatur terpisah di dalam Undang-Undang Hubungan Luar Negeri Nomor 37 Tahun 1999, sehingga ‘bebas-aktif merupakan pilihan paling rasional untuk mencapai kepentingan nasional Indonesia.

Prinsip “bebas-aktif” yang dianut oleh politik luar negeri Indonesia bertujuan untuk memelihara identitas nasional di lingkup politik internasional. Jika melihat dinamika politik internasional antawa Presiden Susilo B. Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo, sebenarnya tidak jauh berbeda dimana tujuan ‘bebas-aktif’ untuk penguatan nasional. Melihat bahwa kekuatan-kekuatan internasional masih akan tetap berada di tangan AS, Uni Eropa melalui organisasi-organisasi international seperti PBB, UE/NATO, IMF/WB, WTO, dll, Indonesia tidak terpisahkan dari AS dan EU karena lembaga-lembaga tersebut menjadi instrumen penting bagi legitimasi maupun penguatan dan perluasan peran negara-negara besar tersebut.

Hubungan diplomatik dengan Amerika masa pemerintahan Barrack Obama telah terjalin dengan baik di masa SBY dan semakin baik saat Jokowi memimpin. Hubungan itu didasari komitmen menjaga hubungan bilateral yang baik antara Indonesia dengan Amerika. Indonesia telah secara aktif meningkatkan peran internasionalnya untuk menciptakan kestabilan dan kesejahteraan di kawasan Asia Pasifik melalui implementasi prinsip dynamic equilibrium di Asia Pasifik, menggunakan sumber daya yang dimililiki seperti status Negara demokrasi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan lokasi geopolitik yang strategis. Tak hanya itu, AS juga berkeinginan untuk menciptakan sebuah kerjasama dan kemitraan dengan Indonesia berlandaskan prinsip-prinsip dasar politik luar negeri seperti penegakan nilai-nilai demokrasi dan penghormatan nilai-nilai HAM.

Terkait dengan kemenangan Donald Trump dengan visi-misinya yang menyinggung politik bilateral dengan Negara-negara lain, Indonesia pantas untuk merasa tertantang. Banyak Negara yang merasa was-was pasca Trump terpilih, sebab dalam pidato kampanye-nya, Trump menyinggung soal rencana pemutusan hubungan dengan sejumlah negara aliansi. Sama dengan kritikannya pada ahun 1987, Trump mendesak pertahanan Amerika agar berhenti mengeluarkan anggaran untuk membela negara lain yang mampu membela diri sendiri (VOAIndonesia, 2016). Janji kampanyenya mengancam banyak organisasi dunia seperti NATO dan aliansi keamanan Amerika dengan Jepang dan Korea Selatan sampai ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Perjanjian Perubahan Iklim Paris.

Masih terlalu dini untuk memprediksi bagaimna sikap Donald Trump terhadap Negara-negara aliansi dan Negara yang bekerjasama dengan AS, termasuk Indonesia. Setelah terpilih menjadi presiden, Donald Trump tentu saja akan berusaha mewujudkan semua janji dan visi-misinya terkait dengan politik internasional. Sebenarnya, melalui kampanye-kampanye, Trum telah memberikan sinyal-sinyal mengenai sikapnya terhadap isu-isu strategis internasional. Misalnya, Trump akan bersikap lebih konfrontatif dan ofensif terhadap China, mempertimbangkan China mulai tumbuh secara politik dan ekonomi.

Kekuatan ekonomi di kawasan Asia Timur dan ASEAN tidak bisa begitu saja diabaikan oleh Trump. Kondisi ekonomi rupanya akan sangat mempengaruhi hubungan politik Amerika dengan Negara-negara di ASEAN. Khususnya bagi Indonesia, hal ini bisa menjadi kesempatan emas, mengingat Indonesia – AS telah menjalin hubungan kerjasama sejak lama. Di samping itu semua, Indonesia juga menghadapi tantangan besar menyikapi Trump yang akan membatasi kunjungan muslim di AS, sedangkan Indonesia sendiri adalah Negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia.

Pasca Trump diumumkan menang, Presiden Joko Widodo mengucapkan elamat Trump pada kemenangannya, mengundang presiden AS terpilih untuk melanjutkan hubungan diplomatik keua negara untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan di dunia. Amerika Serikat, lama dilihat sebagai masyarakat yang demokratis dan pluralis, akan tetap begitu, dan terus mengerahkan dampak positif pada hubungan dengan Indonesia di bawah presiden Trump. Sebuah media menyatakan bahwa, “Donald Trump has made it clear he doesn’t trust Muslims, but that hasn’t stopped him from trying to make money in majority Muslim countries.” Itu artinya Indonesia masih memiliki kesempatan besar untuk melanjutkan kerjasama dengan AS setelah Trump resmi memerintah.

Maka dengan demikian, Indonesia tetap harus mempertahankan wajah politiknya, ‘bebas dan aktif’ menyikapi terpilihnya Trump sebagai presiden As. Indonesia berharap bahwa AS di bawah kepemimpinan Presiden Trump akan membawa kemajuan bagi hubungan bilateral Indonesia-AS. Capaian-capaian kerja sama kedua negara yang telah disepakati melalui Kemitraan Komprehensif kiranya dapat terus dijalankan dan ditingkatkan (Jemadu, 2016). Prinsip politik ‘bebs-aktif’ Indonesia dijalankan dengan tetap menjadi Negara yang mengedepankan perdamaian dan pendekatan persuasive dalam nengatasi konflik atau permasalahan di tingkat internasional. Selain itu, Indonesia perlu bersikap kritis jika di masa mendatang pemerintah AS di bawah Trimps lebih memilih perang dalam mengatasi persoalan.

Daya tarik Indonesia tidak hanya dari segi ekonomi melainkan  juga srategis keamanan. Indonesia memiliki kekuatan menengah di kawasan yang sangat penting sehingga berpotensi menjadikan Indonesia sebagai insiator pemeliharaan stabilitas keamanan regional. Dalam konteks prinsip – prinsip Trump, Indonesia harus berprinsip menjaga jarak yang sama dengan kekuatan-kekuatan besar. Konsisten politik ‘bebas-aktif’ Indonsia akan menjadikannya sebagai mitra terpercaya dan diteirma oleh semua pihak. Selain itu, prinsip bebas aktif seharusnya  dibingkai dalm kombinasi yang cerdas tidak memilih antara kapitalisme atau komunisme yang bertentangan. Mempertahankan prinsip bebas-aktif akan meningkatkan daya tawar terhadap kekuatan-kekuatan besar, seperti Amerika Serikat.

Penutup

Berdasarkan kajian the Economist Intelligence Unit (EIU), Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat merupakan salah satu 10 risiko tertinggi yang dihadapi dunia. Selain itu Divisi riset dan analisa majalah the Economist itu memperingatkan bahwa keberadaan Trump pada kursi presiden AS bisa berdampak pada situasi keamanan dan politik dunia. Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia dengan politik bebas-aktifnya untuk terus mempertahankan politik bebas aktif sebagai integritas bangsa. Indonesia sebagai Negara terbesar di ASEAN, tetap diperhitungkan di kancan unia. Selain itu Indonesia juga memiliki sejarah partnership yang panjang dengan Amerika.

Prinsip politik ‘bebs-aktif’ Indonesia dijalankan dengan tetap menjadi Negara yang mengedepankan perdamaian dan pendekatan persuasive dalam nengatasi konflik atau permasalahan di tingkat internasional. Selain itu, Indonesia perlu bersikap kritis jika di masa mendatang pemerintah AS di bawah Trimps lebih memilih perang dalam mengatasi persoalan. Dalam konteks prinsip – prinsip Trump, Indonesia harus berprinsip menjaga jarak yang sama dengan kekuatan-kekuatan besar. Konsisten politik ‘bebas-aktif’ Indonsia akan menjadikannya sebagai mitra terpercaya dan diteirma oleh semua pihak. Selain itu, prinsip bebas aktif seharusnya  dibingkai dalm kombinasi yang cerdas tidak memilih antara kapitalisme atau komunisme yang bertentangan.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *