SEBUAH REFLEKSI DOKUMEN STRATEGIS U.S. NAVY: FORMULASI STRATEGI MARITIM INDONESIA

Pendahuluan

Pada bulan Maret 2015, Amerika Serikat menerbitkan sebuah dokumen strategis baru yang berjudul A Cooperative Strategy for 21st Century Seapower (CS21R) sebagai revisi dari dokumen serupa yang diterbitkan pertama kali tahun 2007 silam. Pada dasarnya, sebuah dokumen dapat dikategorikan sebagai dokumen strategis jika dokumen tersebut dapat berfungsi sebagai referensi dan pedoman yang mampu memberikan arah atau petunjuk bernilai strategis yang sangat penting bahkan vital bagi kepentingan sebuah negara atau organisasi tertentu. Bagi Angkatan Laut Amerika Serikat atau U.S. Navy (USN), dokumen strategis tersebut merupakan panduan utama dalam pembangunan, pengembangan dan penggunaan kekuatan militernya di laut dalam menghadapi kontijensi dan ancaman saat ini yang makin kompleks dan tidak menentu.

Dokumen strategis ini juga menetapkan prioritas maritime di era sumber daya yang serba terbatas, sementara menekankan kemampuan warfighting dan kehadiran angkatan laut ke depan untuk memajukan kepentingan nasional saat ini serta membuat persiapan untuk tantangan di masa depan. Dengan ada kepentingan strategis ini pula, maka Amerika Serikat berusaha memperkuat kerjasama dengan beberapa Negara sekutu di kawasan Indo-Asia-Pasifik seperti Australia, Jepang, Selandia Baru, Filipina, Republik Korea dan Thailand serta menumbuhkan kemitraan dengan negara-negara seperti Bangladesh, Brunei, India, Indonesia, Malaysia, Mikronesia, Pakistan, Singapura dan Vietnam.

Seiring dengan visi nasional Indonesia Poros Maritim Dunia yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, saat ini TNI Angkatan Laut (TNI AL) sedang berupaya untuk membuktikan jati dirinya sebagai kekuatan pertahanan negara di laut melalui visi membangun TNI AL yang handal dan disegani serta berkelas dunia (A World Class Navy). Visi yang dicanangkan Jokowi tersebut sangat tepat. Secara geografis, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang tersusun menjadi gugusan kepulauan terbesar di dunia dan dirangkai oleh 95.181 km garis pantai (terpanjang kedua setelah Kanada). Salah satu visi tersebut memuat tentang parameter  maritim Indonesia yang keenam, yaitu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 1, 2, 3 merupakan jalur pelayaran internasional yang lebih besar dari Terusan Suez, Terusan Panama maupun Gilbaltar, dimana jalur ini dibentuk melalui diplomasi internasional.[1] Dengan adanya visi tersebut maka dapat dikatakan bahwa kebijakan poros maritime tidak hanya berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia namun juga peningatan keamanan dan kenyamanan Negara lain yang berada di wilayah Indonesia.

Posisi Indonesia yang begitu strategis yakni berada di antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia merupakan ‘choke point’ yang menentukan dinamika politik global, khususnya potensi adanya konflik di antara negara-negara besar seperti AS, China, Jepang, dan ASEAN. Sehingga, wilayah pesisir dan laut Indonesia menjadi penentu dinamika iklim global dimana kondisi ini merupakan tantangan utama Indonesia di bidang maritim. Dengan posisi Indonesia sebagai poros penentu, maka ancaman yang dirasakan tak lain adalah gangguan stabilitas keamanan di laut yang memungkinan Indonesia menggunakan dua kekuatan besarnya, yaitu kekuatan senjata militer yang nyata yang bersifat konfensional dan kekuatan fisik bersenjaga dan non bersenjata yang bersifat non konvensional.

Oleh karena itu, TNI AL perlu mempertimbangkan penyusunan strategi maritim Indonesia untuk memberikan arah dan pedoman yang tegas dan jelas tentang visi dan misi TNI AL ke depan yang juga dapat dijadikan landasan yang kokoh bagi kesinambungan pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI AL dari masa ke masa.

CS21R

Tantangan Angkatan Laut yang dihadapi saat ini adalah bagaimana kesatuan tersebut mampu melaksanakan strategi maritime yang sebenarnya dengan kekuatan yang saat ini terus menyusut.[2] Di masa kejayaan Amerika Serikat, tingkat ancaman global  di negara tersebut mulai menurun dibarengi dengan defisit anggaran yang semain parah. Sebuah “strategi” telah diterbitkan dengan nama CS21R oleh Angkatan laut dengan tujuan utama tunggal yakni menumbuhkan kerjasama internasional yang luas mengenai keamanan maritime, dan dalam hal ini sudah berhasil. Ada empat ide yang menonjol dari strategi maritime AS terbaru ini.[3] Pertama, elevasi operasi (EM) spectrum elektro-magnetik ke tingkat yang sama dengan daerah perang angkatan laut lain seperti perang di darat dan udara secara terpadu dan pertahanan rudal. Kedua, memajukan kekuatan yang tidak mungkin tumbuh di tahun-tahun mendatang; dan, jika krisis keuangan berlangsung terus menerus, kekuatan yang cukup cenderung menurun. Ketiga adalah penentuan dalam mendapatkan dan mempertahankan akses sebagai kontribusi angkatan laut utama ke pasukan gabungan. Dan keempat adalah penekanan pada pencapaian fleksibilitas yang lebih besar, adaptasi, dan modularitas dalam layanan laut.

CS21R merupakan dokumen strategis yang disusun sesuai panduan strategis di atasnya antara lain 2012 Defense Strategic Guidance dan 2014 Defense Security Review (QDR). Dokumen ini menjelaskan tentang desain, pengorganisasian dan penggunaan kekuatan militer maritim dalam mendukung strategi pertahanan dan keamanan nasional Amerika Serikat. Strategi ini juga memuat sejumlah prioritas maritim dalam era terbatasnya sumber daya namun diharapkan tetap mampu menunjukkan kemampuan tempur dan kehadiran kekuatan laut di depan (naval forward presence) untuk mendukung kepentingan nasional saat ini dan menuntun penyiapan kekuatan untuk menghadapi tantangan ke depan.

CS21R tetap merupakan dokumen strategis bersama yang disusun dan ditandatangani oleh pimpinan oleh tiga instansi yaitu USN, USMC (U.S. Marines Corps) dan USCG (U.S. Coast Guard) sama seperti dokumen sebelumnya. Namun demikian, CS21R berbeda dibandingkan dengan CS21 (2007) baik dalam isi maupun muatan penulisannya. Hal baru yang dimunculkan  dalam dokumen CS21R antara lain tentang pengaruh kebijakan anggaran pertahanan pemerintah AS (sequestration) dan meningkatnya kompleksitas lingkungan ancaman di dunia saat ini. Dokumen ini juga memperkenalkan istilah baru dalam penyebutan kawasan Asia Pasifik menjadi kawasan Indo-Asia Pasifik dengan cakupan area yang lebih luas. Cina juga menjadi salah satu penekanan khusus yang disinggung dalam dokumen CS21R. Konsep baru lain yang dimunculkan dalam CS21R adalah All Domain Access (ADA). ADA diarahkan untuk mengantisipasi kemampuan negara (misalnya Cina, Rusia dan Iran) dan aktor non-negara (misalnya, the Islamic State of Iraq and the Levant/ISIL atau the Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) dalam membatasi akses kekuatan militer yang modern seperti tentara Amerika Serikat melalui strategi anti-access/area denial (A2/AD).

Dalam kaitannya dengan pembangunan kekuatan, CS21R menjelaskan bahwa kekuatan militer yang akan dibangun ditujukan agar dapat mendukung aksi militer untuk mengalahkan satu musuh di kawasan melalui sebuah kampanye militer besar dan yang dilakukan dalam beberapa tahapan. Pada saat bersamaan, kekuatan yang dibangun harus juga memiliki kemampuan mencegah tercapainya tujuan militer agresor lain di kawasan berbeda. Untuk memenuhi kemampuan tersebut, USN dan USMC harus menyiagakan armada dengan kekuatan lebih dari 300 kapal perang, termasuk 11 kapal induk, 14 kapal selam nuklir rudal balistik (SSBN) (diganti oleh program penggantian 12 kapal selam nuklir kelas Ohio SSBN(X)), dan kapal angkut amfibi. Sementara itu, USCG harus menyiagakan armada dengan kekuatan sebanyak 91 kapal Coast Guard. Meskipun masih ditemukan sejumlah celah strategis dari proses dan konsep strategi yang diadopsi USN beberapa tahun terakhir ini[4], USN masih merupakan kekuatan Angkatan Laut terkuat dan terdepan di dunia saat ini, khususnya dari aspek kuantitas dan teknologi alutsista serta kemampuan, kompetensi dan kesiapan tempur personilnya.

Amerika Serikat bersamaan dengan penerbitan dokumen CS21R ini akan semakin meningkatkan Layanan Laut (Sea Services) dalam mengejar tujuan keamanan nasional. Layanan Laut ini memberikan Negara sebuah pilihan yang kredibel, fleksibel dan terukur untuk mempertahankan kebebasan laut, cepat menganggapi krisis serta menghalangi dan mengalahkan agresi. Strategi ini juga mengidentifikasi serangkaian tantangan geo-politik, militer, dan fiscal serta peluang bagi angkatan laut untuk membentuk kekuatan dan mengatasi tantangan tersebut.

Perlukah TNI AL memiliki Strategi Maritim?

Indonesia sudah banyak mengalami pergantian pemerintahan yang selalu diikuti dengan pergantian roda dan sistem pemerintahannya. Di bidang politik, ekonomi, pertahanan/militer pun juga mengalami perubahan seiring dengan situasi regional dan global yang selalu dinamis. Keadaan seperti ini sudah sangat jelas mempengaruhi semua kehidupan bernegara hingga di tingkat yang lebih bawah yakni Strategi Maritim. Indonesia sendiri sudah mencanangkan kepentingan nasionalnya yang termuat dalam Perpres No 07 tahun 2008 yang dibagi dalam 3 strata/prioritas, yaitu Mutlak, Penting dan Pendukung.[5] Peraturan tersebut juga didukung dengan Peraturan Menteri Pertahanan No Per/22/M/XII/2007 pada tanggal  28 Desember 2007 tentang Strategi Pertahanan Negara Republik Indonesia. Strategi Militer disusun oleh Mabes TNI mengacu pada Strategi Pertahanan Negara Ri yang memiliki strategi maritim. Kondisi saat ini, Indonesia belum bisa menerjemahkan potensi ancaman di sekitarnya (eksternal super power/ESP) yang berpotensi menggerus kepentingan nasional di masa mendatang. Ketidakjelasan mendefinisikan potensi ancaman ini pula, yang menyebabkan penjabaran strategi pertahanan Indonesia menjadi kabur.

Ada dua alasan utama bagi TNI AL untuk mempertimbangkan perumusan strategi yang menyerupai CS21R yang dapat digolongkan sebagai alasan teoritis dan praktis. Alasan teoritis, dalam dunia kemiliteran strategi bukanlah hal yang asing karena pada dasarnya strategi sangat berkaitan dengan usaha untuk memenangkan perang. Strategi dapat diartikan sebagai interaksi dari tiga faktor di dalamnya yaitu ends, ways, and means, yang banyak digunakan sebagai formulasi sebuah strategi. Jadi strategi menjelaskan cara (way) bagaimana sarana yang tersedia (means) akan digunakan untuk mencapai tujuan akhir (ends) dari sebuah kebijakan.[6] Strategi maritim merupakan pemberi arah bagi seluruh aspek kekuatan nasional yang berhubungan dengan kepentingan nasional di laut. Memang angkatan laut memegang peran penting dalam konteks ini, namun demikian strategi maritim tidaklah sepenuhnya milik angkatan laut karena ada banyak stakeholder terkait antara lain perdagangan laut, perikanan, pertahanan, keamanan dan keselamatan di laut, sumber daya kelautan dan sebagainya. Jadi, sektor maritim merupakan domain yang diwarnai dengan interaksi kepentingan militer dan sipil yang kompleks.

“Naval strategy is but that part of it which determines the movements of the fleet when maritime strategy has determined what part the fleet must play in relation to the actions of the land forces; for it scarcely needs saying that it is almost impossible that a war can be decided by naval action alone” Sir Julian Corbett

Alasan praktis, dokumen strategi maritim sangat dibutuhkan sebagai landasan pembangunan TNI AL menuju Angkatan Laut yang handal dan disegani serta berkelas dunia. Strategi maritim memegang peran penting sebagai panduan strategis dalam pembangunan kekuatan TNI AL sesuai dengan konsep Minimum Essential Force (MEF) yang akan menunjang pencapaian visi maritim nasional Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Sebagai contoh, pemikiran pembangunan kekuatan TNI AL yang mengarah kepada konsep pembangunan alutsista berupa kapal perang berukuran besar yang mampu memproyeksikan kekuatan laut jarak jauh, peningkatan kompetensi sumber daya manusia TNI AL dan kemampuan pangkalan, khususnya di wilayah perbatasan dan laut lepas. Konsep strategis perlu digali lebih dalam sesuai dengan perkembangan lingkungan strategis secara global, regional dan nasional saat ini dan di masa yang akan datang.

Tidak hanya itu saja, sesuai yang telah diamanatkan Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraannya terkait Visi Nasional Indonesia Poros Maritim Dunia, bahwa visi ini menjadi sangat penting mengingat melihat keadaan geografis Indonesia secara nyata dua pertiganya adalah lautan dengan 17.499 pulau yang menyimpan jutaan sumber daya untuk dikelola bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Dengan potensi maritim yang sangat melimpah tersebut, Indonesia membutuhkan energi ekstra berupa pertahanan dan keamanan di wilayah perairannya untuk menjadi potensi laut agar tidak terjadi konflik dan tindakan illegal yang merugikan Indonesia sendiri. Visi ini tidak akan berhasil terlaksana jika hanya didukung oleh personel Angkatan Laut yang minim dan kurang memadai jika dibandingkan dengan luas wilayah Indonesia yang harus dijaga. Terlebih lagi masalah keterbatasan alat seperti system persenjataan dan teknologi untuk mengontrol dan menjaga laut Indonesia secara berkesinambungan.

Formulasi Strategi Maritim Indonesia

Penyusunan Strategi Maritim Indonesia hendaknya memuat beberapa faktor determinan seperti tujuan, tinjauan singka dengan negara-negara yang berbatasan langsung, Maritime Domain Awareness, dan pengguaan kekuatan.[7] Sudah menjadi tugas militer sepenuhnya dari kekuatan Angkatan laut untuk menghadapi ancaman kovensional murni (konflik perbatasan), dimana Angkatan Laut perlu melakukan empat tahap mengatasi konflik, yaitu: penangkalan yang berisi mengerahkan kekuatan yang dapat diandalkan di medan konflik; memegang kendali inisiatif jika penangkalan gagal (Seizing the Initiative); jika perang benar-benar terjadi maka melaksanakan perang dengan baik yakni mengutamakan kehancuran kekuatan musuh; tahap keempat adalah pengakhiran konflik/perang dengan keuntungan di pihak kita.

Saat ini, TNI AL memiliki sebuah Doktrin TNI AL yang dinamakan Eka Sasana Jaya yang secara hierarki berkedudukan di bawah Doktrin TNI dan Doktrin Pertahanan Negara. Doktrin Eka Sasana Jaya menjelaskan beberapa hal dasar sebagai berikut:[8] a. lingkungan laut dan sifat dasar kekuatan laut; b. perang dan konflik bersenjata; c. konsepsi pertahanan negara di laut; d. kekuatan dan kemampuan maritime; e. gambaran tentang bagaimana Angkatan Laut memberikan kontribusinya kepada pertahanan negara. Pandangan dan konsepsi tentang laut yang mempengaruhi kebijakan pertahanan dan kepentingan nasional di dan lewat laut membentuk fungsi dan peran Angkatan Laut yaitu peran militer (pertahanan negara dan penangkalan), peran polisionil; peran dukungan diplomasi; dan peran lain (MOOTW). Tetapi yang penting dalam doktrin ini adalah peran dan fungsi Angkatan Laut tersebut kemudian diterapkan dalam perlindungan kawasan-kawasan yang dianggap vital dari perspektif geopolitik dan geostrategis Indonesia yaitu SLOC, SLOT, GPL, dan ALKI. Untuk itulah doktrin ini menegaskan perlunya pembangunan kekuatan dan kemampuan maritime dan secara khusus perlunya pembangunan kekuatan Angkatan Laut dengan focus pada: kemampuan pertahanan laut; kemampuan keamanan laut; kemampuan intelijen maritime; kemampuan angkutan laut militer; kemampuan survei; dsb. Semua itu ditujukan untuk tugas-tugas baik perang ( dengan tugas penguasaan, pengendalian, dan penangkalan) maupun non perang.

Pada hakikatnya doktrin berbeda dengan strategi, oleh sebab itu Doktrin Eka Sasana Jaya tidak dapat menggantikan fungsi strategi maritim. TNI AL sesungguhnya telah menyusun Strategi Pertahanan Laut Nusantara (SPLN) yang berganti nama menjadi Strategi Pertahanan Maritim Indonesia (SPMI).[9] Namun demikian, SPMI perlu diperbaharui dan dijadikan dokumen strategis resmi yang akan mengarahkan pembangunan TNI AL ke depan sesuai dengan perkembangan lingkungan geostrategis pada level global, regional dan nasional. Misalnya, kehadiran Bakamla memperkenalkan tatanan baru dalam pertahanan, keamanan dan keselamatan maritim Indonesia.[10] Kondisi ini akan mengarahkan penugasan TNI AL dengan kecenderungan pada fungsi pertahanan negara di laut tanpa sepenuhnya meninggalkan dua fungsi asasi lainnya yaitu diplomasi dan konstabulari. Oleh karena itu, TNI AL dan Bakamla berkoordinasi dengan institusi (stakeholder) terkait lainnya perlu menyusun strategi maritim bersama dalam upaya mensinergikan upaya penegakkan kedaulatan dan hukum serta pertahanan negara di laut.[11]

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *