Islam memiliki perspektif yang mendalam tentang lingkungan dan peran perempuan di dalamnya. Ajaran Al-Quran menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan dan menegaskan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki tanggung jawab yang sama dalam merawat Bumi. Perspektif ini berakar pada keyakinan bahwa semua manusia adalah bagian dari sistem ekologi yang lebih besar dan bahwa tindakan mereka dapat berdampak signifikan pada sistem ini.
Salah satu konsep utama dalam memahami hubungan antara Islam, perempuan, dan lingkungan adalah ekofeminisme, yang menggabungkan masalah ekologi dengan perspektif feminis. Ekofeminisme berpendapat bahwa ada hubungan antara eksploitasi alam dan penindasan terhadap perempuan. Ekofeminisme berpendapat bahwa kedua masalah tersebut berasal dari struktur patriarki yang mengutamakan dominasi daripada kerja sama dan kepedulian. Dalam konteks ini, peran perempuan dipandang penting bagi pelestarian lingkungan karena mereka sering menanggung beban degradasi lingkungan sekaligus menjadi pengasuh utama di komunitas mereka.
Al-Quran tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan mengenai potensi mereka untuk berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Kedua jenis kelamin didorong untuk terlibat dalam praktik berkelanjutan dan bertindak sebagai pengurus ciptaan Tuhan. Kesetaraan dalam tanggung jawab ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan sumber daya dapat menghasilkan hasil lingkungan yang lebih baik. Ketika perempuan diberi kesempatan yang sama, mereka dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan keberlanjutan dalam komunitas mereka.
Selain itu, ajaran Islam menganjurkan hubungan yang seimbang dengan alam, menekankan rasa hormat terhadap semua makhluk hidup. Al-Quran memuat banyak ayat yang mendorong orang beriman untuk merenungkan tanda-tanda alam dan mengakui tugas manusia terhadapnya. Pandangan holistik ini sejalan dengan etika lingkungan modern, yang menekankan saling ketergantungan di antara semua bentuk kehidupan.
