1. Berikan penjelasan bagaimana kecerdasan organisasi bisa meningkatkan daya saing sebuah organisasi?

Kecerdasan organisasi adalah kecerdasan para Sumber Daya Manusia (SDM) dalam organisasi yang terdiri dari Kecerdasan Emosi (EQ) dan Kecerdasan Pikiran (IQ). Hasil penelitian Daniel Goleman (2000) menyimpulkan bahwa Kecerdasan Emosi (EQ = Emotional Intelligence) menentukan 80 persen pencapaian kinerja individu dan organisasi, sedangkan Kecerdasan Pikiran (IQ) hanya 20 persen saja menentukan kinerja. Golemen bukan satu-satunya pengembang konsep ini, masih banyak pakar lain yang juga menyadari pentingnya faktor-faktor non kecerdasan akademis yang disebut EQ ini. Oleh karena itu, pada abad ke 21 ini, pimpinan, staf dan karyawan perlu memperbaiki dan mengembangkan EQ agar pencapaian kinerja organisasi maksimal.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan, ketrampilan, dan kompetensi non kognitif yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam menghadapi tuntutan dan tekanan dari lingkungannya (Stephen Robbin,2007). Kecerdasan emosional berpengaruh terhadap organisasi, sebab organisasi, dimana individu-individunya mempunyai kecerdasan emosional yang memadai, akan dapat berkinerja dan mempunyai produktivitas yang tinggi. Organisasi harus memperbaiki dan membangun kepercayaan karyawan, konsumen, pemegang saham dan masyarakat luas. Yang menjadi pusat pembangunan kepercayaan tersebut adalah para pemimpin, apa yang mereka bela dan bagaimana mereka memimpin. Para pemimpin yang baik sangat memahami dampak, prilaku personal mereka terhadap orang-orang di dalam organisasi yang dipimpinnya. Mereka dengan sadar mengendalikan perilaku mereka untuk memastikan diperolehnya dampak yang diinginkan (Amstrong, 2003).

Organisasi yang mengharapkan dapat berkinerja dengan baik atau mempunyai produktivitas yang tinggi haruslah beranggotakan atau mempunyai karyawan/orang-orang yang sesuai dengan budaya ‘unik’ dari organisasi yang bersangkutan. Orang-orang yang dimaksud adalah mereka yang memiliki kecerdasan emosional yang memadai. Karena dengan kecerdasan emosional yang dimiliki individu-individu di dalam organisasi maka akan terbentuk 5 (lima) pola utama yang dapat mewujudkan suatu lingkungan yang seimbang di dalam organisasi, artinya karyawan tidak hanya akan mencari dan meningkatkan keberhasilan diri mereka sendiri, akan tetapi juga keberhasilan organisasi mereka. Lima pola utama tersebut menurut Department of Trade and Industry and Departmen Education (1997) adalah :

  1. Tujuan bersama, artinya semua individu dalam organisasi memahami bisnis/usaha yang sedang dijalankan.
  2. Budaya bersama, yaitu mamahami dan menyetujui nilai-nilai yang dapat menyatukan mereka.
  3. Pembelajaran bersama, maksudnya secara berkelanjutan mereka mau dan mampu memperbaiki diri sendiri.
  4. Usaha bersama, menyadari bahwa perusahaan/organisasi adalah suatu bisnis yang dikendalikan oleh tim yang fleksibel, sehingga arus informasi yang mengalir dari dan untuk tim akan meningkatkan keefektifan mereka.
  5. Informasi bersama, mengutamakan komunikasi yang efektif di seluruh organisasi/perusahaan.

Dengan individu-individu yang memiliki kecerdasan emosional, suatu organisasi/ perusahaan dapat mewujudkan lingkungan yang seimbang, dimana para individunya tidak hanya mencari dan meningkatkan keberhasilan diri sendiri akan tetapi juga untuk organisasi mereka sehingga kecerdasan organisasi bisa meningkatkan daya saing sebuah organisasi.

2. Berikan penjelasan tentang manajemen perubahan yang dialami di BBC dan apa yang bisa dicontoh dari proses bagi organisasi BUMN di Indonesia!

BBC adalah stasiun televisi paling tua di Britania Raya. BBC lahir pada 1922 sebagai sebuah stasiun radio nasional. Pada 1936, BBC baru merambah ke industri televisi. BBC mulanya hanya dibiayai oleh iuran publik pada mulanya. Iuran televisi yang harus dibayarkan oleh publik Inggris saat ini sebanyak 8 euro per bulan. Inilah yang menjadi sumber pemasukan terbesar BBC (total £3,706 juta euro pada 2014). Karena semakin melambungnya biaya produksi, BBC pun akhirnya bergerak pula dalam ranah komersial untuk menyokong lini utamanya. BBC mengembangkan lini lain seperti BBC World. BBC juga merambah dunia penerbitan. Produk yang mendatangkan keuntungan paling besar adalah paket buku wajib para wisatawan, Lonely Planet.

Orientasi sentral BBC adalah pelayanan publik. John Reith, Direktur Jenderal pertama BBC, sangat menekankan arti penting tujuan pelayanan ini. Bagi Reith, yang memang mesti dikejar oleh BBC adalah mutu siaran. Caranya dengan menyiarkan sebagus mungkin program, yang berusaha mencakup sebanyak mungkin kelompok yang ada di Britania Raya. Namanyalah yang kemudian terabadikan sebagai ‘prinsip’ Reithian dalam BBC.

BBC memegang asumsi dasar bahwa media tersebut adalah media penyiaran publik yang didanai oleh publik, jadi mereka mesti mementingkan siaran yang berguna bagi publik. Pertimbangan komersial harus dikalahkan bagaimana pun juga. BBC terutama bukanlah bisnis, tetapi sebuah lembaga penyiaran publik, karena itulah mutu jurnalisme menjadi panglima. BBC mendedikasikan diri pada keunggulan; pada inovasi dan keaslian. Mencapai kualitas tertinggi pada segala hal yang dilakukan; sebuah komitmen pada departemen program yang merekrut dan melatih kemampuan orang.

BBC sendiri sangat percaya diri dengan kualitas program siarannya. Hal inilah yang seringkali membuat orang menganggap BBC terlalu kolot dan membosankan. Mereka seolah merasa tahu segala yang dibutuhkan oleh pemirsanya, serta berperan untuk mendidik selera publik. John Reith, Direktur Jenderal Pertama BBC (1889-1971) memang sangat menekankan tanggungjawab dunia penyiaran untuk mendidik dan mencerahkan selera masyarakat.[1]

BBC menawarkan pengalaman panjang mengelola media penyiaran publik. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dan dicontoh dari prosesnya tersebut bagi organisasi BUMN di Indonesia. Orientasi sentral BBC adalah pelayanan publik yang merupakan salah satu manajemen perubahan yang dialami di BBC. Proses tersebut bisa dicontoh bagi organisasi BUMN di Indonesia. Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.[2] Mencontoh proses BBC, BUMN dapat menyiarkan sebagus mungkin programnya melalui media seperti yang BBC lakukan. Selain itu, BUMN dapat mencontoh proses BBC dalam mendedikasikan diri pada keunggulan; pada inovasi dan keaslian. Mencapai kualitas tertinggi pada segala hal yang dilakukan; sebuah komitmen pada departemen program yang merekrut dan melatih kemampuan orang. BUMN diharapkan seolah merasa tahu segala yang dibutuhkan oleh pemirsanya, serta berperan untuk mendidik selera publik seperti yang dialami BBC. BUMN harus ikut memperebutkan proyek dan membangun mesin uang dari operasi proyek di Indonesia. BUMN harus menjemput bola dan harus mampu bersaing, baik melalui kemampuan pembiayaan untuk pengadaan lahan maupun pembangunan konstruksinya.

Menurut Forum Human Capital Indonesia, BUMN dapat membuat formulasi prioritas yang dimulai dengan mengaitkan peta situasi dan isu strategik BUMN yang mencakup lima hal yang menjadi prioritas dengan kebutuhan akan BUMN yang memiliki human capital yang efektif, yaitu Change Management, CBHMS, Performance Management, Remuneration System dan Sinergi BUMN. Dengan prioritas tersebut, setiap BUMN dapat melakukan perbaikan untuk mencapai sasaran jangka panjang perusahaan maupun rencana RKAP. Prioritas yang berpredikat very urgent dan very important tentu akan menjadi driver penyusunan opsi strategi human capital sesuai dengan kebutuhan perubahan organisasi BUMN untuk menjadi korporasi yang berdaya saing dan berkinerja prima. Selain itu, keputusan yang akan diambil juga mendapat masukan yang cukup jelas dan bahkan persoalan potensial yang mungkin sudah dapat diramalkan.

Dengan munculnya kesan reformasi BUMN identik dengan penjualan asset negara kepada pihak asing. Dalam konteks tersebut, reformasi BUMN harus dikembalikan pada tujuan dasarnya, yaitu meningkatkan produktivitas dan efisiensi yang berujung pada peningkatan kualitas produk dan layanannya. Dari pengalaman selama ini, salah satu penghambat tidak berkembangnya bisnis BUMN adalah karena kuatnya intervensi pihak ketiga terhadap proses bisnis dan keputusan bisnis BUMN. Oleh karena itu penerapan prinsip governance yang baik dalam pengelolaan BUMN menjadi sesuatu yang mendesak.

Diperlukan manajemen perubahan yang bersifat mikro dan makro. Bersifat mikro karena menyangkut perilaku BUMN, yang harus ditopang oleh perubahan perilaku, struktur dan budaya organisasi, pengukuran kinerja hingga ke sistem penggajian. Sedangkan pada tingkat makro, menyangkut keberadaan Kementrian Negara BUMN sebagai Badan Kebijakan. Dalam hal ini perlu dinyatakan secara jelas fungsi perumusan kebijakan dengan fungsi pengelolaan, supaya tidak terjadi tumpang tindih yang menyebabkan ketidakefisienan dan berakibat pada rendahnya daya saing BUMN. Dengan berbagai upaya yang telah disebutkan peranan BUMN sebagai motor ekonomi nasional akan dapat ditingkatkan dengan mencontoh proses BBC.

3. Berikan penjelasan, pada saat apa seorang manajer menggunakan “gaya manajemen khas” nya dan pada saat apa seorang manajer menggunakan pendekatan teknis untuk menyelesaikan masalah dalam organisasi!

4. Berikan penjelasan bagaimana struktur sosial sebuah masyarakat atau Negara bisa mempengaruhi sebuah pengelolaan organisasi bisnis!

5. Berikan penjelasan tentang manajemen perubahan BUMN di Indonesia dari manajemen terpusat menjadi pola manajemen berbasis daya saing!

Ingin dibuatkan seperti ini??
Butuh versi lengkap??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no wa 082138054433