Analisis Kepentingan Indonesia Serta Peluang dan Tantangan Yang Dihadapi Indonesia Dalam Aktivitas Perdagangan Dalam Hal: Hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat

A. Pendahuluan

Kerjasama perdagangan internasional yang mengarah pada integrasi ekonomi merupakan salah satu jenis perdagangan internasional. Aktivitas perdagangan internasional meningkat seiring berkembangnya globalisasi (Aknolt Kristian Pakpahan, 2015). Terkait, hubungan perdagangan, Amerika Serikat merupakan mitra dagang terbesar ketiga bagi Indonesia setelah Cina dan Jepang. Neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika Serikat menunjukkan nilai yang positif. Neraca perdagangan nilai ekspor komoditas non migas Indonesia ke Amerika Serikat selama Januari-September 2012 tercatat sebesar US$ 11,08 miliar atau 9,69 % dari keseluruhan ekspor non migas sebesar US$ 114,36 miliar (BPS: 2012).

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan Indonesia-Amerika Serikat cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat terdapat peningkatan nilai perdagangan sebesar 12.08% dari tahun 2007-2011. Di bidang investasi, nilai investasi Amerika Serikat ke Indonesia pada tahun 2011 mencapai US$ 1,5 miliar dengan porsi 7,6% dari total investasi dan meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai US$ 1 miliar. Amerika Serikat adalah mitra utama perdagangan internasional Indonesia, namun volume dan nilainya masih kecil. Data Kementerian Perdagangan memperlihatkan masih kecilnya volume perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat dewasa ini dibandingkan dengan potensi yang dimiliki oleh keduanya. Selain perdagangan, investasi Amerika Serikat di Indonesia (berkisar pada 4% dari total investasi di Indonesia tahun 2010) juga masih relatif kecil dibandingkan dengan Jepang (29% tahun 2010) (Sumber: Kementerian Koordinator Perekonomian: 2011).

Dalam bidang perdagangan, peningkatan ekspor ke Amerika Serikat dapat dilakukan dengan pemberian insentif pajak kepada sektor-sektor yang menjadi prioritas ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Sektor ini meliputi sektor pertanian, garmen, peralatan elektronik, dan minyak. Insentif pajak ini dapat berupa pengurangan pajak atas pendapatan dari hasil ekspor, sehingga diharapkan dapat menggiatkan pelaku usaha pada sektor ini untuk meningkatkan kapasitas produksi dan ekspor ke Amerika Serikat. Dalam kaitannya dengan perdagangan Indonesia-Amerika Serikat, pengendalian impor dapat dilakukan dengan membatasi impor hasil pertanian, benang katun, dan garmen dari Amerika Serikat. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian insentif pajak pada sektor pertanian dan tekstil di Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meningkatkan perdagangan bilateral yang tidak hanya menyangkut perdagangan komoditas terutama pertanian, tekstil, perkayuan, dan industri perfilman, tapi juga berbagai kegiatan yang dapat mendorong perdagangan yaitu sertfikasi dan labeling, pemberian General System of Preferences (GSP) bagi Indonesia, perlindungan HKI oleh Pemerintah Indonesia bagi produk dari Amerika Serikat, dan tindakan tegas terhadap praktek-praktek korupsi dan birokrasi yang berbelit-belit.

Terkait aktivitas perdagangan internasional, perlu adanya instrumen hukum internasional. Bidang hukum yang penting untuk diperhatikan dalam suatu perdagangan internasional adalah hukum kontrak. Convention on Contracts for the International Sale of Goods (CISG) berlaku terhadap kontrak untuk penjualan barang yang dibuat diantara pihak yang tempat dagangnya berada di negara yang berlainan. CSIG juga menjembatani kesenjangan antara sistem-sistem hukum yang berbeda di dunia contohnya dalam aktivitas perdagangan dalam hal hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat (Aknolt Kristian Pakpahan, 2015).

Berdasarkan kondisi yang terkait dengan Indonesia dan Amerika Serikat, bidang kerjasama yang berpeluang untuk dikembangkan kedua negara yaitu perdagangan. Makalah ini akan menganalisis kepentingan Indonesia serta peluang dan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam aktivitas perdagangan dengan Amerika Serikat.

B. Analisis Isi

1. Kepentingan Indonesia Dalam Aktivitas Perdagangan Dengan Amerika Serikat

Amerika Serikat adalah pelopor sistem perdagangan internasional modern dan pendiri berbagai institusi perdagangan dan keuangan internasional. Adanya kepentingan Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara tentunya menjadikan Indonesia sebagai core state yang memiliki nilai penting bagi Amerika Serikat. Indonesia adalah negara keempat terbesar di dunia, berpenduduk Muslim terbesar di dunia, eksportir minyak dan gas terbesar di kawasannya dan merupakan titik tumpu ASEAN. Sebagai negara eksportir minyak dan gas terbesar di Asia Tenggara, Amerika Serikat harus memiliki hubungan yang baik dan stabil dengan Indonesia. Bagaimanapun, kebutuhan energi Amerika Serikat sangat besar, dan Indonesia merupakan salah satu sumber pemenuhan kebutuhan tersebut.  Selain itu terdapat anggapan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperlakukan kedatangan Hillary Clinton yang pertama bagai pemodal mengunjungi propertinya-untuk melakukan renegosiasi kontrak-kontrak migas dan tambang, seperti ExxonMobil di Aceh, Kepulauan Natuna dan Cepu, Unocal-Texaco di Kaltim, Chevron-Caltex di Riau, Conoco di Papua dan lainnya; belum lagi pengerukan emas dari dua tambang terbesar di IndonĂ©sia, milik PT Freeport dan Newmont. Dalam kunjungannya di Bali, Hillary mempersoalkan bagaimana meningkatkan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Amerika Serikat. Pasalnya, perdagangan antara dua negara masih tertinggal antara lain di wilayah ini. Perdagangan Amerika Serikat tahun 2015 dengan Indonesia hanya $20 miliar.[1]

Bagi Indonesia sendiri dari sisi ekspor keberadaan Amerika menguntungkan dari sisi ekspor nonmigas. Pasalnya, pasar ekspor non-migas Indonesia lebih besar ke Amerika dibanding ke negara China. Sehingga, ekspor produk nonmigas Indonesia ke Amerika tahun 2009 mencapai 10,5 miliar dollar Amerika dan ekspor non-migas ke China tumbuh dengan sebesar 8,9 miliar dollar Amerika. Impor Amerika ke Indonesia hanya mencapai angka 7 miliar dolar Amerika. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia seharusnya mempunyai sikap yang berdasarkan kepentingan negara dalam bidang ekonomi. Amerika Serikat merupakan salah satu mitra dagang utama bagi Indonesia. Total nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai $1.56 milyar, yang terdiri dari $56 juta ekspor migas dan $1.5 juta ekspor non migas. Sebaliknya, total ekspor Amerika Serikat ke Indonesia mengalami penurunan sebesar 7.84%, dengan penurunan terbesar terjadi ekspor migas (mengalami penurunan lebih dari 50%). Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat terdiri dari karet, tekstil dan pakaian jadi, alas kaki dan mesin listrik, sedangkan ekspor Amerika Serikat ke Indonesia terdiri dari produk pertanian, pesawat, mesin, dan kapas benang serta kain. Nilai ekspor non migas Indonesia secara keseluruhan mengalami tren yang meningkat, kecuali di tahun 2009 sebagai dampak dari krisis global. Angka ekspor Indonesia terhadap Amerika Serikat juga memiliki pola serupa, yakni meningkat sebesar 12,25% pada 2008, lalu turun sebesar 16,77% pada 2009, namun disusul kemudian dengan kenaikan di tahun 2010 dan 2011, masing-masing sebesar 31,49% dan 15,37% (Kementerian Perdagangan, 2012).

Berdasarkan data statistik bulan nov 2009 sumber impor non migas Indonesia yang berasal dari Amerika serikat berada di urutan ke 4 sebesar 7,91 % kalah oleh cina sebesar 17,92 %, Jepang 13,47 % dan Singapura 10,92 % . kondisi ini menunjukkan melemahnya ekonomi Amerika Serikat akibat gempuran krisis keuangan global, Oleh karena itu Amerika sangat berkepentingan untuk meningkatkan kembali jumlah ekspor non migas ke Indonesia yang sekarang sudah didominasi oleh China terlebih lagi dengan kebijakan ACFTA (Asean China Free Trade Agreement) maka dominasi impor China akan semakin kokoh dikawasan ASEAN, maka kunjungan obama ke Indonesia salah satunya adalah untuk meningkatkan ekspor Amerika Serikat Ke kawasan Asean Khususnya Indonesia. Sebuah data dari Kantor Penasehat Perdagangan Amerika Serikat menunjukkan bahwa Ekspor Amerika Serikat untuk kawasan Asia Pasifik akan naik lebih besar 8% daripada tahun 2008 di atas tahun-tahun dulu menjadi $ 747 miliar.[2]

2. Peluang Yang Dihadapi Indonesia Dalam Aktivitas Perdagangan Dengan Amerika Serikat

Dalam menganalisa peluang tersebut, digunakan teori keunggulan komparatif dengan melihat keuntungan atau kerugian dari perdagangan internasional dalam perbandingan relatif. AS unggul terhadap kedua jenis produk, baik elektronik maupun rempah-rempah, akan tetapi keunggulan tertingginya pada produksi elektronik. Sementara Indonesia lemah terhadap kedua jenis produk, baik rempah-rempah maupun elektronik, akan tetapi kelemahan terkecilnya pada produksi rempah-rempah (Aknolt Kristian Pakpahan, 2015). Setiap negara dapat berspesialisasi dan terlibat dalam perdagangan internasional. Terdapat banyak kesempatan untuk bekerjasama pada pembangunan infrastruktur antara Amerika Serikat dan Indonesia, yang akan meningkatkan peluang untuk bisnis dan investasi perusahaan domestik dan asing. Indonesia telah membuat pembangunan infrastruktur yang merupakan foktor utama, dan perusahaan-perusahaan AS yang mampu membawa modal, praktik terbaik, dan teknologi yang terbaik. Dengan berfokus pada pembangunan infrastruktur di Indonesia, perusahaan Indonesia akan menjadi lebih kompetitif di dalam negeri dan global, dan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat akan lebih bersedia untuk berinvestasi di Indonesia yang juga akan memungkinkan AS untuk menyediakan barang yang lebih banyak dan memberikan layanan kepada konsumen Indonesia


Sumber:

[1] http://www.kompasiana.com/megaindah/kepentingan-as-di-asia-tenggara_552c70f56ea834860b8b4647

[2] http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/27/untung-rugi-hubungan-ekonomi-ri-as/

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *