Pendahuluan

Nilai-nilai moral atau yang lebih sering kita kenal dengan etika merupakan topik yang sering menyita banyak perhatian di kalangan masyarakat sekarang ini, karena nilai etika di kalangan masyarakat telah memudar seiring perkembangan zaman yang semakin modern. Etika merupakan cabang dari filsafat di mana mempelajari pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan yang kadang-kadang orang memakai dengan istilah filsafat etika, filsafat moral, filsafat susila.

Menurut Hamdi, etika publik adalah sikap yang lebih mengedepankan kepentingan publik dengan nilai kejujuran di dalamnya.[1] Etika publik adalah refleksi tentang standar atau norma yang menentukan baik-buruk dan benar-salah suatu perilaku, tindakan, dan keputusan yang mengarahkan kebijakan publik dalam menjalankan tanggung jawab pelayanan publik. Ada tiga fokus etika publik, pertama, pelayanan publik berkualitas dan relevan. Artinya, kebijakan publik harus responsif dan mengutamakan kepentingan publik. Kedua, fokus refleksi karena tak hanya menyusun kode etik atau norma, etika publik membantu mempertimbangkan pilihan sarana kebijakan publik dan alat evaluasi yang memperhitungkan konsekuensi etis. Ketiga, modalitas etika yaitu bagaimana menjembatani norma moral dan tindakan. Ketiga fokus itu mencegah konflik kepentingan.[2]

Dalam konsep etika publik (2008:2), Ashadi Siregar memaparkan bahwa media massa berdungsi sebagai penghubung antara fakta sosial dan ruang publik. Fakta publik, yang bersifat benar dan objektif, menjadi dasar penilaian opini publik oleh warga secara rasional. Media massa, dalam konteks ini, menangkap realitas dalam masyarakat, menyaring, dan menyebarluaskannya melalui pemberitaan. Ia membangun makna publik, sebagian fakta publik yang terdistorsi sesuai pembingkaian redaksi.[3] Maka dari itu makalah ini dibuat dengan harapan dapat mengetahui pentingnya etika publik, khususnya terhadap masyarakat dan media terkait kasus Mirna.

Pembahasan

Selama dua minggu lebih ini warga Indonesia dikejutkan dengan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin yang meninggal dunia secara tidak wajar di depan umum. Wayan Mirna Salihin meninggal dunia setelah meminum Es Kopi Vietnam di Olivier Cafe, West Mall, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta Pusat pada Rabu 6 Januari 2015. Mirna diduga diracun dengan sianida.

Kronologi saat itu Mirna berencana menghabiskan waktu petang dengan ngopi cantik bersama dua sahabatnya, Hani dan Jessica Kusuma Wongso. Jessica yang memesan tempat beserta minuman datang 40 menit lebih awal. Setelah itu Mirna dan Hani menyusul sekitar pukul 17.25 WIB. Saat duduk dan meminum es kopi Vietnam, tubuh Mirna seketika kejang dan mulutnya berbusa. Mirna lalu dibawa ke RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat namun nyawanya tak tertolong. [4]

Informasi sebagai komoditi membuat media tidak lagi mengedepankan kebenaran dalam pemberitaannya terhadap masyarakat. Tuntutan pasar membuat media berlomba-lomba mencari informasi baru yang bisa dijual dengan keuntuntungan besar. Bahkan media entertainment seringkali memberi informasi tentang seseorang yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan, biasa kita sebut “gossip”. Dunia media yang tidak lagi didominasi oleh jurnalisme, tetapi juga telah dimasuki dari dunia perusahaan yang mengedepankan profit, telah membuat pasar informasi sebagai lahan keuntungan yang utama. Beberapa pemberitaan media terkait kasus Mirna dan kaitan etika publik, yaitu :

  • Polisi menampik jika pemeriksaan yang dilakukan tim penyidik dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin (27) hanya tertuju kepada satu nama, yaitu rekan Mirna bernama Jesika.[5]
    Media sebagai sarana penyampaian informasi kerap kali berpengaruh terhadap tingkat pendidikan masyarakat. Seiring berkembangnya jaman informasi yang disajikan oleh media semakin bervariasi dan kadang bahkan kualitas informasi yang diberikan semakin menurun. Beberapa media (TV, internet, koran, dll) telah memberitakan gossip terkait kasus Mirna bahwa pemeriksaan yang dilakukan tim penyidik dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin hanya tertuju kepada satu nama, yaitu rekan Mirna bernama Jesika. Hal ini tidak sesuai dengan fokus etika publik yang telah disebutkan di atas yaitu pelayanan publik berkualitas dan relevan. Meskipun demikian masih ada media website seperti metropolitan yang memberitakan berita dengan bertujuan untuk mengklarifikasi kebenaran dari berbagai gossip yang ada dalam masyarakat tersebut.
  • Kejanggalan-kejanggalan sudutkan Jessica dalam kasus Mirna[6]
    Pertanyaan wartawan seperti soal alasan mengapa Jessica membuang celana yang dipakainya pada saat pertemuan dengan Mirna dan Hani di Kafe Olivier usai kematian Mirna.[7] Terkait kasus Mirna polisi bahkan tidak akan melakukan pemeriksaan dengan modal isu yang beredar[8]. Menurut, Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti, polisi itu harus mencurigai semuanya. Polisi memakai asas praduga bersalah. Polisi tdiak bisa bertindak dengan modal isu, pemberitaan, atau sosial media.
    Di lain pihak media semakin merespon isu yang beredar dan bahkan membuat pemberitaan yang terkesan lebay dalam memberitakan kasus Mirna. Misalnya, “Celana itu robek dan ada di tangga, lalu pembantunya nanya ‘non, ini dibuang ya kan sudah nggak bisa dijahit lagi’. Terus dia bilang ‘ya terserah kamu’,” kata Kuasa Hukum Jessica, Yudi Wibowo Sukinto saat dikonfirmasi. Pernyataan tersebut menggunakan bahasa menarik untuk menarik pemirsa agar lebih penasaran kepada kasus Mirna. Bagi media, pasar informasi (news business) pertama-tama adalah untuk mencari keuntungan. Tidak boleh terlambat, tidak boleh didahului oleh koran lain atau televisi lain. Jangan sampai pembaca, pemirsa atau pendengar menurun. Oleh karena itu, media siap berlomba menyiarkan yang sensasional atau spektakuler, dengan harga apapun, yang terkadang sampai mengorbankan profesionalisme. Kuasa Hukum Jessica, Yudi Wibowo Sukinto mengatakan bahwa sampai saat ini pihak penyidik masih mencari-cari celana yang menjadi pemberitaan tersebut hingga ke kediaman Jessica di Apartemen Sunter Icon. Bahkan hingga ke tempat pembuangan sampah tapi tidak ketemu karena sudah diangkut truk sampah. Pembantunya juga diperiksa sampai malam. Mungkin penyidik mengira ada sesuatu di celana jeans Jessica, padahal tidak ada apa-apa jelas Yudi. Etika publik media yang terkesan lebay tersebut dalam pemberitaan dapat menyusahkan pihak lain seperti yang telah disebutkan.

Sumber:

[1] http://news.metrotvnews.com/read/2015/03/17/372260/ahok-lebih-kedepankan-etika-publik-ketimbang-etiket

[2]http://nasional.kompas.com/read/2011/06/07/03001349/Etika.Publik.dan.Konflik.Kepentingan

[3] https://ashadisiregar.files.wordpress.com/2008/10/3_konsep_etikapublik.pdf

[4] http://news.liputan6.com/read/2414605/investigasi-kopi-maut-mirna-sempat-terhambat-bom-jakarta

[5] http://metropolitan.inilah.com/read/detail/2266631/polisi-bantah-hanya-fokus-ke-jesika-di-kasus-mirna

[6] http://www.merdeka.com/peristiwa/kejanggalan-kejanggalan-ini-sudutkan-jessica-dalam-kasus-mirna.html

[7] http://news.detik.com/berita/3123245/ditanya-wartawan-soal-celananya-yang-dibuang-ini-jawaban-jessica?ref=yfp

[8] http://news.liputan6.com/read/2408440/polisi-rekan-yang-pesankan-kopi-untuk-mirna-menolak-diperiksa

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433