TATALAKSANA PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL

PENDAHULUAN

Perdarahan uterus abnormal (PUA) merupakan masalah umum wanita di usia reproduksi. PUA dapat disertai dengan rasa sakit dan ketidaknyamanan, menyebabkan rasa malu sosial yang signifikan, dan memiliki efek besar pada kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan. Perdarahan uterus abnormal (Abnormal Uterine Bleeding/AUB) merupakan kondisi yang menyebabkan perdarahan vagina ketika tidak sedang menstruasi atau haid. Perdarahan uterus abnormal dan sub kelompoknya, perdarahan menstruasi yang berat (Heavy Menstrual Bleeding/HMB) adalah kondisi umum yang mempengaruhi 14-25% wanita usia reproduktif.1 Pada populasi umum, perdarahan uterus abnormal diperkirakan mempengaruhi 11 hingga 13 persen wanita usia reproduksi pada waktu tertentu. Prevalensi ini meningkat seiring bertambahnya usia, mencapai 24 persen pada mereka yang berusia 36 hingga 40 tahun.2

Wanita paling sering menggunakan layanan ginekologi karena perdarahan uterus abnormal. Untuk wanita dengan uterine fibroid, kehidupan sehari-hari sering terganggu dan fibroid tetap menjadi indikasi utama dalam histerektomi.3 Perdarahan uterus abnormal merupakan alasan paling umum keempat untuk rujukan ke layanan ginekologi Inggris.4 Sebuah audit nasional baru-baru ini di Inggris dan Wales (audit HMB RCOG) melaporkan bahwa pada rujukan pasca 1 tahun, hanya sepertiga wanita (termasuk yang ditangani dengan operasi) yang puas (atau lebih baik) pada prospek gejala menstruasi saat ini, seperti yang dialami saat ini, untuk 5 tahun ke depan.5

TINJAUAN PUSTAKA

EPIDEMIOLOGI & NOMENKLATUR

Perdarahan uterus abnormal dilaporkan terjadi pada 9 hingga 14% wanita antara menarche dan menopause.1 Istilah deskriptif yang telah digunakan untuk mengkarakterisasi pola PUA termasuk menorrhagia, metrorrhagia, polymenorrhea, perdarahan uterus disfungsional dan perdarahan menstruasi yang berat. Untuk menstandardisasi nomenklatur PUA, sistem baru yang dikenal dengan akronim PLAM-COEIN (Polyp; Adenomyosis; Leiomyoma; Malignancy and Hyperplasia; Coagulopathy; Ovulatory Disorders; Endometrial factors; Iatrogenic; and Not classified) diperkenalkan pada tahun 2011 oleh Federasi Internasional Ginekologi dan Obstetri (FIGO). Namun, istilah amenore, yang berarti tidak adanya perdarahan menstruasi selama periode referensi 6 bulan, dipertahankan. Sistem PALM-COEIN berbasis etio-patogenesis, dengan PALM menggambarkan penyebab struktural dan COEIN menurunkan penyebab non-struktural PUA. Selanjutnya, nomenklatur FIGO merangkum parameter untuk karakterisasi batas normal dan abnormal menstruasi. Oleh karena itu, sistem nomenklatur FIGO akan memungkinkan standarisasi dan keseragaman saat melakukan penelitian di masa depan dan dapat memperbaiki masalah ketidakkonsistenan dalam tatalaksana PUA.6

ANATOMI FISIOLOGI

Perdarahan uterus abnormal (Abnormal Uterine Bleeding/AUB) terjadi ketika frekuensi atau kuantitas perdarahan uterus wanita mengalami bercak atau perdarahan di antara periode menstruasinya. Penyebab paling umum perdarahan uterus abnormal yaitu kelainan struktural sistem reproduksi dan gangguan ovulasi. Wanita pasca menopause harus mencari penanganan segera dari dokter ketika terjadi pendarahan karena penyebab perdarahan tersebut berbeda dari wanita usia reproduktif.

PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL

Perdarahan uterus abnormal (Abnormal Uterine Bleeding/AUB) didefinisikan kembali oleh Fédération International de Gynécologie et d’Obstétrique (FIGO) pada tahun 2009 oleh FIGO Menstrual Disorders Group (FMDG).8-9 Hal tersebut dilakukan untuk menstandardisasi definisi, nomenklatur dan kategori yang mendasari etiologi. Diharapkan hal tersebut akan memfasilitasi kemudahan penyelidikan dan perbandingan populasi pasien yang sama dan dengan demikian membantu penelitian dan meningkatkan perawatan berbasis bukti. Hal tersebut juga akan menjadi alat praktis untuk menilai etiologi yang berkontribusi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Fraser I.S., Langham S., Uhl-Hochgraeber K. Health-related quality of life and economic burden of abnormal uterine bleeding. Expert Rev Obstet Gynecol. 2009;4:179–189.
  2. Marret H, Fauconnier A, Chabbert-Buffet N, et al. Clinical practice guidelines on menorrhagia: management of abnormal uterine bleeding before menopause. Eur J Obstet Gynecol Reprod Bio. 2010 Oct;152(2):133-7. PMID 20688424.
  3. Merrill R.M. Hysterectomy surveillance in the United States, 1997 through 2005. Med Sci Monit. 2008;14:CR24–31.
  4. RCOG . RCOG; London: 2012. National heavy menstrual bleeding audit second annual report.
  5. RCOG . RCOG; London: 2014. National heavy menstrual bleeding audit final report.
  6. Kriplani, Alka et al. Management of Abnormal Uterine Bleeding in Reproductive Period. Committee of Association of Obstetricians and Gynaecologists of Delhi.

“Ingin dibuatkan Referat seperti ini??
Atau ada tugas-tugas costum lainnya??
Silahkan Hubungi geraijasa.com di no 082138054433″

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *