Pendahuluan

Seorang pemimpin adalah kunci utama suksesnya sebuah organisasi, dimana pemimpin memegang kunci besar agar organisasi bisa terarah dan mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Sehingga, dalam pandangan masyarakat, sukses atau tidaknnya sebuah organisasi berhubungan erat dengan kepemimpinan di dalamnya, termasuk siapa pemimpinnya. Menurut Harter (2003), literatur tentang kepemimpinan saat ini menimbulkan tantangan yang berbeda untuk tiga posisinya:[1] (a) bahwa setiap orang adalah pemimpin, (b) bahwa tidak ada pemimpin, dan (c) kepemimpinan yang mandiri kepemimpinan. Untuk menghindari kebingungan, praktisi harus melihat lebih dekat pada argumen, tidak hanya untuk alasan historis.

Dalam konsep “The Great Man Theory”, dikatakan bahwa kesuksesan muncul dari “dorongan” aktif individu dibandingkan “tarikan” pasif pada tekanan lingkungan. Sejarawan bisnis awal memuji keunggulan “self-made men” seperti Andrew Carnegie dan John D. Rockerfeller, Napoleon Hill yang secara inspiratif memperkuat keinginan luar-dalam kepada individu untuk sukses.

The Great Man Theory, adalah sebuah teori kepemimpinan yang sudah populer sejak abad ke-19.  Teori ini dipopulerkan pada 1840-an oleh Thomas Carlyle, dan pada tahun 1860 Herbert Spencer merumuskan kontra-argumen yang sangat berpengaruh sepanjang 20 abad; Spencer mengatakan bahwa The Great Man  adalah produk dari masyarakat mereka, dan tindakan mereka tidak mungkin dibangun tanpa kondisi sosial masa hidup mereka.[2]  Sebagai contoh, kepribadian besar konflik tokoh terkenal contohnya seperti Sir Winston Churchill, Franklin Delano Roosevelt, Joseph Stalin, Charles de Gaulle (Sekutu); Adolf Hitler, Benito Mussolini, (Axis) dan lain sebagainya.

Istilah Great Person atau Great Man digunakan pada saat itu karena kepemimpinan dianggap terutama sebagai kualitas dari seorang laki-laki, terutama dalam hal kepemimpinan militer.[3] Misalnya anggota royalti, perwira militer dengan pangkat tinggi ataupun kepala industri umumnya termasuk dalam karakter The Great Man Theory, dimana walaupun terlihat kuno namun banyak penelitian yang menyebutkan kepimpinan berasal dari sifat kepribadian, perilaku dan pengetahuan (Yaverbaum dan Sherman, 2008).[4]

Ide tersebut kemudian membawa gambaran bahwa beberapa individu dilahirkan memiliki sifat-sifat tertentu yang secara alamiah menjadikan mereka seorang pemimpin. Teori ini mencoba untuk membandingkan sifat-sifat seorang pemimpin dengan individu bukan pemimpin. Teori ini secara garis besar merupakan penjelasan tentang orang besar atau pahlawan dengan pengaruh individualnya berupa karisma, intelegensi, kebijaksanaan, atau dalam bidang politik tentang pengaruh kekuasaannya yang berdampak terhadap sejarah.

Teori ini menganggap pemimpin itu dilahirkan (given), bukan karena faktor pendidikan dan pelatihan. Konsep kepemimpinan dalam The Great Man adalah atribut tertentu yang melekat pada diri pemimpin, atau sifat personal, yang membedakan pemimpin dari pengikutnya. Menurut pendapat penulis, teori ini juga disebut dengan teori pendekatan sifat atau trait approach theory, yakni sebagai pola terpadu dari karakteristik pribadi yang mencerminkan berbagai perbedaan individual dan efektivitas kepemimpin yang konsisten di berbagai kelompok dan situasi organisasi (Zaccaro, Kemp, & Bader, 2004).[5] Pemimpin demikian disebut sebagai pemimpin alamiah, lahir dengan seperangkat kualitas pribadi yang membuat mereka pemimpin yang efektif. Bahkan saat ini, keyakinan masyararakt bahwa pemimpin hebat itu terlahir adalah sesuatu yang lumrah.

Pembahasan

Istilah The Great Man Theory sebenarnya muncul setelah Thomas Carlyle menyatakan “The history of the world is but the biography of great men” atau “Sejarah dunia ada karena biografi orang-orang besar”, ditambahkan pula oleh Herbert Spencer, bahwa “Kondisi sosial tidak aka nada tanpa kehadiran orang besar…” “Before he can remake his society, his society make him”.[6] Dengan dua pendapat tersebut disimpulkan bahwa pemimpin adalah sebuah bakat dengan keunggulan pribadi yang unik untuk menangkap imajinasi masyarakat.

Di tahun 1880-an, William James berpendapat bahwa individu membuat perbedaan dalam sejarah, dan bahwa studi tentang orang-orang berpengaruh adalah mengejar akademis dipertahankan.[7] Jika kita melihat para pemimpin besar dari masa lalu seperti Alexander Agung, Hannibal Barca, Napoleon, Jenghis Khan dan Abraham Lincoln, kita akan menemukan bahwa mereka tampaknya berbeda dari manusia biasa dalam beberapa aspek. Hal yang sama berlaku untuk para pemimpin kontemporer seperti Barack Obama dan Nelson Mandela atau Joko Widodo. Mereka memiliki ambisi tingkat tinggi ditambah dengan visi yang jelas kemana tujuan mereka. Semua peristiwa sejarah akan mempengaruhi keputusan individu mereka. Jadi, para pahlawan atau tokoh-tokoh besar sejarah tersebut membentuk sejarah melalui atribut pribadi dan sifat alamiah mereka. Dapat dikatakan pula bahwa seorang pemimpin terbentuk dengan kapasitas kepemimpinan secara lahiriah serta tidak dibuat atau dibentuk.

Menurut beberapa sumber, The Great Men Theory hampir sama dengan The Trait Theory. Pemimpin demikian disebut sebagai pemimpin alamiah, lahir dengan seperangkat kualitas pribadi yang membuat mereka pemimpin yang efektif.  Beberapa pakar kepemimpinan menyamakan karakter pemimpin efektif diantara kedua istilah tersebut. Davis di tahun 1972 (Suharnomo, tanpa tahun), mengemukakan empat karakter utama kesuksesan kepemimpinan yang dibawa oleh seorang pemimpin efektif, antara lain:[8] pertama, kecerdasan (intellegence) dimana seorang pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari pengikutnya; kedua, kedewasan sosial dan hubungan sosial yang luas (social maturity and breadth), yaitu pemimpin cenderung mempunyai emosi stabil, dewasa dan matang serta mempunyai kegiatan luas; ketiga, motivasi diri dan dorongan berprestasi, yaitu pemimpin mempunyai karakter dorongan instrinsik yang lebih kuat dari pada ekstrinsik ketika menjalankan peran-peran kepemimpinan dan keempat, sikap-sikap hubungan manusiawi yaitu, seorang pemimpin serta berorentasi pada pengikutnya.

Karakteristik yang keempat ini mengacu pada fleksibilitas seorang pemimpin untuk bisa beradaptasi pada bawahan dan lingkungannya. Di sampaikan juga di dalam penelitian Stogdil, 1974 dalam Bolden et al., 2003;[9] Skills and Traits yang dimiliki oleh kebanyakan pemimpin salah satunya adalah fleksibilitas atau kemampuan beradaptasi dengan situasi apapun.  Di dalam organisasi bisnis misalnya, seorang pemimpin dianggap efektif oleh orang lain ketika mereka bersikap ekstrovert, memiliki emosi yang stabil (harga diri yang tinggi), dan terbuka untuk pengalaman baru (kreatif). Ciri-ciri ini umumnya tertanam dan tidak mudah untuk dipelajari.[10] Dapat dikatakan bahwa kesuksesan organisasi sangat tidak mungkin terjadi jika dipegang oleh para pemimpin yang bersifat agresif-pasif. Setiap masalah karakter yang mempengaruhi kualitas dan kredibilitas hubungan interpersonal juga cenderung mempengaruhi kemampuan pemimpin untuk berkembang secara optimal. Hal ini terutama berlaku ketika situasi di sekitar mereka berubah. Itulah mengapa, fleksibilitas seseorang sangat diperlukan dalam hal kepemimpinan atau ketika menjadi pemimpin. Menurut Oren Harari (2003), salah satu kunci filosofi Powell adalah tekanannya pada fleksibelitas.[11] Karena kondisi-kondisi selalu berubah, pemimpin harus selalu siap untuk berubah juga ketika kondisi menghendakinya. Contoh kepemimpinan yang fleksibel ini terjadi pada tokoh besar nasional Sri Mulyani Indrawati.[12] Awalnya, Sri Mulyani adalah seorang pengamat ekonomi di Indonesia yang kemudian diangkat sebagai Menteri Keuangan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Pada tahun 2008, Sri Mulyani ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Menteri


Daftar Isi

Bolden, R., Gosling, J., Marturano, A. and Dennison, P (2003) A Review Of Leadership Theory And Competency Frameworks. Exeter: Center of Leadership Studies University of Exeter

Harari, Oren. (2003). The Leadership Secrets of Colin Powell, Sebuah paradigm baru kepemimpinan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum.

Harter, N (2003). Between Great Men and Leadership: William James on the Importance of Individuals. Journal of Leadership Education. 2 (1), p 3-12

Levin, I & Turner, R. (2009). Can Leaders Really Be “Developed”?. The California Psychologist. 42 (1).

Purhantara, W. (2010). Kepemimpinan bisnis Indonesia di era pasar bebas.  Jurnal Ekonomi & Pendidikan, 7 (1), halm, 18-33

Suharnomo, (Tanpa tahun). Trait theory, persepsi kesempurnaan manusia dan krisis figur pemimpin: model subtitusi kepemimpinan sebagai alternatif. Semarang: Universitas Diponegoro.

Susan Leshnower, Adjunct faculty, Midland College, Texas, “Making Music and Learning Leadership, speech at Cassette String Quartet”. http:/www. academic leadership.com.

Zaccaro, S. J., Kemp, C., & Bader, P. (2004). Leader traits and attributes. In J. Antonakis, A. T. Cianciolo, and R. J. Sternberg (Eds.), The nature of leadership (pp. 101–124). Thousand Oaks, CA: Sag