A. Latar belakang
Mutu lulusan merupakan salah satu aspek yang dipertimbangkan dalam memilih sekolah. Mutu lulusan adalah pemangku kepentingan atau stakeholders, terutama bagi orang tua siswa dan masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan.[1] Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2016, Standar Kompetensi Lulusan (SKL) adalah rumusan kriteria kualifikasi lulusan yang dicapai setelah menyelesaikan serangkaian program dan pendidikan di bidang sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Mutu lulusan yang unggul harus didukung oleh faktor-faktor yaitu kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi guru, sarana prasarana, dan model pembelajaran.
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas mutu sekolah [2]. Kepemimpinan kepala sekolah berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi yang kondusif.[3] Menurut Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007, Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.[4]
Salah satu tugas penting yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan di antaranya ialah merencanakan dan mengembangkan sarana prasarana yang ada di sekolah dalam menunjang proses pembelajaran.[3] Sarana dan prasarana pendidikan harus dikelola dengan baik. Sarana dan prasarana pendidikan juga merupakan salah satu unsur mutu lulusan yang memiliki peranan penting dalam proses belajar mengajar, fasilitas pendidikan merupakan hal yang tidak boleh diabaikan. Prasarana pendidikan juga digunakan untuk memudahkan pemahaman siswa terhadap materi diakhiri dengan penggunaan sarana prasarana pendidikan yang tepat agar program kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif dan efisien. Dengan adanya sarana dan prasarana pendidikan, kegiatan belajar mengajar akan lebih bermakna dan berkualitas serta menyenangkan.
Faktor lain yang mempengaruhi mutu lulusan siswa adalah model pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, model pembelajaran menjadi salah satu komponen penting yang dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran.[5] Model pembelajaran adalah suatu pola atau perencanaan yang di rancang untuk menciptakan pembelajaran di kelas secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan belajar.[6] Model pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang oleh guru untuk dilakukan siswa dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.[7] Proses pengembangan model pembelajaran yang dilakukan guru sangat berperan penting dan saling berkaitan untuk mengembangkan aspek perkembangan anak terutama di kelompok pembelajaran awal. [8] Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bertanggung jawab untuk menghasilkan tenaga kerja terampil yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan masyarakat sebagai dampak dinamika ekonomi internasional dengan mendukung bonus demografi Indonesia. SMK dapat menjadi senjata ampuh dalam meningkatkan partisipasi dan produktivitas tenaga kerja dengan memanfaatkan proses pendidikan. Namun, data empiris dan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa lulusan sekolah kejuruan di Indonesia menghadapi tingginya pengangguran dan perbedaan pendapatan. Kualitas lulusan sekolah kejuruan memainkan peran penting dalam menentukan tahun-tahun pendidikan para lulusan dan secara tidak langsung berdampak pada hasil pasar tenaga kerja
Rumusan permasalahan:
- Apakah kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi guru, sarana prasarana, dan model pembelajaran berpengaruh secara simultan atau bersama-sama terhadap mutu lulusan siswa di SMK Muhammadiyah Kabupaten ?
- Apakah kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi guru, sarana prasarana, dan model pembelajaran berpengaruh secara parsial atau satu persatu terhadap mutu lulusan siswa di SMK Muhammadiyah Kabupaten ?
- Variabel manakah yang paling dominan berpengaruh terhadap terhadap mutu lulusan siswa di SMK Muhammadiyah Kabupaten ?
Pendekatan pemecahan masalah:
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bertanggung jawab untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil, namun mutu lulusan siswa di SMK Muhammadiyah di Kabupaten belum bisa terserap dengan baik oleh dunia usaha dan industri. Mutu lulusan siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor: kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi guru, sarana prasarana dan model pembelajaran. Pendekatan penguatan mutu lulusan berbasis Total Quality Management (TQM). Melalui pendekatan TQM sebagai pendekatan manajemen sebagai kebijakan pendidikan tinggi diharapkan stretegis mampu mengatasi permasalahan yang ada dengan mengintegrasikan TQM ke dalam paradigma pendidikan tinggi di Indonesia. Pendekatan TQM memberikan manfaat untuk melakukan perbaikan secara terus menerus sehingga mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi sebagai respon terhadap perubahan faktor eksternal dan menjamin keberhasilan pendidikan tinggi dalam operasionalnya di lingkungan persaingan yang semakin kompetitif
