Thomas L. Friedman (1999) memberikan nasehat sebagai berikut: “Negara berkembang harus memperkuat akar kebangsaannya” (increase its nationhood)

Kepada Negara-negara berkembang yang harus berinteraksi dengan actor-aktor globalisasi ekonomi yang direpresentasikan oleh negara-negara maju atau Trans National Corporation atau Multi Nasional Corporations, Thomas L. Friedman (1999) memberikan nasehat sebagai berikut: “Negara berkembang harus memperkuat akar kebangsaannya” (increase its nationhood). Dari kasus yang Anda tulis dalam makalah kelompok atau makalah individu, seberapa jauh nasihat tersebut telah dapat dijalankan?

Masih perlu ditingkatkan karena kasusnya seringkali tidak berakar kuat menyebabkan pemerintah mementingkan perkembangan ekonominya saja, menimbulkan kerusakan, akibatnya peran pemerintah melemah.

Lemahnya peran negara dalam membentuk regulasi yang dapat menguntungkan kedua pihak terutama kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pihak asing lebih mendominasi hasil putusan kebijakan dengan cara menempati posisi-posisi strategis dalam pembentukan kebijakan. Dominasi regulasi oleh pihak asing ini secara tidak langsung melemahkan peran pemerintah untuk melakukan suatu gerakan untuk mewujudkan pembangunan Indonesia kearah yang lebih baik. Suprijanto (2011) mengungkapkan bahwa globalisasi ekonomi memberikan dampak negatif bagi hukum ekonomi nasional sebab hal tersebut dapat merusak harmoniasi antara kepentingan internal bangsa, kepentingan nasional dan internasional dan antar sektor kehidupan nasional.[1] Tekanan perdagangan secara internasional ini semakin kompetitif dengan mulai munculnya multi nasionalisasi produksi, integrasi pasar keuangan dan masuknya investasi modal global.

Di era globalisasi, negara-negara berkembang yang harus berinteraksi dengan actor-aktor globalisasi ekonomi yang direpresentasikan oleh negara-negara mahu atau Trans National Corporation atau Multi Nasional Corporations. Tujuannya untuk menciptakan hukum ekonomi nasional khususnya tentang penanaman modal asing yang mengakomodir kepentingan nilai global untuk dimanfaatkan bagi perkembangan perikonomian nasional. Hanya saja, jika peran pemerintah begitu lemahnya mungkin semua kebijakan ekonomi nasional ini akan semakin didominasi oleh perusahaan asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.

Sesuai dengan amanat Thomas L. Friedman (1999) memberikan nasehat sebagai berikut: “Negara berkembang harus memperkuat akar kebangsaannya” (increase its nationhood). Akar kebangsaan suatu negara adalah dasar dari semua bentuk aktivitas dan regulasi yang ada di Negara tersebut. Sulastomo (2015) mengemukakan bahwa tidak semua negara mampu menyesuaikan diri dengan prinsip dan perubahan globalisasi.[2] Hal ini disebabkan latar belakang sejarah, tradisi, dan falsafah setiap bangsa berbeda satu sama lain. Begitu juga dengan Indonesia yang memiliki falsafah dasar Pancasila dengan budaya dan sistem hukum yang berbeda dengan Negara-negara maju yang menjadi aktor utama globalisasi.

Jepang misalnya dengan ekonomi domestik yang berlandaskan kolektivisme sangat menjunjung tingga kebersamaan. Mengikuti sistem free market economy, Jepang tetap belandaskan “kolektivisme” dan sukses bersanding dengan “individualism” yang dianut oleh negara-negara kapitalis. secara lebih efisien. Lalu, Negara-negara Skandinavia yang menerapkan prinsip ekonomi koperasi, dimana tenaga kerja yang terorganisir menjadi pemilik persahaan. Dampaknya, pertumbuhan dan keadilan ekonomi di Negara-negara tersebut masih bisa berlangsung meskipun Negara tersebut juga merasakan dampak globalisasi ekonomi. Sebaliknya, Negara-negara yang menerapkan prinsip-prinsip ekonomi global yang disarankan oleh IMF justru terjerumus pada hutang luar negeri yang sangat besar serta semakin memperburuk perekonomian nasional.

Indonesia sendiri, memiliki falsafah Pancasila yang dituangkan secara detil dalam UUD 1954. Prinsip ekonomi Indonesia tertuang dalam pasal 33 UUD 1945, dimana Indonesia menjunjung tinggi kebersamaan dan kegotong-royongan dan bahkan kekeluargaan. Akan tetapi, sejak pasal 33 UUD 1945 tersebut ditetapkan, Indonesia belum begitu optimal dalam menjalankannya. Terbukti dengan Indonesia yang masuk hanyut dalam arus globalisasi ekonomi yang banyak di bawa oleh para investor asing.

Pemerintah Indonesia memberlakukan kebijakan yang tidak seimbang antara tiga pelaku ekonomi yakni Swasta, BUMN dan Koperasi. Nyatanya, perusahaan-perusahaan swastalah yang mendominasi seluruh aktivitas perekonomian di Indonesia. Perusahaan swasta ini kemudian melahirkan konglomerasi yang menyebabkan ketimpangan sosial semakin lebar. Jumlah perusahaan BUMN tidak bisa menjangkau semua kebutuhan masyarakat Indonesia.  Sementara itu koperasi semakin hilang gaungnya, karena tidak lagi dikembangkan atas dasa kepentingan bersama.

Kebijakan deregulasi dimana pemerintah Indonesia membuka peluang kompetisi selebar-lebarnya. Hal ini sejalan dengan agenda free trade (perdagangan bebas) yang dicanangkan oleh kebijakan ekonomi negara-negara di dunia oleh korporasi dan badan-badan dunia Neo-liberalisme. Deregulasi ini bermaksud mengurangi peraturan-peraturan pemerintah yang bisa merugikan kalangan pengusaha. Sehingga dengan adanya deregulasi ini semua pemain ekonomi di Indonesia bebas melakukan perdagangan tanpa memperhatikan regulasi pemerintah, aspek moral, sosial dan budaya masyarakat.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sejak dari awal pembentukan Negara Indonesia, Indonesia memang telah memiliki falsafah ekonomi yang menjunjung tingg kebersamaan dan kegotong-royongan. Hanya saja, pemerintah Indonesia dan masyarakatnya sendiri belum bisa mengantisipai dan membendung arus globalisasi ekonomi yang terlalu kuat. Akibatnya, pasal 33 UUD 1945 tampaknya belum benar-benar dilaksanakan sesuai dengan rumusan cita-cita bangsa. Padahal, pasal 33 UUD 194 bisa dianggap falsafah bangsa yang mendasar kan jika dijalankan secara serius dan maksimal akan menghasilkan kondisi perekonomian yang lebih lagi dari sekarang dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *